Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Terancam



"Baru hari pertama, sudah ada yang berani mengusik istri ku?" Ulang Barra dengan nada dingin nya, mata nya menatap datar ke arah Ric yang baru saja melaporkan hal tersebut.


"Bukan mengusik tuan, hanya saja sikap para wanita itu yang terlampau sombong pada nona Queen"


"Sama saja!" Sentak tak terima Barra. "Cari data-data wanita sialan itu!" Titah nya.


"Sudah tuan" Ric mendekati meja kerja Barra lalu menyodorkan beberapa map.


Tentu nya Ric sudah mencari lebih dulu sebelum Barra menyuruh nya, terlebih lagi jika informasi yang ia cari akan memakan waktu yang lama, bisa-bisa Barra terus mengamuk.


"Sialan, mereka memandang rendah istri ku sedangkan mereka hanya anak seorang pengusaha kecil!" Geram Barra yang terus mendesis kasar.


"Apa yang harus saya lakukan tuan?"


Sesaat Barra menunjukkan seringai tipis nya. "Beri mereka pelajaran!"


"Baik tuan" Sahur Ric sebelum akhirnya pria itu berlalu meninggalkan ruangan Barra.


Barra mulai mengutak-atik handphone nya hingga beberapa saat kemudian terdengar suara panggilan yang sedang di sambungkan.


"Halo Mr.Barra" Sapa seorang wanita di sebrang sana.


"Hmm, bagaimana perkembangan Queen. Dokter Renatha?"


"Astaga sudah saya bilang, panggil saja Renatha tidak usah pakai iming-iming dokter" Seru wanita bernama Renatha itu.


Lebih tepat nya Miss Renatha wanita yang menjadi dosen di fakultas yang Queen tempati saat ini. Nyata nya wanita itu bukan hanya dosen tetapi ia adalah seorang dokter psikolog yang nanti nya akan mengobati Queen.


"Perkembangan Queen di dalam kelas cukup baik, dan seperti nya dia sudah bertemu seorang teman sebelum memasuki kelas"


"Teman?" Ulang Barra dengan nada sulit di artikan nya. "Siapa teman Queen?"


"Max, dia salah satu mahasiswa yang sangat berprestasi sekaligus ketua BEM di universitas ini"


Mendengar nama seorang pria di sebut sontak tangan Barra terkepal dengan rahang yang mengetat. Menghembuskan napas kasar akhirnya Barra kembali bersuara.


"Anda sudah melihat kondisi Queen 'bukan?" Tanya Barra yang langsung mendapat deheman dari Renatha di sebrang sana. "Bagaimana? Apa kah benar akan memakan waktu lebih dari posisi dua tahun?"


"Untuk saat ini saya belum bisa memastikan, dan ini semua tergantung diri Queen sendiri. Jika batin dan mental nya menerima pengobatan ini kemungkinan besar Queen akan segera sembuh"


"Huuft baiklah.." Barra pasrah, lagi pula ia tidak bisa memaksakan kehendak. "Saya menitip Queen pada anda, Miss Renatha. Jauhkan Queen dari mahasiswa yang berniat buruk pada nya"


"Akan saya usahakan, karena mau bagaimana pun Queen harus berusaha melawan rasa takut itu"


Setelah beberapa saat mengobrol tentang kondisi Queen, Barra pun mengakhiri panggilan nya. Napas nya memberat begitu mengingat nama seseorang yang Renatha sebut.


"Ric ke sini!" Teriak Barra memanggil sang asisten melalui telkom di ruangan nya.


Tak selang berapa lama Ric pun masuk ke ruangan Barra tentu nya dengan raut takut bercampur bingung.


"Cari tahu pria bernama Max!" Titah Barra. "Dia ingin mendekati istri ku!" Lanjut nya dengan nada penuh emosi.


"Max?" Ulang Ric. "Max apa tuan?"


Mendengar Ric yang terus mengulangi nama itu Barra pun mengeluarkan pelototan marah nya dan bersiap untuk menyembur Ric dengan omelan nya.


"Tidak, maksud saya nama dia hanya Max saja? Tidak ada kelanjutan nya?" Ralat Ric menahan pergerakan bibir Barra yang bersiap mengoceh.


"Mana aku tau!" Sentak nya. "Dokter Renatha hanya menyebut Max saja!"


Ric menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. "Kenapa tadi anda tidak menanyakan nama lengkap nya?" Ujar ragu Ric.


Barra semakin geram bahkan pulpen di tangan nya sampai patah. "Apa kau bodoh hah! Kau bisa mencari nya hanya dengan nama itu dan lagi dia seorang mahasiswa terbaik di universitas itu!"


Ric mengangguk mengerti, jika sudah ada informasi yang lebih jelas seperti ini baru lah Ric akan memulai pencarian nya. Karena jika tidak ia bisa salah mencari orang tersebut hanya bermodalkan nama Max.


"Baik tuan saya akan segera mencari nya" Ujar sigap Ric yang langsung berpamita keluar dari ruangan itu.


Menyisakan Barra yang kini menarik dasi nya yang terasa mencekik hingga melonggar. Posisi nya mulai terancam jika seperti itu di tambah Queen tidak berada di sisi nya.


"Siall! Aku ingin menelpon nya tetapi ini masih jam kuliah!" Geram Barra menahan diri untuk tidak menelpon Queen.


Jika Barra menelpon nya sekarang mungkin Queen akan terganggu dan berakhir tidak fokus dengan materi nya, di tambah Queen harus punya ruang untuk membiasakan diri.


"Kamu sudah berjanji untuk tidak berteman dengan seorang pria, sayang. Lalu kenapa kamu berteman dengan pria bernama Max itu?" Barra menatap foto Queen di layar handphone nya dengan perasaan sesak.


"Ah sial aku bisa gila!" Decak Barra mengacak rambut nya frustasi lalu mulai membuka lembar kerja nya.


.


.


"Dua hari ini Barra sudah kembali ke rumah nya"


"Tinggal dimana dia sebelum nya?"


Barri menggeleng tidak tau karena memang ia tidak tau dimana Barra tinggal setelah meninggalkan rumah kesayangan nya itu.


Arcy berdecak pelan. "Lalu apa kamu mendapatkan informasi lain? Apalagi terkait seorang wanita?"


Barri menggeleng membuat Arcy menggeram kesal kepada nya. Hingga akhirnya wanita itu beranjak pergi meninggalkan Barri dengan perasaan kesal.


"Walau pun aku tau, aku tidak akan memberitahu Mommy" Gumam Barri menatap punggung sang Mommy.


"Jika kebahagiaan Barra bukan di rumah ini, maka biarkan Barra bahagia di tempat lain karena dia berhak bahagia" Lanjut nya dengan helaan napas yang terdengar berat.


...****************...