
Di ruang tengah kediaman Barra suasana saat ini terbilang cukup mencengkram. Dimana Anton terus menatap bocah laki-laki berusia tiga tahun itu yang berada di pangkuan Queen.
Tatapan itu pun berhasil membuat Marvin menyembunyikan wajah nya di pelukan Queen, ia takut pada tatapan orang-orang di depan nya.
"Apa kami masih keluarga mu, kak?" Tanya dingin Barri.
"Terserah kalian" Jawab acuh Barra.
Barri mendesis geram mendengar jawaban Barra, tetapi mau bagaimana pun memang sejak awal Barra selalu seperti ini.
"Setidaknya kabari kami saat kamu memutuskan untuk mengangkat seorang anak!" Timpal Anton tak kalah dingin.
Bukan nya tidak suka, tetapi Anton merasa tidak di hormati sebagai kepala keluarga Adam's jika anak nya mengambil keputusan besar seperti ini tanpa memberitahu nya.
Dan yang lebih parah nya mereka mengetahui keberadaan Marvin dari media yang saat ini mulai memberitakan hal panas ini.
"Oke ini memang kesalahan ku--"
"Yeah, ini memang salah mu!" Potong Anton kesal.
Barra menghela napas berat sebelum pada akhirnya membenarkan posisi duduk nya. "Tapi ini sudah keputusan ku, dan tidak bisa di ganggu-gugat"
"Lagi pula siapa yang ingin melarang mu?" Balas sinis Anton.
Queen terkesiap, begitu pun dengan Barra.
"Siapa nama nya tadi?" Tanya Anton menatap Marvin.
"Marvin Cargius Adam's"
Anton mengangguk pelan. "Marvin.." Panggil nya dengan nada bicara yang melembut.
Marvin yang di panggil pun mengintip dari sela lengan Queen. Terlihat tatapan dan wajah galak itu sudah berubah, tidak seperti sebelum nya.
"Sini sama grandpa" Ujar nya lagi.
Marvin menggeleng pelan.
Melihat gelengan itu Queen pun mengusap kepala putra nya hingga membuat Marvin menatap nya.
"Ga boleh takut, itu Grandpa. Ayah nya Daddy" Jelas Queen yang entah di mengerti oleh anak berusia tiga tahun itu atau tidak.
"Dia galak Mom.." Bisik Marvin. Dia yang di maksud oleh Marvin adalah Anton.
"Nggak kok, Grandpa baik tadi cuma bercanda"
Marvin terus menggeleng, mengelak ucapan sang Mommy.
"Daddy sih marah-marah di depan Marvin, sekarang dia takut tuh sama Daddy" Celetuk Barra melihat wajah sedih sang Daddy saat mendapat penolakan dari Marvin.
"Ini semua karena kamu, coba dari awal kabari Daddy dan tidak membuat Daddy mengetahui ini semua dari media!" Balas nya sinis.
"Sudah-sudah, nanti Marvin tambah takut" Sela Queen.
Anton mendengus kesal, rasa ingin menggendong anak kecil itu sudah muncul di benak nya sejak pertama kali ia melihat.
Tetapi kini cucu nya malah takut pada nya dan ini semua salah Barra karena tidak mengabari mereka.
*
*
"Lepas! Lepaskan aku hikss..!!" Teriak Karin- wanita yang tadi siang di culik oleh Ric yang saat ini tengah menutup seluruh tubuh nya dengan selimut.
Ric sendiri sudah cukup frustasi menghadapi Karin, wanita yang tadi siang di nyatakan tengah mengandung dengan usia kandungan sekitar tiga minggu.
"Bisa kah kamu berhenti berteriak?" Ujar lemas Ric.
"Lepaskan aku hikss.. Biarkan aku pergi hikss.."
"Tidak, sampai kapan pun kamu tidak akan pergi dari sini dan jangan harap akan aku lepaskan!"
Deg!
Tangis Karin berhenti sesaat setelah mendengar penuturan tegas penuh penekanan itu, hingga akhirnya tiba-tiba selimut yang menutupi tubuh nya di tarik.
"Aaaa tidak hikss tidak!!!" Teriak ketakutan Karin.
"Tenang lah!" Bentak Ric yang telah kehilangan kesabaran nya.
Sudah cukup lama wanita itu menangis dan berteriak minta di lepaskan, dan hal itu pun cukup menguras kesabaran Ric.
Bukan apa-apa, masalah nya saat ini di dalam perut wanita itu sedang tumbuh calon anak nya dan bagaimana jika nanti calon anak nya kenapa-napa?
Karin benar-benar diam, tak mengeluarkan teriakan nya atau isak tangis nya. Tubuh nya membatu dan hal itu pun membuat Ric semakin frustasi.
Menarik tubuh bergetar itu ke dalam pelukan nya, menahan pemberontakan tiba-tiba Karin di dalam pelukan nya, Ric pun lantas berucap.
"Kamu sedang hamil, dan kamu tau itu?"
Diam, Karin kembali terdiam dengan napas yang seperti nya tercekat di tenggorokan nya.
Merasakan perbedaan pada tubuh yang di peluk nya, Ric pun mengurai pelukan nya. "Kamu tidak tau?"
Dengan tatapan takut dan bibir yang bergetar, Karin pun menatap netra biru yang pernah ia tatap sebulan yang lalu tepat di kamar ini.
"A-aku ha-mil?" Ucap nya terbata.
Ric mengangguk, kini ia dapat menyimpulkan bahwa wanita ini memang tidak tau bahwa ia sedang mengandung.
Dan selama ini sejak kejadian panas malam itu, diam-diam Ric mengutus orang untuk mengikuti wanita di hadapan nya.
"Ga,, ga mungkin.." Bibir nya semakin bergetar hebat, begitu pun dengan tubuh nya. Keringat juga sudah membasahi wajah wanita itu.
"Ga mungkin aku ha-hamil.." Kepala nya menggeleng kuat, mengelak kenyataan yang pahit ini.
"Tenang lah, aku akan bertanggung jawab--"
Plak!
Tamparan keras penuh amarah dan rasa sesak itu menghantam pipi kanan Ric, bahkan wajah nya tertoleh saking keras nya tamparan itu.
"Bertanggung jawab kata mu?" Tanya nya dengan kekehan sinis, air mata nya kembali berkumpul di kelopak mata nya. "Lebih baik aku menghilangkan nya dari pada terjebak dengan mu bersama anak sialan ini!"
...****************...