
Hari ini tepat hari dimana Queen akan berangkat ke USA. Setelah dua hari menikmati manisnya rumah tangga bersama Queen kini rasanya Barra tak ingin berpisah dengan wanita mungil itu.
“Jangan nakal di sana!”
“Jangan dekat-dekat dengan pria lain dan jangan berteman dengan pria mana pun!”
“Ingat, kamu cuma milik aku dan aku pun cuma milik kamu”
Seperti itu lah suara Barra yang terus mengoceh pada Queen yang berada di dalam pelukan nya.
“Astaga iya kak iya, sudah ke berapa kali nya kakak bicara seperti ini terus heuh?” Dengus gemas Queen dengan kepala mendongan menatap sang suami.
Cup!
Cup!
Cup!
Barra melayangkan kecupan hangat nya pada kening dan bibir wanita itu tanpa memperdulikan bahwa sekarang mereka berada di terminal pesawat dimana di samping mereka ada pesawat yang akan membawa Queen ke USA.
“Kakak juga di sini jangan genit ya” Cicit pelan Queen.
Barra terkekeh pelan lalu mengurai pelukan nya dan memegang kedua bahu wanita mungil itu.
“Aku tidak akan genit sayang, walaupun nanti ada wanita yang menggoda ku akan aku pastikan bahwa dia tidak akan hidup lagi” Tutur Barra dengan wajah serius dan senyuman tipis nya.
Queen yang mendengar itu pun langsung tertawa dan memukul pelan lengan Barra. “Baiklah-baiklah bunuh saja mereka hahaha” Sahut Queen menganggap ucapan Barra sebagai candaan.
Barra mengangguk dan kembali memeluk Queen. Kali ini pelukan itu terasa begitu hangat dan mengisyaratkan sebuah ketidakrelaan yang begitu mendalam.
“Aku ingin mengantar mu, ingin menemai mu. Tapi keadaan memaksa ku untuk tetap di sini” Gumam Barra yang tentu nya dapat di dengar oleh Queen.
Queen memeluk begitu erat tubuh kekar Barra lalu mengusap punggung pria itu. “Queen tidak tau apa yang terjadi di kehidupan kakak, tapi sebisa mungkin Queen akan berusaha menjadi yang terbaik”
Mendengar penuturan lembut dan penuh keyakinan dari Queen, seketika saja air mata yang sedari awal Barra tahan kini mulai menetes. Namun secepat mungkin Barra menghapus nya.
“Baiklah, aku percaya pada mu” Barra mengurai pelukan Queen dan sekali lagi pria itu mengecupi seluruh wajah Queen.
“Hubungi aku jika kamu sudah sampai, oke?”
Queen mengangguk dengan senyum manis nya. Perlahan tangan Barra yang awalnya menahan tubuh Queen kini mulai terlepas.
“Sana masuk, pesawat nya akan segera berangkat”
Tubuh Queen yang awalnya sudah menjauh, kini langsung mendekat bahkan kedua tangan wanita itu menarik tengkuk Barra lalu mendaratkan kecupan di bibir Barra.
“Sampai jumpa kak, jaga diri baik-baik sampai Queen pulang ya” Teriak Queen seraya berlari ke arah garbarata pesawat.
“Astaga Queen jangan lari!” Pekik kaget Barra setelag beberapa saat terdiam karena perlakuan Queen.
Seperti nya Queen mendengar pekikan Barra, bukti nya kini wanita itu menghentikan lari nya dan berjalan dengan langkah cepat.
“Sampai jumpa juga, matahari ku” Gumam Barra setelah melihat pintu pesawat tersebut telah tertutup rapat.
Berdiri begitu lama menatap pesawat yang di tumpangi oleh Queen sekaligus pesawat pribadi milik nya, hingga lepas landas. Kini air mata Barra pun kembali menetes saat pesawat itu sudah tidak terlihat.
“Cepat sembuh matahari ku, aku akan mencari cari untuk menemui mu di sana tanpa di ketahui oleh para manusia rakus dan jahat itu”
Detik ini juga, kebencian Barra terhadap orang-orang itu semakin bertambah. Seharusnya saat ini ia berada di dalam pesawat itu, menemani Queen hingga sampai ke apartemen nya di USA.
.
.
“Tuan” Sapa Ric saat melihat sang bos yang baru keluar dari lift khusus itu.
“Bagaimana perkembangan nya?” Tanya Barra dengan nada datar dan terus melangkah ke dalam ruangan milik nya.
“Sejauh ini mereka masih bungkam, tetapi seperti nya mereka merencanakan hal lain”
Tangan Barra terkepal kuat dan gigi nya saling beradu hingga terdengar di telinga Ric seiringi emosi serta amarah nya.
Begitu pintu tertutup Barra langsung berbalik menatap Ric dengan raut menyeramkan nya. “Kapan aku bisa membunuh para manusia sialan itu?”
“Tidak untuk sekarang tuan, kekuatan mereka sangat besar karena mereka saling bersatu. Saya harus menghancurkan persatuan mereka hingga terpecah belah baru setelah itu saya serahkan sisa nya pada tuan” Jelas Ric dengan tatapan tak kalah serius nya.
“Berapa lama lagi? Berapa lama lagi hah?!”
“Saya akan berusaha semaksimal mungkin, terlebih lagi mereka mendapat dukungan dari nyonya besar”
“Brengsek!”
Prang! Prang!
Barra mengacak-acak meja kerjanya bahkan menendang apapun yang berada di dekat nya.
“Aku muak, benar-benar muak dengan semua ini. Jika saja aku tidak bertemu Queen saat itu, sudah aku pastikan aku tidak akan merasakan kemunafikan ini!”
Ric menunduk tak berani menatap Barra, bukan karena takut tetapi pria itu tidak kuat melihat wajah Barra mengingat semua kepedihan yang Barra rasakan.
“Kapan aku bahagia Ric, kapan?!” Tanya Barra mengguncang tubuh Ric dengan mata memerah.
Kepala Ric yang awalnya menunduk pun kini terangkat menatap wajah menyedihkan Barra, kemudian pria itu menepuk-nepuk pelan lengan Barra dengan tatapan penuh keyakinan.
“Kamu akan segera bahagia, Bar. Ingat matahari mu sudah bersama mu sekarang dan mereka.. Mereka akan hancur!”
Ric yang notabe nya adalah sahabat Barra sejak Sekolah Menengah Atas tentu nya ia tau tekanan apa yang Barra dapat dan Barra rasakan selama ini.
Barra terduduk di sofa sebelah nya, kemudian kedua tangan nya menahan kepalanya yang menunduk. Ric yakin pria itu menangis.
“Matahari ku sudah pergi Ric, hidup aku kembali gelap. Gelap tanpa adanya cahaya kebahagiaan hikss..” Isak lemah Barra yang tak sanggup lagi menjadi sosok pria tegar.
“Queen tidak pergi Bar, Queen masih berada di sisi mu. Hanya saja saat ini dia sedang mengobati diri nya agar bisa membahagiakan mu”
“Aku tidak butuh di bahagiakan, aku yang akan membahagiakan nya”
“Iya aku tau, hanya saja ini semua demi kebaikan Queen 'bukan?”
Barra terdiam dan menarik napas nya begitu dalam. Ia harus bisa mengendalikan emosi nya agar tidak terlihat lemah ataupun mudah di tekan.
“Ya benar, Queen berada di sisiku hanya jarak nya saja sangat jauh dari ku” Ucap tegas Barra kembali mengangkat pandangan nya.
Ric tersenyum tipis lalu menepuk-nepuk pelan bahu pria dihadapan nya. “Sekarang ayo kita fokus pada misi dan pekerjaan kita. Ingat, satu pun dari kita jangan sampai ada yang lengah!”
Barra mengangguk, semangat nya kiat memulih mendengar perkataan sang sahabat yang selalu berada di sisi nya. Barra tidak tau bagaimana dirinya sekarang jika Ric memilih untuk meneruskan perusahaan Ayah nya.
...****************...