
"Aunty kami datang..!!!" Teriak dua orang bocah kecil yang entah dimana keberadaan nya tetapi suara nya sudah terdengar.
"Ishh tuh 'kan mereka udah datang, kamu sih!" Gerutu kesal Queen yang seraya membersihkan tangan nya yang penuh dengan tepung.
"Lho kok aku aja yang di salahin" Sahut tak terima Barra.
Pasal nya karena terlalu asik bercanda di dalam kamar mandi sepasang pasutri itu sampai lupa waktu, bahkan Queen yang awal nya masih teringat pun jadi lupa.
"Karena yang mulai itu kamu" Balas Queen tak mau kalah.
Wanita itu pun melepaskan apron nya dan berlalu meninggalkan dapur dan Barra yang bersiap melawan perkataan nya.
"Aunty!!" Pekik riang kedua bersaudara itu saat melihat sosok yang mereka cari.
"Al, El" Queen berjongkok dan merentangkan tangan nya yang tentu langsung di sambut pelukan oleh si kembar berbeda jenis kela*min itu.
Alzada Cargio Adam's dan Elena Cargio Adam's itu lah nama kedua bocah berusia dua tahun yang sedang memeluk Queen.
"Kak.." Sapa Barri pada Barra yang baru saja datang.
Sejenak sepasang saudara itu berpelukan ala laki-laki dan juga bersama sang Daddy.
"Ayo duduk dulu" Ajak Barra.
"Bentar kak, aku boleh ke dapur? Mau siapin makanan ini" Izin Bella, istri dari Barri pada Barra seraya menunjukkan paper bag berlogo itu.
"Hmm, sana"
Setelah nya Bella pun langsung berjalan ke arah dapur yang sudah ia ketahui letak nya.
"Kalian apa kabar? Kok baru main ke sini lagi? Aunty rindu banget sama kalian" Celoteh Queen mencubit pelan bibi gembul kedua bocah itu.
"Maaf nty, Papa sibuk jadi kami tidak bisa kemana-mana" Sahut Al yang sedikit susah mengucapkan kata-kata nya.
"Huh, seharusnya kalian ke sini saja. Kenapa harus menunggu Papa kalian?"
"Kami tidak boleh kemana-mana tanpa izin dali Papa jadi kami tidak akan kemana-mana dan menjadi anak dulhaka" Kali ini El yang menyahut, gadis mungil yang kesulitan menyebut huruf 'R'.
Queen di buat ketawa mendengar perkataan dua bocah mungil di depan nya, hingga tanpa sadar air mata nya menetes.
"Nty nangis?"
"Nty kenapa?"
Tanya dua bocah itu yang berhasil mengalihkan fokus para pria di sofa ruangan itu yang tak jauh dari mereka.
Sontak saja Erlan langsung bangun dan berniat menghampiri sang istri, namun tangan nya di tahan oleh Anton.
"Dad--"
"Biarkan, jangan membuat Queen tambah sedih" Potong Anton kembali menarik putra nya agar duduk. "Perhatikan saja dari sini, biarkan Queen mengobrol dengan bocah cerewat itu"
Mendengar kedua anak nya di juluki cerewet lantas Barri melayangkan tatapan tidak senang nya.
"Aku aku bukan cerewet, tapi aktif!" Kesal nya.
"Ck, sama saja" Sahut Anton tak mau kalah.
"Sudah jangan di lanjutkan" Potong Bella yang baru saja datang dengan nampan berisi beberapa makanan.
"Oh astaga maaf Bella, aku sampai lupa" Ujar tak enak Queen yang baru saja menghampiri mereka dengan dua bocah cilik itu di gendongan nya.
"Tidak apa kakak ipar" Sahut Bella yang sejak dulu tak pernah mengganti panggilan nya pada Queen.
"Turunkan honey, mereka berat" Ujar Barra dengan nada memerintah.
"Nggak kok" Elak Queen yang berniat meninggalkan ruangan itu dengan si kembar di gendongan nya.
"Mau kemana hm? Ada tamu di sini masa mau di tinggalin" Ucap Barra yang berhasil menghentikan langkah Queen.
Queen berbalik menatap Barra dengan raut memohon. Ia ingin bermain dengan si kembar di ruang bermain yang telah ia buat untuk anak nya yang tak kunjung hadir.
"Sudah lah tidak apa, sana bawa bocah cerewet itu bermain. Daddy bisa pusing mendengar teriakan mereka" Ujar Anton seakan tidak menyukai canda tawa si kembar.
Padahal fakta nya, ia sangat menyukai tawa dan pertanyaan-pertanyaan tidak masuk akal yang Al dan El tanyakan, atau hal random lain nya yang sering mereka bicarakan.
Tetapi Anton tidak ingin membuat menantu nya bersedih terlebih lagi setiap mereka datang terlihat dengan jelas raut bahagia Queen dengan sorot hangat nya.
"Iya bawa saja Al dan El bermain, mereka juga ingin bermain bersama mu" Timpal Barri.
"Ayo aku temani juga" Sambung Bella.
Namun Queen tak juga beranjak sebelum mendekati perintah dari Barra. Hingga kini kedua pria di samping dan depan Barra melayangkan tatapan tajam nya.
"Baiklah, sana bermain dan kembali ke sini juga sudah bosan" Pasrah Barra.
"Baik!!" Sahut cepat Queen yang kembali melangkahkan kaki nya ke tempat tujuan awal.
"Benih mu kurang berkualitas, kak" Ledek Barri saat melihat tatapan Barra berubah sendu menatap punggung Queen yang mulai menghilang di balik dinding sana.
Barra berdecih dan menatap tajam Barri.
"Apa kamu butuh obat agar--"
"Tutup mulut mu sialan, apa kau sudah bosan hidup huh?!"
Barri langsung bungkam, hingga ruangan itu hanya di isi kehilangan saat ini.
"Tapi ngomong-ngomong, benih Daddy doang lho yang berkualitas"
"Diam!" Sentak si kembar nama, Barra dan Barri.
Hingga tak lama setelah nya tawa ketiga pria itu langsung memenuhi ruangan luas itu.
Kehangatan, kasih sayang, dan canda tawa bersama keluarga akhirnya dapat Barra rasakan setelah kepergian sang Mommy.
Bukan meninggal, tetapi satu setengah tahun yang lalu Arcy berada di rumah sakit jiwa karena mengalami gangguan jiwa sejak terakhir kali Barra mengusir nya bersama dengan Bianca.
Arcy terlalu berambisi untuk menghancurkan putra nya sendiri, segala rencana ia susun namun akhirnya hancur dan hal itu yang membuat wanita itu menjadi gila.
...****************...