
"Ja-jangan hikss.. Jangan sakiti Queen hikss.. Menjauh!!"
"It's okay Queen, ingat ini sentuhan kasih sayang semua ingatan buruk itu akan menghilang"
Kepala Queen menggeleng, air mata nya terus berjatuhan dari sela kelopak mata nya yang terpejam. Tangan wanita itu menggenggam erat pegangan kursi.
Puk! Puk!
Renatha menepuk dua kali bahu Queen setelah membisikkan hal tersebut. Setelah nya Renatha menyeka air mata Queen dan kembali duduk di hadapan Queen dengan tatapan tenang nya.
Selang beberapa saat mata Queen mulai terbuka. "Stthh.." Ringis nya pelan saat merasakan sakit di kepala nya.
"Kenapa Queen?" Tanya Renatha dengan raut cemas, lantas wanita itu pun kembali mendekati Queen.
"Kepala ku sakit" Jawab Queen, "Apa aku tertidur?" Lanjut nya bertanya.
"Minum dulu" Renatha pun lantas menyodorkan segelas air yang teh hangat yang telah ia campur beberapa obat untuk menekan gangguan mental dan batin Queen.
Setelah Queen mengambil gelas tersebut dan meminum nya Renatha pun kembali bersuara.
"Iya tadi kamu tertidur, padahal saya sedang menjelaskan materi tambahan"
Seperti ini lah sistem pengobatan Queen, dengan alibi mengajarkan materi tambahan karena Barra yang memerintahkan nya dan tentu dengan senang hati Queen mau.
Pengobatan ini tentu nya di lakukan di dalam ruangan Renatha tepat nya masih di dalam gedung Universitas Johns Hopkins.
"Ah maafkan aku, Miss. Aku--"
"Tidak apa-apa Queen, Miss tau kamu pasti sangat kelelahan belajar karena sebentar lagi akan ujian akhir semester" Potong Renatha.
Queen mengangguk tidak enak, karena memang akhir-akhir ini wanita itu selalu tidur malam demi memahami beberapa materi yang telah Renatha jelaskan.
Queen menatap wajah Renatha sebelum akhirnya mengutarakan kebingungan nya. "Seperti nya aku terlalu sering tertidur saat materi tambahan ini di lakukan"
"Tenang saja, Miss tidak masalah Queen" Sahut tulus Renatha. "Kita sudah lama kenal, jadi jangan bersikap seakan kita orang asing" Lanjut nya.
Queen tersenyum seraya menganggukkan kepala nya. Memang benar wanita muda di hadapan nya ini sangat baik pada nya, bahkan selama satu tahun ini Renatha selalu berada di sisi nya.
"Materi hari ini kita akhiri saja, seperti nya kamu perlu istirahat lebih awal" Ujar Miss Renatha setelah menjelaskan sedikit materi nya.
"Baik Miss, terimakasih untuk hari ini" Queen membereskan buku-buku nya dan bangkit dari posisi nya. " Queen pulang duluan, Miss" Pamit nya seraya menunduk sopan.
Queen beranjak dari posisi nya, baru saja tangan nya meraih handle pintu tiba-tiba saja sebuah tangan mengusap leher nya.
"Astaga Miss" Kaget Queen ketika membalik tubuh nya dan ternyata Renatha lah yang mengusap leher nya.
"Tadi ada serangga di leher mu, Queen"
"Serangga nya sudah pergi Queen, kan tadi suda Miss singkirkan" Ucap gemas Renatha mencubit hidung Queen.
Sesaat Queen membeo bingung hingga akhirnya wanita itu terkekeh malu. "Hehe baiklah terimakasih Miss, Queen pamit"
Queen membuka pintu ruangan itu dan meninggalkan ruangan Renatha, sedangkan sang pemilik ruangan? Kini wanita berumur tiga puluh lima tahun itu tengah menatap punggung Queen.
"Dia akan sembuh lebih cepat dari dugaan ku" Gumam Renatha.
Wanita itu tersenyum hangat mengingat Queen yang tidak lagi histeris saat ia mengusap leher nya. Beberapa kali bahkan Queen sering histeris saat tiba-tiba ada yang menyentuh nya. Namun, kini tidak lagi.
"Kamu wanita yang beruntung Queen"
Setelah mengucapkan hal itu Renatha kembali masuk ke ruangan nya, baru saja melangkah tiba-tiba handphone di saku nya bergetar.
Drtt.. Drtt.. Drtt.
"Lihat lah suami mu tidak bisa tenang jika belum mengetahui kondisi mu dari ku, Queen" Kekeh Renatha sebelum akhirnya menggeser ikon hijau di layar handphone nya.
"Selamat sore Mr.Barra"
"Bagaimana dengan Queen?" Tanya to the point Barra di sebrang sana berhasil membuat Renatha menahan tawa nya.
"Queen semakin membaik, trauma nya terhadap sentuhan perlahan menghilang dan sejauh ini gangguan mental serta batin nya mulai membaik" Jelas Renatha mengenai kondisi Queen.
Bahkan kini wanita itu tengah duduk di kursi nya seraya menulis perkembangan Queen di sebuah buku setiap hari nya.
"Jika seperti ini bukan kah Queen tidak memerlukan waktu lebih dari dua tahun untuk sembuh?"
"Hmm, kemungkinan besar seperti itu. Karena sejati nya Queen adalah wanita yang ceria serta mudah berbaur, hanya saja karena masa lalu nya Queen jadi seperti ini"
Terdengar helaan napas berat Barra di sebrang sana sebelum akhirnya pria itu kembali bersuara.
"Baiklah terimakasih Ren, bonus mu sudah aku kirim"
Mata Renatha membola, seketika wanita itu langsung mengecek handphone nya dan benar saja ada pemberitahuan tersebut.
"Astaga Mr., anda tidak perlu sungkan. Lagi pula ini sudah tugas saya dan saya juga sudah mendapatkan bayaran yang sangat besar" Ujar tak enak Renatha.
"Anggap saja itu bayaran karena kamu sudah membantu menjaga Queen dan sekali lagi tolong jaga istri ku"
Panggilan pun berakhir, tidak ada percakapan lain selain membahas kondisi Queen. Kini Renatha menatap handphone nya dimana ada deretan nominal yang baru saja Barra kirim.
...****************...