
Hari berganti minggu, Minggu berganti bulan, Bulan berganti tahun. Tanpa terasa kini usia pernikahan Queen dan Barra telah menginjak dua setengah tahun.
Dimana sampai saat ini kedua nya belum juga di percaya untuk di beri momongan atau buah hati yang akan mengisi hari-hari mereka.
"Tidak apa. Kita akan berusaha lagi, honey" Bisik lembut Barra menyingkirkan test pack dari tangan Queen.
Test pack yang lagi-lagi tidak memunculkan dua garis merah itu. Tatapan penuh harap Queen lagi-lagi harus pupus.
Rasa mual di pagi hari nya selalu membuat nya salah saham, tetapi salahkan asam lambung nya yang sering naik.
Queen berbalik dan memeluk tubuh Barra. Ia saja merasa kecewa pada diri nya apa lagi Barra yang sejak awal menantikan keturunan dari nya.
"Jangan pikir kan apapun, rekan bisnis ku saja setelah lima tahun menikah baru di beri sosok malaikat kecil itu. Jadi aku tidak masalah selagi kamu di sisi ku" Ucap Barra menenangkan Queen yang seperti nya mulai terisak.
"Ayo lah jangan menangis, lagi pula satu tahun itu kita berpisah dan anggap saja kita baru--"
Queen menggeleng. "Sebelum ke USA kita melakukan nya hikss. " Sela nya terisak.
Memang benar, Barra tentu tidak melupakan nya dan tentu ia ingat pernah mengeluarkan nya di dalam karena tidak tahan.
"Sudah lah honey, jangan mengkhawatirkan apapun. Ingat kamu dan aku sama-sama sehat atau lebih tepat nya tidak ada yang memiliki masalah keturunan"
"A-aku takut dokter salah periksa hikss.."
"Astaga kita sudah memeriksa nya lebih dari tiga kali dan itu semua hasil nya sama"
Queen tak lagi menjawab, yang ada hanya isak tangis nya. Ia sudah sangat yakin bisa menjaga buah hati nya dan mengurus nya dengan benar.
Tetapi kenapa malaikat kecil itu belum juga datang dalam rahim nya? Sedangkan di luar sana banyak kasus aborsi karena seorang wanita hamil tanpa pertanggung jawaban dari pria yang menghamili nya.
"Stt,, sudah ya? Bentar lagi Daddy akan datang bersama Barri dan istri nya. Aku tidak mau mereka berfikir bahwa aku baru saja menyakiti mu"
Mendengar perkataan sang suami, sontak kepala Queen langsung mendongak dengan wajah berantakan karena tangis nya.
Barra yang melihat wajah Queen lantas merapihkan anak rambut sang istri yang ikut basah katena tangis nya ke belakang telinga, lalu menyeka air mata nya.
"Mereka mau ke sini?" Tanya Queen sesekali menahan isak kan nya.
Barra mengangguk dengan senyum hangat nya.
"Berarti Al dan El akan ke sini juga?" Lanjut nya berbinar.
Barra kembali mengangguk.
Seketika Queen memekik bahagia dan memeluk leher Barra begitu erat sampai akhirnya wanita itu juga yang melepaskan pelukan nya.
"Aku mau siapin cake kesukaan Al dan El dulu" Ujar nya antusias dan berniat keluar dari kamar sebelum tangan Barra melingkar di perut nya dan menahan pergerakan nya.
"Cuci muka dulu honey, nanti para pelayan melihat wajah kusut mu dan mengadu pada Al dan El bagaimana hum?"
Dengan cepat pula Queen berlari ke arah kamar mandi dan hal itu pun berhasil membuat Barra memekik kaget.
"Jangan lari Queen nanti jatuh!" Pekik nya kaget dan buru-buru mengejar Queen.
Menghela napas nya lega saat melihat sang istri tengah menggosok wajah nya dengan gumpalan busa pembersih wajah itu dengan begitu cepat.
Namun kaki Barra terus melangkah dan mendekati nya lalu menahan pergerakan tangan Queen.
"Say--"
"Perlahan honey, kulit wajah mu bisa terluka"
"Ish aku harus cepat-cepat sebelum si kembar datang"
"Cuci muka tidak memakan waktu setengah jam honey, jadi perlahan oke?"
Terdengar dengusan kesal Queen sebelum akhirnya wanita itu mengangguk. "Baik baginda raja" Jawab nya penuh drama.
Barra terkekeh pelan dan mengecup kepala Queen. "Lanjutkan"
"Gimana aku mau lanjutin kalau tangan aku masih kamu pegang huh?" Dengus sebal Queen.
Barra yang tersadar pun langsung melepaskan tangan Queen pada genggaman nya bersamaan dengan tawa nya yang pecah.
"Hahaha maaf honey, aku lupa"
"Heuh,, faktor usia" Celetuk Queen kembali meratakan busa di wajah nya dengan perlahan tanpa melihat raut tidak senang Barra di belakang nya.
"Apa hum? Faktor usia?" Ujar Barra dengan nada berat dan mata yang menatap tajam Queen lewat kaca di depan mereka.
Seketika gerakan Queen terhenti, mata nya mengintip ekspresi Barra yang berhasil membuat diri nya meneguk salivanya kasar.
"Jadi aku tua? Begitu?"
"Aku tidak bilang seperti itu, tapi kalo kamu ngaku sendiri ya.. Emm.."
"Honey!!" Erang kesal Barra.
Sedetik kemudian pria itu langsung menggelitik pinggang dan perut Queen membuat wanita itu terpingkal dengan tawa nya.
"Hahaa maaf hahaha sudah cukup geli hahaha" Amuk nya di iringi tawa, bahkan busa di wajah nya sudah berpindah mengenai baju Barra.
"Jangan sembarangan ya! Bahkan aku bisa membuat mu pingsan di kasur!"
...****************...