
"Tuan istirahat lah sebentar, saya juga lelah" Ujar Ric dengan nada sedikit merengek.
"Berhenti merengek Ric! Dimana sikap profesional mu?!" Sahut Barra dengan nada membentak tertahan.
"Bukan seperti itu, tapi sejak pagi hingga sore ini kita istirahat hanya sekedar makan siang. Bahkan bukan hari ini saja, sejak satu minggu yang lalu pun selalu begini"
Sontak mendengar hal itu Barra pun langsung mengarahkan tatapan tajam nya pada Ric yang duduk di sebelah nya.
"Maaf bukan seperti itu maksud saya, tetapi saya benar-benar lelah. Setiap jam empat pagi saya sudah terbangun karena istri saya terus mengalami morning sickness" Jelas Ric pada akhir nya.
Istri? Ya, sejak terakhir kali Ric menitipkan Karin pada Queen. Selang seminggu kemudian mereka menikah secara tertutup karena orang tua Ric tidak menerima Karin karena status nya.
Bahkan orang tua Ric mengira bahwa janin yang ada di kandungan Karin bukan lah milik Ric dan hal itu pun mampu menimbulkan keributan.
Barra yang semula menunjukkan tatapan tajam dan marah nya seketika berubah di iringi dengan helaan napas yang berat.
"Kau tau 'bukan kalau minggu depan aku akan meninggalkan perusahaan selama tiga minggu?"
Ric mengangguk samar. "Babymoon 'kan?"
Kini bergantian Barra lah yang mengangguk. "Maka dari itu semua jadwal selama tiga minggu ke depan harus di selesaikan minggu ini. Kalau tidak kau yang akan kerepotan dan lebih lelah dari ini, Ric"
Ric terdiam, menatap tidak percaya pada Barra.
"Mau bagaimana pun kau sahabat ku, tidak tega juga aku membuat mu lebih lelah dari ini. Apa lagi harus mengurus semua nya sendiri" Lanjut Barra.
Tak bisa berkata-kata, dengan alay nya Ric pun memeluk Barra yang ada di samping nya dengan isak tangis haru nya.
"Aku benar-benar tidak menyangka hikss,, ternyata kau memperdulikan ku hikss.."
Barra memutar bola mata nya jengah, lantas mendorong tubuh Ric hingga membentur pintu mobil.
"Aww jahat sekali hikss.." Adu Ric mengusap kepala nya.
"Jangan berlebihan Ric!" Kesal Barra yang mulai kembali terfokus pada ipad di tangan nya.
Sedangkan tanpa kedua nya sadari, sedari tadi sopir yang mengemudikan mobil itu terus terkekeh dalam diam nya.
"Siapkan diri mu, sebentar lagi kita akan sampai di pertemuan selanjut nya!" Tegas Barra melemparkan tissue ke wajah Ric.
...----------------...
"Mau aku buatin cemilan? Tadi kamu makan nya dikit banget lho" Tawar Queen pada Barra yang saat ini sedang bermain bersama Marvin, sang putra.
"Ga usah, nanti kamu kelelahan"
"Mana ada aku kelelahan, yang ada kamu tuh"
Barra terkekeh pelan. Memang terlihat dengan jelas wajah lelah pria itu hingga tak nafsu untuk makan.
Pria itu tak menyahut lagi, ia sibuk beradu robot dengan Marvin hingga suara kedua nya mengisi hening nya ruang bermain itu.
"Ya ya ya.. Kok Daddy curang?!" Pekik tak terima Marvin saat melihat sang Daddy merobohkan formasi robot nya, padahal saat ini mereka tengah bermain peperangan melawan tentara robot biru milik Barra dan merah milik Marvin.
"Daddy ga curang 'ya!" Sahut Barra.
"Ga curang apa nya, masa tentara aku di robohkan?"
"Ihh Daddy, aku belum siap" Dengan tidak terima nya Marvin pun merobohkan semua robot-robot yang berada di daerah sang Daddy hingga robot terbesar yang menjabat sebagai raja pun ia roboh kan dari posisi nya.
"Hahahaha aku menang, aku menang haha" Ledek Marvin dengan tawa bahagia nya.
Melihat kecurangan sang anak, Barra pun bersedekap dada dengan tatapan tajam nya. Dan hal itu pun mampu membuat tawa Marvin terdiam dengan kepala menunduk.
"Siapa yang ngajarin jadi curang gitu?" Tanya galak Barra.
"Dad--"
"Daddy ga curang, Daddy main dengan benar dan salah kamu kenapa lengah saat Daddy akan menyerang mu?"
Kepala Marvin semakin menunduk dengan tangan yang saling memiilin satu sama lain.
"Sayang--"
Barra mengedipkan sebelah mata nya, mengode agar Queen diam. Melihat itu Queen pun langsung diam dan menyimak saja.
"Jawab Daddy!"
"Maaf Dad,, Marvin--"
"Karena kamu curang Daddy akan menghukum kamu!"
Kepala Marvin pun sontak mendongak menatap wajah galak Barra, sebelum akhirnya wajah yang tengah menahan tangis itu langsung memekik seiring dengan tawa nya yang pecah.
"Hahaha ampun Daddy hahaha.."
"Ini hukuman untuk anak yang curang!" Gemas Barra menggelitiki perut Marvin.
"Hahaha tidak-tidak haha, Marvin berjanji tidak akan curang lagi hahah.. Ini geli Dad"
Tubuh Marvin sampai meringkuk agar sang Daddy berhenti menggelitiki nya, tetapi bukan hanya perut. Tangan Barra terus bergerak menggelitiki tubuh nya.
"Sudah sayang, kasihan Marvin sampai keluar air mata tuh" Cegah Queen yang ikut tertawa melihat kedua nya.
Barra pun berhenti dan menatap Queen penuh arti. "Kamu mau juga hum?"
Queen menggeleng cepat.
Namun dengan cepat tangan Barra berubah haluan menyentuh pinggang Queen yang tentu nya langsung di tahan oleh sang pemilik tubuh.
"Ga mau, geli" Tolak Queen.
Barra tersenyum, senyum yang begitu jahil sampai pada akhirnya tangan itu bergerak menyentuh pinggang Queen lalu..
"Serang Daddy!!" Pekik Marvin yang langsung naik ke punggung Barra hingga tangan Barra terlepas dari pinggang Queen.
"Marvin.." Gemas Barra berniat kembali mengarahkan tangan nya pada tubuh Marvin di belakang, tetapi gerakan nya terhenti kala Queen menggelitiki perut nya.
"Ayo serang Daddy!!" Timpal Queen.
...****************...