
Ruang tengah kediaman Barra dan Queen sore ini terlihat cukup ramai, dimana keluarga pria itu berkumpul setelah hampir dua minggu tidak berkunjung.
"Maafkan kami kakak ipar, Barri terlalu sibuk jadi kami beru punya waktu untuk mengucapkan selamat pada mu sekarang" Ujar Bella dengan nada menyesal nya.
Wanita itu pun memeluk Queen, sang kakak ipar yang bahkan usia nya tiga tahun lebih muda dari nya.
Queen terkekeh pelan dan mengangguk samar. "Tidak apa, seharusnya aku yang berterima kasih karena kalian selalu meluangkan waktu untuk berkunjung ke sini, termasuk Daddy" Sahut tak enak Queen.
Seharusnya Barra dan Queen lah yang mengunjungi pria paruh baya yang berstatus sebagai Ayah mertua nya itu di kediaman nya.
Tetapi hal itu belum juga terjadi, yang ada Ayah mertua nya dan adik dari suami nya lah yang selalu berkunjung ke sini.
"Tidak masalah Queen, Daddy mengerti sifat anak itu" Jawab Anton dengan mata yang melirik Barra. "Jika bukan Daddy yang ke sini, maka Daddy tidak akan bertemu kalian" Lanjut nya dengan nada menyindir.
"Ck, aku akan ke rumah Daddy jika Daddy sedang sekarat" Sahut ketus Barra.
"Sayang!" Sentak marah Queen menatap tajam Barra seraya mengurai pelukan nya dengan Bella.
Begitu pun dengan Anton yang melotot tidak senang mendengar ucapan putra sulung nya.
"Jangan bicara seperti itu kak, yang kita punya sekarang hanya Daddy. Walaupun pria tua ini terlalu berisik"
"Hei!" Dengus tak senang Anton. "Bisa-bisa nya kalian menistakan Daddy kalian sendiri!"
"Hahaha tenang lah Dad, kami hanya bercanda. Bukan begitu kak?" Urai Barri memecah kekesalan Anton
"Tidak" Sahut singkat Barra.
"Kamu tuh--"
"Astaga sudah Dad, kita datang ke sini untuk merayakan kehamilan Queen. Bukan untuk bertengkar" Sela Bella.
Pada akhirnya pria paruh baya itu hanya bisa mendengus tidak senang, tidak lagi mengeluarkan suara nya.
"Oh iya bagaimana dengan kuliah mu, Queen?" Tanya Bella yang memulai topik pembicaraan.
"Sidang akhir sudah selesai dan aku hanya tinggal menunggu wisuda minggu depan"
"Wow,, benar-benar menakjubkan. Aku tidak mendengar kesulitan sedikit pun dari mu bahkan di minggu-minggu terakhir sidang skripsi mu" Puji Barri yang mendapat anggukan dari istri nya.
"Benar, dulu saat aku akan melakukan sidang akhir. Seluruh keluarga ku akan bosan mendengar keluhan ku" Timpal Bella.
"Aku--"
"Istri ku perempuan yang pintar dan mandiri, jadi tidak seperti mu" Sahut pedas Barra dengan tatapan tajam ke arah Barri.
"Kalau nyahut pedas kayak gini, lebih baik kamu diam aja deh" Kesal Queen mencubit lengan Barra.
Namun Barra hanya merespon dengan senyuman malas nya.
"Permisi.." Sapa Bi Dazy yang baru saja memasuki ruang tengah itu.
"Kenapa, Bu?" Tanya Queen lembut.
"Pelayan di dapur bilang, makanan nya telah siap"
Queen mengangguk lalu tersenyum. "Terima kasih Bu, nanti makan bersama kita ya?"
Bi Dazy yang semula menjaga pandangan nya karena mau bagaimana pun saat ini ia berhadapan dengan keluarga besar Adam's pun seketika menatap Queen.
"Tidak usah, ibu--"
"Turuti saja Bi, ini kemauan menantu ku lho" Potong Anton yang membuat Bi Dazy tidak bisa berkutik.
"Baiklah, tuan" Ujar nya. "Kalau gitu saya izin untuk memanggil anak-anak terlebih dahulu"
"Silahkan dan terima kasih Bi" Sahut Barri.
Bi Dazy mengangguk sekilas sebelum akhirnya ia melangkah meninggalkan ruangan itu.
"Baiklah ayo kita makan sebelum lanjut mengobrol nya" Ajak Queen yang sudah berdiri.
"Perasaan jika datang ke sini, kenapa kita selalu di sodorkan makanan" Gumam Barri.
"Lalu kau mau di sodorkan batu dengan kayu?" Celetuk Barra yang sudah merangkul posesif pinggang Queen.
"Huuft.." Hela berat Queen yang lelah menegur Barra.
"Sudah-sudah ayo, jangan sampai mulut pedas kakak mu itu membuat darah Queen naik" Ajak Anton menarik lengan Barri dan Bella.
Ketiga manusia itu langsung menyelonong ke arah meja makan dimana memang hari ini sebagai bentuk perayaan kehamilan Queen.
"Honey--"
"Jangan banyak bicara, aku sedang kesal!" Potong ketus Queen melepaskan rangkulan Barra dan langsung berjalan begitu saja.
"Hei! Jalan nya perlahan!" Pekik kaget Barra.
...****************...