
"Queen, putri ku.."
Deg!
Sesaat sebelum menoleh nafas Queen tercekat begitu mendengar suara yang tak asing di telinga nya. Hingga akhirnya kepala Queen menoleh ke asal suara.
Wajah itu, pria itu. Saat ini tepat di hadapan Queen pria paruh baya itu menatap Queen dengan senyum manis nya membuat kaki Queen seketika melemas.
"Sayang..!" Tegur pelan Barra menahan tubuh Queen.
"A-ayah" Lirih gemetar Queen.
Tomi Georgi itulah nama pria paruh baya yang berstatus sebagai Ayah tiri Queen. Pria itu juga yang membuat dirinya menderita sebelum bertemu dengan Barra.
"Ayah sangat merindukan mu, Queen" Tomi mendekat berniat memeluk Queen.
Namun gerakan tak terduga terjadi, dimana Queen langsung memeluk erat pinggang Barra dan menyembunyikan wajah nya serta tangan Barra yang menahan pergerakan pria itu.
"Don't touch my baby!" Tekan Barra mendorong pelan bahu Tomi. "Saya mengundang anda karena mau bagaimana pun anda Ayah tiri Queen, namun saya tidak mengizinkan anda untuk menyentuh nya!"
Tomi mencelos seketika mendengar penuturan Barra. Mata nya menatap tak percaya ke arah Queen, anak tiri yang sudah ia jual di sebuah rumah bordil dan tiba-tiba menghilang begitu saja.
"It's okay, baby" Bisik Barra mengecup kening Queen.
Percaya atau tidak, yang pasti saat ini tubuh Queen yang awalnya bergetar hebat kini mulai tenang. Nafas nya yang awal nya tidak beraturan pun kini kembali teratur.
"Queen, ini ayah nak. Apa kamu lupa dengan Ayah?" Ujar Tomi begitu melihat Queen melirik wajah nya.
Queen menggeleng pelan. "Ti-tidak Ayah. Queen mengingat Ayah"
Tomi tersenyum sumringah. "Bagus lah, jika seperti ini Queen akan menjadi sumber kekayaan ku" Batin nya menatap bergantian Barra dan Queen.
"Ayah senang mendapat kabar pernikahan mu dengan Mr.Barra, Queen. Rasa nya ini seperti mimpi tetapi Ayah berharap kamu bahagia dengan Mr.Barra" Ucap nya penuh antusias.
"Apa maksud anda?" Tanya Barra dengan nada dingin nya.
"Ah tidak ada Mr., hanya saja.." Tomi tak melanjutkan perkataan nya, namun pria itu malah menatap Queen penuh arti. "Emm, bisa saya berbicara berdua dengan putri saya?" Izin nya.
Barra menunduk menatap Queen yang saat ini tengah menatap diri nya juga. Terlihat sedikit kecemasan di wajah istri mungil nya itu, tetapi ini lah niat Barra yaitu mempertemukan mereka.
"Baiklah saya akan ke kamar kecil dulu, hanya selama saya di kamar kecil!" Tegas Barra yang berhasil membuat pelukan Queen di pinggang nya semakin erat.
"Terimakasih Mr., terimakasih" Seru nya bahagia, tak lupa pria itu membungkuk hormat.
"Kak.." Cicit Queen.
"Aku kebelet sayang, jadi selama aku ke kamar kecil kalian berbicara saja. Oke?"
Queen menggeleng samar, ia masih takut pada pria paruh baya di hadapan nya yang terus menatap nya penuh arti.
Barra sedikit membungkukkan tubuh nya, hingga bibir nya tepat berada di samping telinga Queen. "Ric akan mengawasi kalian dan dia tidak akan berani menyakiti mu, sayang" Bisik nya.
"Mendekat lah, putri ku" Pinta lembut Tomi saat melihat Queen hendak memundurkan langkah nya.
Meremat kuat gaun nya demi menetralkan rasa takut nya, pada akhirnya Queen pun menatap wajah Tomi. "Ada apa, Ayah?"
Karena Queen tak kunjung mendekat, akhirnya Tomi lah yang mendekati Queen. "Singkat saja, apa Barra tau kamu pernah tinggal di rumah bordil bahkan kamu menjadi pelayan di sana. Putri ku"
Sakit, pedih, dan nyeri. Itu lah yang Queen rasakan saat mendengar penuturan penuh tekanan dari Tomi. Bukan nya merasa bersalah karena telah menjualnya ke tempat terkutuk itu, tetapi Tomi malah dengan santai nya bertanya seperti itu.
"Ah, apa jangan-jangan Barra salah satu pelanggan mu dan dia yang membeli mu?" Duga nya.
Memang benar Barra yang membeli nya, tetapi Barra bukan pelanggan di tempat terkutuk itu. Namun Queen tak bisa mengeluarkan kata-kata tersebut, diri nya hanya dia memaku.
"Seperti nya akan seru jika mereka mengetahui bahwa kamu bukan wanita suci dan berasal dari rumah bordil"
"A-apa maksud Ayah!" Sentak tertahan Queen menekan rasa takut nya.
"Emm, tidak ada. Hanya saja jika publik mengetahui kebenaran nya mungkin Barra akan jatuh lalu bisnis nya akan hancur"
Queen menggeleng, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kepala yang awal nya menunduk kini mulai terangkat. "Jika Ayah membenci ku, cukup hancurkan hidup aku. Jangan kak Barra"
Tomi terkekeh, tangan nya terangkat dan menepuk-nepuk pelan kepala putri tiri nya itu. "Ayah tidak membenci mu, Queen. Ayah sangat menyayangi mu" Elak nya.
Queen melangkah mundur, bersiap untuk pergi dari hadapan Tomi namun gerakan nya tertahan begitu pria paruh baya itu mencekal tangan nya.
"Kirim kan Ayah uang untuk membayar hutang"
Queen menghempaskan pelan cekalan Tomi pada lengan nya. "Qu-queen tidak punya uang, Yah" Jujur nya.
Lagi-lagi Tomi terkekeh. "Astaga ayo lah Queen, suami mu seorang pengusaha yang sukses. Jadi tidak mungkin kamu tidak mempunyai uang"
"Queen benar-benar tidak punya uang"
Mata Tomi mengedar, tak jauh dari mereka terlihat Barra yang sudah kembali dari kamar kecil dan berjalan menghampiri mereka.
"Pegang ini, dan Ayah harap kamu bisa mengirimkan Ayah uang besok sore atau identitas mu akan Ayah bongkar di hadapan publik!" Ancam Tomi menyelipkan sebuah kartu pada tangan Queen.
"Hanya dua ratus juta saja!" Lanjut nya, setelah nya Barra pun sampai dan langsung merengkuh pinggang Queen.
"Kamu baik-baik saja 'kan?" Tanya Barra menatap wajah Queen.
"Hahaha menantu ku sedang bercanda? Mana mungkin aku melukai putri ku sendiri hahaha" Canda Tomi memecah perhatian Queen yang sempat membatu itu.
...****************...
.
.
Vote nya bundaš¤