Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Part 43



"Mulai hari ini Bianca akan tinggal di sini"


Tatapan Barra semakin menajam, kedatangan dua orang wanita di hadapan nya ini menunda kepergian nya bersama Queen.


"Anda sedang bercanda, Nyonya?"


Arcy menggeleng angkuh. Wanita bersanggul dengan tampilan elegan nya itu terus melirik remeh Queen.


"Orang tua Bianca baru saja berangkat ke Dubai untuk urusan bisnis nya. Dan mereka menitipkan Bianca pada ku"


Mata Barra semakin mendelik tajam, tangan nya terkepal begitu erat. "Lalu apa urusan nya dengan saya?"


Arcy berdehem pelan seraya membenarkan posisi duduk nya. "Kamar kosong di rumah sudah penuh dengan barang-barang bekas jadi Bianca harus tinggal di sini"


"Untuk apa? Dia sudah besar dan bisa menjaga diri nya sendiri"


Mendapat sahutan terus menerus membuat Arcy semakin geram, terlebih lagi sebelah tangan Barra terus merangkul pinggang Queen.


"Barra.." Panggil manja Bianca di iringi rengekan nya.


"Pergi sekarang, jangan menggangu saya lagi!" Tegas Barra penuh penekanan.


"Berani kamu mengusir ibu mu hah!" Bentak murka Arcy.


"Apa anda pantas di sebut seorang ibu?" Tanya sinis Barra. "Dan perlu saya tekan kan, saya sudah memiliki istri yang sangat saya cintai!"


Arcy pun bangun dari posisi nya menatap Barra penuh kemarahan. "Mommy tidak mau tau, Bianca akan tetap tinggal di sini!"


Barra pun ikut bangun dan menatap Arcy tak kalah marah nya. "Ini rumah saya, yang saya beli dengan hasil jeri payah saya sendiri. Tidak sedikit pun menggunakan uang anda, jadi jangan bertindak seenak nya!"


Merasakan suasana yang semakin memanas Queen yang semula menundukkan kepala nya kini langsung bangun dan menarik pelan lengan Barra.


"Sudah.." Bisik Queen takut.


"Cih! menjauh dari putra ku, sialan!" Sentak marah Arcy yang dengan gerakan cepat nya mendorong bahu Queen.


"Aku bukan putra mu, ingat itu!" Teriak murka Barra seraya menahan tubuh Queen yang hampir terjatuh. "Tinggalkan rumah saya bersama wanita jallang itu!"


"Barra.. Aku takut jika harus tinggal sendirian" Rengek Bianca yang entah sejak kapan sudah berada di samping Barra dan merangkul lengan manja lengan nya.


"Lepaskan sialan!" Barra menghempaskan tubuh Bianca hingga wanita itu terduduk di lantai.


"Barra!"


"Tinggalkan rumah saya sekarang!" Ulang Barra kesekian kali nya dengan penuh penekanan.


"Aww sakit Mom hikss.." Rintih Bianca saat Arcy membantu nya untuk bangun.


"Kamu keterlaluan, Barra!" Hardik marah Arcy yang hanya di balas tatapan datar dari Barra.


Tak ingin meladeni nya lagi, Barra pun berteriak memanggil penjaga hingga datang lah beberapa orang pria berpakaian hitam.


"Usir mereka dan bawa koper menjijikan itu!" Titah Barra seraya menatap koper yang tadi di bawa orang Bianca.


"Barra!"


"Usir sekarang!"


Para penjaga itu langsung memegang lengan Arcy dan Bianca, lalu mulai menyeret kedua nya bersamaan dengan koper berwarna merah muda itu.


Barra mengacuhkan segala umpatan yang keluar dari mulut Arcy, bahkan hingga tubuh wanita itu tidak terlihat pun suara makian nya tetap terdengar.


"Kak--"


"Jangan memulai nya, baby" Peringat berat Barra yang menjatuhkan tubuh nya di sofa.


Queen memukul pelan bibir nya sebelum pada akhirnya ikut duduk di sebelah Barra. "Maaf, tapi apa itu tidak keterlaluan?"


"Keterlaluan apa?"


"Tadi,, kamu mengusir Nyonya Arcy dan perempuan itu"


"Tidak" Sahut cepat Barra. "Wanita tua itu ingin menghancurkan rumah tangga kita, baby"


Queen diam, tak lagi menyahut atau bertanya. Mata nya terus menatap wajah lelah Barra yang kini sedang memejamkan mata nya.


Tangan Queen terangkat untuk mengusap pipi dan rahang tegas suami nya, sontak perlakuan itu membuat kelopak mata Barra terbuka dengan tatapan kosong nya.


"Belanja nya besok aja ya?" Tanya Queen.


Memang awal nya mereka berdua berniat untuk belanja, tentu nya untuk keperluan mereka selama honeymoon nanti.


Tetapi kedatangan Arcy dan Bianca yang tiba-tiba masuk dengan menyeret koper tersebut sungguh mengacaukan suasana.


Barra mengangguk pelan sebagai jawaban. sedetik kemudian pria itu memeluk perut Queen dan menenggelamkan wajah nya pada sela leher Queen.


"Aku sangat lelah" Ucap nya lirih.


Tangan Queen dengan sigap mengusap kepala belakang Barra, melihat interaksi Barra dan Arcy saat pernikahan mereka di tambah dengan hari ini.


Queen dapat menyimpulkan bahkan hubungan mereka tidak baik, bahkan lebih buruk dari dugaan nya.


"Apa aku benar-benar pembawa siall?"


Queen menggeleng samar. "Kata siapa kamu pembawa siall?"


Barra diam, tak lagi berbicara yang terdengar hanya deru napas nya yang begitu berat.


"Kapan aku bisa mendengar cerita mu? Apa aku tidak boleh mengetahui seberat apa hidup suami ku selama ini?"


"Aku lelah hikss.."


Barra menangis? Pria itu menangis? Selelah apa hidup nya hingga dia menangis seperti ini?


"Aku akan jadi obat dari rasa lelah mu, sayang" Ujar lembut Queen dengan tangan yang terus mengusap kepala Barra.


"Berikan aku kasih sayang sebanyak-banyak nya hikss.. Aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang bahkan dari ibu ku sendiri hikss.."


Queen membenarkan posisi duduk nya yang semula menyamping hingga kini ia berhadapan dengan Barra.


Memeluk tubuh kekar yang saat ini terlibat begitu rapuh, memberikan kehangatan nya hingga membuat isak tangis pria itu semakin menjadi.


Meluapkan segala kemarahan, sakit hati, dan kekecewaan nya lewat tangisan itu. Hingga beberapa saat kemudian tangis itu mereda.


Rasa sesak di dada nya kian mereda, tangis penuh kepedihan yang selama ini ia tahan pecah sudah di pelukan Queen.


...****************...