
Ceklek~
Pintu kamar di buka oleh seseorang dari luar sana. Queen yang awalnya termenung menatap penampilan nya di depan kaca sendirian, kini langsung menoleh.
"Queen.." Sapa seorang wanita paruh baya dengan senyum hangat nya.
"Ibu.." Lirih Queen.
Mata wanita itu berbinar, dengan tangan yang mengangkat gaun besar itu agar tidak menghalangi langkah nya. Queen pun mendekati Bi Dazy.
"Hikss.. Ibu.." Isak Queen begitu kedua nya saling berpelukan.
"Kok malah nangis sih, Queen kenapa?" Lembut Bi Dazy mengusap punggung terbuka milik Queen.
Saat ini Queen sudah sangat rapih dengan gaun mewah berwarna putih yang melekat di tubuh nya. Riasan di wajah nya juga terlihat begitu sempurna.
Bi Dazy mengurai pelukan Queen, lantas wanita paruh baya itu menyeka perlahan air mata Queen dengan tissue yang sejal awal ia bawa.
"Kenapa Queen malah nangis?"
"Queen kira Ibu di tinggal di sana, Queen kira Ibu tidak kembali ke sini hikss.."
"Sudah-sudah jangan nangis lagi 'ya" Bujuk Bi Dazy. "Yang terpenting sekarang Ibu ada di samping Queen"
Queen mengangguk pelan menahan isak tangis nya. Sesaat wanita itu kembali memeluk tubuh Bi Dazy.
"Sebenarnya ada acara apa, Bu? Kenapa Queen harus make up seperti ini dan memakai gaun berat ini?" Tanya Queen yang sedari awal menekan kebingungan nya.
Bi Dazy tersenyum tipis, namun ia tidak berniat menjawab nya. "Queen sangat cantik, apa sekarang Queen sudah siap?"
"Ibu.. Jawab Queen" Rengek pelan Queen.
"Seperti nya anak Ibu sudah siap" Putus Bi Dazy yang kemudian mengayunkan kedua tangan nya.
Hingga tiba-tiba dari belakang sana dua orang wanita muncul dan langsung berdiri di belakang tubuh Queen.
"Ini--"
"Ayo kita keluar" Ajak Bi Dazy, mengandeng lengan Queen dan menuntun nya untuk berjalan.
Sedangkan dua orang wanita tadi sudah siap memegang bagian belakang gaun Queen yang terlewat lebar dengan desain mewah nya.
"Eh ini ga usah di bantu, Queen bisa kok" Ujar tak enak Queen yang kepala nya menoleh ke belakang.
"Ini sudah tugas kami, nona" Sahut kedua nya bersamaan.
"Pegang ini" Bi Dazy menyodorkan buket bunga yang entah sejak kapan ada di tangan wanita paruh baya itu.
"Tegak kan punggung mu dan jangan lupa untuk tersenyum" Pesan Bi Dazy yang terus menuntun langkah nya.
Hingga akhirnya sampai lah Queen di hadapan pintu yamg begitu besar, dimana ada beberapa pria berpakaian hitam yang siap membuka pintu besar tersebut.
"Ibu, jawab pertanyaan Queen"
"Kamu akan tau dan sekarang ayo tersenyum"
"Ga mau!" Tolak Queen. "Queen mau balik ke kamar tadi aja!" Lanjut nya berniat membalik tubuh nya.
Namun gerakan nya terhenti begitu pintu mulai terbuka, dan mata Queen pun memejam saat lampu menyorot ke arah diri nya.
Terdengar samar-samar di telinga Queen suara bising orang-orang yang berbicara, hingga akhirnya Bi Dazy bersuara.
"Anak ibu yamg cantik, ayo buka mata nya" Pinta Bi Dazy.
Perlahan Queen membuka mata nya, namun sebelah tangan nya terangkat untuk menutupi cahaya lampu yang tertuju pada diri nya.
"I-ini.." Gumam tak percaya Queen.
Mata nya melebar hingga rasanya ingin lari dari tempat nya. Jantung Queen berdebar begitu cepat dengan napas yang tercekat saat melihat dalam ruangan tersebut.
Mata nya terhenti dan terfokus pada Barra yang berdiri menatap diri nya jauh di depan sana dengan tuxedo putih yang menambah ketampanan pria itu.
"Seharusnya Queen sudah mengerti 'bukan?" Queen mengalihkan perhatian nya pada sosok wanita paruh baya yang baru saja bertanya itu.
"Jadi ayo jalan, tampilkan senyum terbaik Queen dan Queen tidak boleh berhenti di tengah-tengah. Queen harus menghampiri Tuan Barra di sana"
"Ibu.." Air mata Queen menetes begitu saja, tentu ia sangat mengerti setelah melihat semua ini. "Queen akan menikah?"
Bi Dazy terkekeh pelan. "Queen memang sudah menikah, tetapi sekarang kalian akan meresmikan nya pernikahan kalian"
"Ibu--"
"Ibu ga mau dengar apa-apa lagi, sekarang ayo berjalan. Ibu menunggu Queen di samping altar sana" Potong Bi Dazy mendorong pelan punggung Queen agar wanita itu melangkahkan kaki nya.
Dengan tangan yang menggenggam erat buket bunga berwarna putih di tangan nya, Queen pun mulai melangkah.
Taburan kelopak bunga menjadi pengiring langkah nya di temani oleh suara kamera yang terus memotret ke arah diri nya dan tatapan seluruh para tamu yang tertuju pada nya.
"Kak.." Panggil lirih Queen begitu Barra mengulurkan tangan nya.
"Happy birthday and happy marriage, my baby" Bisik Barra begitu ia berhasil menggenggam tangan Queen dan merengkuh pinggang wanita mungil yang sangat-amat cantik itu.
...****************...