Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
21. Sambutan



Queen berlari ke arah pintu rumah besar milik suami nya begitu mendengar suara mesin mobil pria itu. Membuka dengan cepat pintu tersebut dan menyambut kedatangan Barra.


“Kak..” Panggil riang Queen begitu melihat Barra keluar dari mobil nya.


Ekspresi terkejut Barra ketika melihat Queen menyambut nya, kini berubah menjadi senyum hangat. Dengan cepat Barra melangkah menaiki undakan tangga dan memeluk istri kecil nya.


“Kakak kemana aja kok baru pulang?” Tanya Queen dengan kepala mendongak menatap wajah Barra.


Sesaat Barra terdiam, hingga akhirnya pria itu mengeluarkan suara nya. “Sudah malam, kenapa kamu belum tidur?”


Queen mengurai pelukan Barra dengan raut kesal. “Aku tanya terus kenapa kakak malah balik bertanya!”


Barra terkekeh pelan sebelum pada akhirnya pria itu menarik tengkuk Queen lalu mengecup basah bibir tipis sang istri.


“Kak!!” Seru kesal Queen mendorong pelan bahu Barra.


“Baiklah maafkan aku dan tadi aku ada meeting mendadak dengan klien dari luar”


“Ohh..” Queen mengangguk mengerti membuat Barra gemas dengan ekspresi gadis itu.


Lantas Barra merangkul pinggang ramping itu dan menuntun nya untuk memasuki rumah.


“Lalu, kenapa kamu belum tidur hmm?”


“Queen menunggu kakak”


Sontak mendengar hal itu, senyum lebar Barra langsung terukir menghiasi wajah tampan itu. Gadis yang biasanya ia cari ketika pulang kerja, kini gadis itu lah yang menyambut diri nya pulang.


“Kakak sudah makan malam?”


“Belum”


“Queen juga belum, jadi ayo makan” Ajak Queen bergantian menuntun Barra berjalan ke ruang makan.


“Kenapa belum? Jangan bilang kamu nungguin aku juga?” Tanya Barra penuh selidik dengan tatapan tajam nya.


Queen hanya menyengir, menunjukkan deretan gigi rapih nya. Kemudian gadis itu mengambil piring milik Barra dan mulai menyendok satu persatu makanan.


“Makanan nya masih hangat kok, Queen baru hangat kan tadi” Jelas Queen tanpa memperdulikan tatapan tajam Barra.


“Kamu boleh menunggu aku pulang, tadi tidak dengan menunggu aku makan!” Tegas galak Barra menahan pergerakan tangan Queen.


Queen menoleh menatap wajah Barra yang terlihat marah dan kesal. “Queen hanya ingin makan bersama kakak”


Kepala Queen menunduk mendengar suara geram Barra. “Gapapa kak, lagi pula Queen sudah biasa makan terlambat” Sahut nya seraya mengangkat pandangan nya dan tersenyum tipis ke arah Barra.


Deg!


Satu hal lagi yang baru Barra ketahui tentang gadis nya. Hal yang terdengar begitu menyakitkan dengan tatapan teduh gadis itu.


Perlahan Queen melepaskan cekalan tangan Barra dan mengusap pelan punggung tangan pria itu. “Jangan marah” Cicit nya pelan.


“Terbiasa makan terlambat?” Ulang Barra. “Maksud kamu?”


Queen menggeleng pelan, dan menaruh piring yang susah berisi makanan itu di hadapan Barra lalu duduk di kursi samping pria itu.


“Ayo makan kak” Ujar Queen mengalihkan pembicaraan.


“Queen..” Tekan geram Barra.


Sejenak Queen menunduk meremat jari-jari nya sampai akhirnya terdengar helaan napas dari sela bibir gadis itu.


“Dulu, setelah Mama meninggal Ayah tidak pernah sayang pada Queen lagi. Bahkan Ayah jarang memberi makan Queen dan melarang pelayan untuk mengurs Queen”


Lagi dan lagi, rasa nya hati Barra begitu sakit saat mendengar hal yang memang tidak ada dalam penyelidikan nya selama ini.


Yang Barra tau hanya kehidupan Queen di luar rumah dan sedikit di dalam rumah, sisa nya menjadi privat gadis itu.


“Tua bangka sialan!” Batin Barra dengan tangan terkepal dan mata memerah.


“Tapi gapapa, Queen tau Ayah begitu karena sibuk dan Queen gak masalah kok” Lanjut Queen dengan wajah riang nya.


Gadis itu sangat pandai menyembunyikan luka nya, bahkan di saat mengucapkan hal menyakitkan seperti tadi bisa-bisa nya Queen tersenyum.


“Ayah begitu karena ingin Queen menjadi perempuan yang mandiri” Imbuh nya lagi.


Barra tersenyum tipis lalu menarik tangan mungil itu ke dalam genggaman nya. “Lupakan itu, mulai sekarang kamu Queen dalam versi baru. Dan aku berjanji akan membahagiakan mu!”


Queen mengangguk, melihat anggukan itu Barra pun mengecup punggung tangan sang istri begitu lama.


Hati nya panas dan terasa berdenyut saat mendengar penjelasan gadis yang menjadi napas nya. Seterlambat itu kah diri nya untuk membebaskan Queen? Pikir Barra.


.


...****************...