Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Berbeda



"Tuan.." Ric menunduk hormat saat melihat sang bos yang baru saja keluar dari lift khusus milik nya.


"Hmm" Balas Barra dengan gumaman nya, pria itu berjalan ke arah ruangan nya di iringi dengan Ric di belakang nya.


"Bagaimana apa semua nya sudah selesai, Ric?" Tanya Barra setelah memasuki ruangan nya.


"Tinggal beberapa langkah lagi tuan, setelah itu semua nya aka selesai"


Barra mengangguk pelan, pria itu duduk di kursi kebesaran nya seraya memijat pelipis nya. Sudah dua hari berlalu namun tubuh Barra belum juga membaik.


"Lebih baik tuan istirahat saja, biar saya yang akan menghandle semua nya"


"Tidak bisa Ric, aku harus menyelesaikan secepat nya"


"Tapi kondisi anda--"


"Aku hanya kelelahan, tidak ada penyakit lain"


Ric bungkam dan mengangguk pelan, Barra memang keras kepala jadi apapun yang sudah ia putuskan akan tetap begitu.


Terlebih lagi saat ini kedua nya tengah berusaha menjatuhkan tiga orang pemegang saham yang melalukan kecurangan dari keseluruhan yang berjumlah lima belas orang.


Tentu nya mereka melakukan nya tanpa jejak atau pun terendus oleh orang-orang suruhan Arcy-sang Mommy dan saham-saham tersebut pun jatuh ke tangan Barra.


"Bagaimana dengan mereka?" Tanya Barra begitu membuka lembar berkas yang telah tersedia di hadapan nya.


"Mereka terlihat semakin berhati-hati, terlebih lagi saat mengetahui rekan-rekan nya menghilang setelah saham yang mereka pegang jatuh di tangan anda"


Sedikit senyum miring tersungging di bibir Barra, rasa pusing nya sedikit berkurang mendengar bahwa para manusia rakus itu mulai takut.


"Tetapi saya sudah memiliki beberapa bukti yang akan membuat semua aset kekayaan mereka di sita dan saham itu jatuh ke tangan anda" Lanjut Ric yang langsung mendapat tatapan tidak percaya dari Barra.


"Serius?" Barra tak percaya, Ric benar-benar diluar ekspresi Barra.


Mengangguk pelan lalu Ric menyerahkan selembar kertas yang sedari tadi ia pegang. Dengan cepat Barra membaca nya.


"Menakjubkan!" Seru Barra setelah beberapa saat, wajah nya terlihat lebih bersemangat dan lidah pria itu bermain di salam mulut nya hingga pipi nya menonjol.


"Cepat lakukan ini Ric, aku tidak sabar melihat kehancuran mereka dan aku tidak sabar melihat wanita tua itu datang kepada ku!"


"Baik tuan" Ric menunduk dan hendak berbalik, tentu nya pria itu akan melaksanakan tugas terakhirnya untuk membasmi para pengacau di perusahaan Barra.


"Jangan lupa dengan tugas yang satu nya, aku ingin agar cepat selesai" Ujar Barra sebelum Ric membuka pintu ruangan nya.


"Iya, tuan"


.


.


.


"Bagaimana, apa ujian hari ini lancar?" Tanya Barra menatap layar handphone nya dimana ada wajah sang istri yang sangat-sangat ia rindukan.


"Lancar kak"


"Syukur lah" Barra tersenyum, membingkai wajah Queen di layar handphone nya.


"Kakak sudah minum obat?"


Barra menggeleng sebagai jawaban.


"Lho kenapa belum?"


"Aku menunggu mu"


Terlihat Queen di sebrang sana kebingungan menatap raut wajah riang Barra. Sampai akhirnya Barra meletakkan handphone nya dan menghilang dari pandangan Queen.


"Kak?"


"Kakak masih di sana 'kan?"


"Kak?"


Queen terus memanggil-manggil Barra saat wajah pria itu tak kunjung terlihat, yang nampak hanya langit-langit kamar pria itu.


"Kak, jangan buat Queen khawatir dong!!" Seru Queen yang terdengar mulai panik.


"Aku datang" Barra mengambil handphone nya dan kembali mengarahkan pada wajah nya setelah beberapa saat menghilang.


"Kakak dari mana aja sih?"


"Mengambil ini" Barra Menundukkan segelas air dan obat yang ada di tangan nya.


Seketika terdengar helaan napas lega Queen di sebrang sana membuat Barra tersenyum penuh kebahagiaan.


"Tentu!" Sahut Queen tanpa ragu. "Kakak lagi sakit, aku jadi tidak tenang" Jujur nya.


Barra benar-benar dibuat melayang dengan ucapan Queen yang semakin berani menujukkan perhatian nya.


Sampai akhirnya pria itu mulai meminum beberapa obat nya tentu dengan mata yang menatap wajah Queen.


"Sudah" Seru Barra.


"Kenapa harus nungguin aku sih?"


"Obat nya pahit, aku tidak suka" Jelas Barra seraya merapihlan bantal nya dan mulai berbaring dengan posisi menyamping.


"Lalu apa hubungan nya dengan ku?"


"Melihat wajah mu membuat rasa obat itu berubah, apalagi saat melihat kamu tersenyum rasanya seperti aku baru saja meminum madu"


"Kak..!!" Geram gemas Queen yang terlihat memerah mendengar perkataan Barra.


Barra terkekeh pelan. "Ayo berikan senyum manis mu" Pinta nya.


"Huh! Tidak mau!"


"Kenapa?"


Terlihat Queen mengerucutkan bibir nya, hingga pada akhirnya wanita itu tersenyum. Menuruti keinginan sang suami.


Barra menatap lekat wajah Queen yang terhiasi senyum manis nya. "Kamu semakin cantik, sayang"


"Aku tau itu"


Barra kembali terkekeh, bahkan mata pria itu terpejam akibat kekehan nya. "Kamu semakin percaya diri, hmm"


"Aku begini karena keinginan kakak dan Ibu. Kalian selalu mendorong ku untuk percaya diri"


"Bagus lah jika begitu, aku semakin mencintai mu" Sahut gemas Barra. "Jangan dekat-dekat dengan pria lain" Lanjut nya dengan nada yang seketika berubah.


Queen terdiam, Barra menatap ekspresi wanita itu yang terlihat berbeda selama beberapa hari ini.


Walaupun Queen bersikap manis pada nya saat melakukan panggilan video seperti ini, tetapi mata Barra tidak bisa di bohongi. Jelas ia tau ada yang berbeda dari Queen.


"Apa ada yang membuat istri ku nyaman di sana?" Tanya Barra menatap lekat wajah Queen.


"Apaan sih kak, gak ada ya!"


Barra tersenyum tetapi bukan senyuman seperti sebelum nya. Entah lah ekspresi Barra saat ini sangat sulit diartikan.


"Apa pria itu mencuci otak mu? Apa dia bercerita sesuatu?"


"Apa? Kak Barra sedang berbicara apa?"


"Jangan pura-pura tidak mengerti sayang, aku tau ada yang mengganjal di hati mu sejak beberapa hari lalu"


Queen kembali terdiam selama beberapa saat. "Tentu ada yang mengganjal di hati ku karena mengetahui kakak sakit"


"Astaga sayang, aku benar-benar ingin menghukum mu di bawah ku" Geram rendah Barra dengan bada datar tanpa ekspresi nya.


Selama beberapa saat kedua nya saling diam, Barra menatap wajah Queen dengan tatapan sulit diartikan nya dan Queen terlihat mengalihkan mata nya gusar.


"Mike, Jacob, Ricard, dan Max. Kak Barra yang melakukan nya?" Tanya nya pada akhirnya.


Terdiam beberapa saat hingga akhirnya Barra mengangguk. "Benar bukan? Pria itu bercerita pada mu?"


"Kenapa?"


Barra mengangkat sebelah alis nya seakan bertanya.


"Kenapa kakak membunuh ketiga pria itu, dan melukai Max terus-menerus?"


"Bukan aku yang membunuh atau pun melukai mereka, tapi para bawahan ku" Sahut Barra tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Tapi itu semua atas perintah kakak!"


"Jangan salah kan aku, sayang. Tetapi salahkan mereka yang mencoba mendekati mu" Tekan Barra.


"Mereka hanya teman ku, dan kami dekat demi tugas kelompok dari dosen kak!"


Barra berdecih sinis mendengar bentakan Queen. Tidak ada lagi tatapan kehangatan dari pria itu ataupun senyum manis nya.


"Lalu bagaimana dengan pria yang kamu obati setiap dia terluka, kalian selalu bersama saat di kampus dan jangan lupa. Kamu sering tertawa bersama nya!" Tekan Barra di akhir kalimat.


...****************...