Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Part 55



"Sayang.. Ayo bangun sudah siang"


Samar-samar terdengar di telinga Barra suara lembut penuh kehangatan itu dan dapat ia rasakan juga usapan telapak tangan halus itu pada pipi nya.


"Sayang.." Panggil Queen membangunkan Barra yang entah ke berapa kali nya.


Barra berdehem pelan sabai sahutan, lalu tangan pria itu terangkat untuk memijit pelipis nya. Kepala nya terasa begitu berdenyut.


"Ayo bangun, kamu belum makan" Ujar Queen lagi.


Perlahan kelopak mata terpejam itu bukan terbuka menampilkan netra coklat yang begitu pekat dengan tatapan sayu nya.


"Honey.." Suara serak hampir tak terdengar jelas itu keluar dari sela bibir rapat Barra.


Queen tersenyum tipis. "Ayo bangun" Ulang nya lagi dan lagi.


"Jam berapa ini honey?" Tanya Barra seraya bangun dengan bantuan Queen.


"Sepuluh pagi"


"Apa?!" Pekik kaget Barra, mata nya membulat sempurna namun tidak mengurangi rasa pening di kepala nya.


"Aku sudah menelpon kak Ric untuk memundurkan semua jadwal mu di hari ini" Ucap Queen membuat Barra langsung mengalihkan tatapan pada nya.


Deg!.


Rasa nya jantung Barra seperti di tikam sesuatu kala melihat mata Queen, ah ralat. Lebih tepat nya kelopak mata istri nya yang terlihat membengkak bekas menangis dengan begitu jelas.


"Kamu kenapa?.." Tanya lirih Barra mengusap pipi chubby itu.


"Aku gapapa, memang nya kenapa?" Tanya balik Queen dengan senyum manis yang biasa ia tampilkan di depan Barra.


"Jangan membohongi ku, honey.."


Queen menggeleng dan memilih untuk bangun. "Ayo cepat bangun dan mandi, kamu belum mandi lho dari semalam"


Barra tak menghiraukan perkataan Queen, tangan nya terangkat berniat menarik Queen agar kembali duduk.


Namun kali ini Barra kalah cepat, wanita itu berbalik dengan cepat dan langsung melangkah.


"Aku mau buatkan kopi dulu, cepat sana mandi" Ujar Queen tanpa menoleh.


Barra hendak bangun dan mengejar, tetapi tubuh nya terasa seperti di ayun-ayun. Alhasil pria itu kembali duduk dengan tangan yang menopang tubuh nya ke sisi kasur.


Krrk


Tidak sengaja tangan Barra menindih sesuatu hingga terdengar suara pastik dan pecahan sesuatu di balik selimut.


Dengan penasaran Barra mencari sumber suara itu dan membongkar selimut nya hingga terlihat lah permen lolipop yang sudah hancur di dalam bungkus nya.


"Ini.."


"Siall apa yang aku bicarakan semalam!" Rutuk nya memukul kepala nya yang masih pusing.


Dan siall nya hanya itu yang dapat Barra ingat, sisa nya ia tidak tau lagi.


Dengan tangan yang memegang erat lolipop hancur itu, Barra pun mencoba bangun dengan tangan yang berpegangan pada apapun di sekitar nya.


Kamar mandi, itu adalah tujuan Barra. Ia harus menenangkan dan menyegarkan diri nya terlebih dahulu sebelum menghampiri Queen.


*


"Kenapa Barra masih bisa melihat nya hikss.."


Sedikit frustasi karena kantung mata membengkak dan lingkaran hitam di mata nya masih terlihat oleh Barra padahal sejak pagi Queen terus menutupi nya dengan make up.


Bahkan kini wanita itu tengah menambal nya dengan air mata yang terus menetes.


Queen tidak suka ini, Queen tidak mau Barra melihat nya seperti ini dan Queen tidak mau menambah beban Barra.


"Cukup honey" Ujar tiba-tiba Barra seraya menahan pergerakan tangan Queen.


Menyingkirkan make up berharga cukup menguras kantong itu hingga terjatuh ke lantai lalu Barra pun menarik tubuh Queen ke dalam pelukan erat nya.


"Maaf, maafkan aku.. Maafkan aku jika aku berbicara sesuatu yang menyakiti mu semalam, honey. Maafkan aku" Ucap Barra dengan perkataan maaf nya yang terus ia lontar kan.


Queen menggeleng dan membalas pelukan itu tak kalah erat. "Aku hikss,, aku yang seharusnya meminta maaf hikss.." Isak nya.


"Aku tidak seperti yang kamu harapkan hikss,, aku--"


"Stt.. Kehadiran mu di hidup ku saja sudah lebih dari cukup. Soal anak, bukan kah kita bisa mengasuh nya dari panti asuhan?"


Seketika Queen mendongak menatap Barra, jujur mendengar perkataan Barra tidak sedikit pun terlintas di pikiran nya untuk mengasuh seorang anak dari panti asuhan.


"Mr.Heri pernah memberiku saran untuk mengasuh seorang anak dan mungkin karena kehadiran anak itu kamu bisa cepat hamil" Lanjut Barra.


Queen pernah mendengar ini, bukan hanya mendengar ia pun pernah membaca cerita seperti ini.


Dimana seorang wanita kesulitan untuk mengandung, ada beberapa dari mereka yang mengasuh seorang anak sebagai pancingan agar janin kecil bisa tumbuh di rahim nya.


"Bagaimana? Kita mengasuh seorang anak oke?"


Queen menggeleng samar. "Itu bukan anak kandung mu, apa kata--"


"Aku tidak peduli apa kata orang, anak yang kita asuh nanti nya akan menjadi anak kita juga dan anggap saja anak itu nanti anak pertama kita"


Queen terdiam..


...****************...