Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Part 50



Dengan tidak tahu malu nya Barra merentangkan kedua tangan nya begitu melihat tubuh sang istri di balik kerumunan yang tengah berjalan keluar dari gedung universitas itu.


Senyum tipis di bibir Barra menambah ketampanan pria berusia matang itu hingga beberapa wanita di sekitar menghentikan langkah nya.


Penasaran pada siapa pria itu merentangkan tangan nya seakan meminta untuk di peluk.


"Sayang.." Gumam pelan Queen mengode agar Barra menurunkan kembali kedua tangan nya.


Tetapi bukan nya menurunkan Barra malah mendekati Queen dan memeluk istri kesayangan nya.


Sontak saja hal itu membuat para penonton menutup mulut nya kaget dan teringat akan kedua manusia di hadapan mereka.


"Astaga.. Sayang, aku malu" Bisik Queen menenggelamkan wajah nya di dada Barra begitu mengintip orang-orang di sekitar.


"Dunia milik kita berdua, honey" Balas Barra setelah puas memeluk sang istri.


Begitu Barra mengurai pelukan nya kepala Queen pun langsung menunduk dengan tangan yang meremat jas mahal suami-Nya.


"Ayo ih masuk ke mobil" Cicit Queen membalik tubuh Barra agar berjalan ke arah mobil.


Mendorong tubuh besar itu agar berjalan, tetapi secepat kilat Barra berbalik hingga tangan pria itu merangkul posesif pinggang Queen.


"Raja dan ratu harus berdampingan, honey" Ujar Barra cukup keras.


Mereka yang berada di sekitar langsung memekik histeris dan tak jarang dari mereka yang mengabadikan momen bucin sang billionaire pada istri kecil nya yang ternyata satu kampus dengan mereka.


"Ihh tau ah!" Kesal Queen mempercepat langkah nya yang ternyata hanya sebuah haluan karena tangan Barra menahan nya.


"Buru-buru sekali honey, tunggu bentar dong aku harus menyapa dosen mu terlebih dahulu"


Seketika Queen mendongak, menatap bingung Barra. "Heuh? Dosen?" Beo nya.


Barra tersenyum tipis kemudian menoleh bersamaan dengan keluar nya dosen yang di maksud oleh Barra dari gedung itu.


"Oh, sir Kean?" Sapa Barra dengan nada khas para keluarga kerajaaan.


Mata Queen membola kaget, kepala nya pun lantas menoleh.


Kean yang awal nya ingin mengabaikan kerumunan itu seketika menghentikan langkah nya dan menatap jauh wajah pria yang terlihat mengejek itu.


Di samping nya ada sosok gadis ralat, wanita yang sangat ia cintai dengan sebelah tapi tangan pria itu yang bertengger di pinggang nya.


"Ayo sapa dosen mu terlebih dahulu, honey" Ajak Barra memaksa Queen untuk melangkah lewat rangkulan posesif nya.


Kedua nya telah sampai di hadapan Kean yang juga melangkah kan kaki nya menghampiri mereka.


"Mr.Barra, Queen" Sapa Kean menunjukkan ekspresi ramah nya.


Barra tersenyum dan mengangguk. Senyum yang terlibat berwibawa itu di mata Kean terlihat seperti ejekan.


"Ada apa Mr.?" Tanya basa-basi Kean yang sebenarnya tengah menahan amarah.


"Tidak ada, saya hanya ingin menyapa dosen dari istri saya" Sahut Barra menekan kata-kata terakhir nya


"Ah baik Mr." Balas Kean tersenyum ramah.


"Apa istri saya belajar dengan baik?" Tanya Barra seraya beralih mengusap surai Queen.


Sedangkan Queen? Wanita itu membeku dengan mata yang terlihat gusar dan tangan yang terus menggenggam erat ujung jas Barra.


"Queen mahasiswa yang cerdas dan cepat tanggap, walaupun dia baru pindah tetapi Queen dapat memahami nya dengan baik"


"Tentu, Mr."


Barra melirik wajah pias Queen, kemudian menghentikan usapan pada surai nya lalu memeluk Kean ala laki-laki seraya menepuk-nepuk punggung pria itu.


"Terima kasih, Sir Kean" Ucap keras Barra. "And.. Don't touch mine!" Lanjutnya dengan nada menelan pelan sebelum pada akhirnya pria itu melepaskan pelukan sapaan tersebut.


"Kalau begitu saya dan istri saya pamit terlebih dahulu, sir Kean" Ujar Barra setelah kembali merengkuh posesif pinggang Queen.


"Silahkan" Balas Kean yang sebisa mungkin menampilkan senyum ramah nya.


Jika saja bukan di tempat seperti ini, mungkin Kean sudah melayangkan pukulan pada wajah sok ramah itu.


Kean benar-benar membenci Barra, sangat membenci nya!


*


Selama beberapa saat di dalam mobil sepasang pasutri yang di depan nya ada seorang sopir yang tengah mengemudi terjadi keheningan.


Hingga sampai pada akhirnya Barra berdehem membuat Queen menoleh menatap nya.


"Huuft,, maaf.." Hela berat Queen.


Barra yang awal nya menatap datar jalanan di luar mobil itu, kini beralih menatap Queen.


"Jangan minta maaf jika kamu tidak ikhlas"


Queen menggeleng cepat dan meraih tangan Barra untuk di genggam nya. "Tidak. Maaf, maafkan aku" Lirih nya. "Aku salah karena tadi membiarkan nya memegang tangan ku, mengusap surai ku dan.." ia menghentikan perkataan nya kala melihat tatapan Barra.


"Dan apa?!"


"Da-dan memeluk ku, tapi aku berani bersumpah aku tadi sangat kaget saat kak Kean tiba-tiba memeluk ku" Ucap cepat Queen saat melihat bibir Barra bersiap untuk mengeluarkan amarah nya.


"Huh!" Barra mendengus kesal menahan amarah nya, pandangan nya kembali ia alihkan pada jalan di luar sana.


"Sayang.. Maaf.." Lirih Queen hingga kepala wanita itu bersandar pada dada Barra.


"Aku janji, besok ga lagi tapi aku ga bisa jauhi kak Kean"


"Kenapa?" Tanya dingin Barra.


"Dia sudah seperti kakak ku sendiri, dia juga yang menjaga ku di rumah bordil itu saat beberapa pria ingin menyentuh ku" Lirih nya lagi.


Barra terdiam, ia tidak suka. Sangat tidak suka!


Queen menarik napas nya begitu dalam lalu menghembuskan nya perlahan. "Tapi akan aku coba untuk menjaga jarak dari nya jika kamu tidak suka"


Seketika pandangan Barra kembali tertuju pada Queen, menatap wajah memelas yang di hiasi senyum penuh keyakinan nya.


Tidak, Barra tidak kuat melihat ekspresi istri kecil nya ini hingga akhirnya pria itu menarik tangan nya yang di peluk oleh Queen lalu beralih memeluk pinggang ramping itu.


"Karena kamu sudah jujur, kali ini aku maafkan!" Ujar Barra dengan nada arogan nya.


Padahal jelas-jelas pria itu tidak tau apa yang terjadi pada istri nya itu karena ia belun memiliki mata-mata.


Dan yang Barra tau hanya Kean menjadi dosen di universitas itu yang kebetulan di jurusan yang Queen ambil karena asisten pria itu baru saja mendapatkan data-data pengajar universitas tersebut.


"Terima kasih, sayang.."


...****************...