Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Malam kedua



Malam semakin larut, namun di dalam kamar sana terlihat seorang wanita yang terus memainkan ujung piyama nya.


Banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada sang suami, terlebih lagi tentang keluarga pria itu. Namun ada hal lain yang menganggu pikiran Queen.


"Sayang.." Panggil Barra untuk ke tiga kali nya seraya menyentuh bahu sang istri.


Sontak saja Queen mengangkat pandangan nya dengan tubuh yang terlonjak kaget saat melihat pemandangan di depan nya.


"Astaga kak, pakai baju!!" Pekik Queen kaget.


Bagaimana Queen tidak kaget jika saat mengangkat pandangan nya tiba-tiba saja di suguhkan perut berotot milik Barra, di tambah ada beberapa petak sawah di perut itu.


"Kamu kenapa hmm?" Tanya Barra yang duduk di tepi kasur. Pria itu baru saja selesai mandi dan hanya memakai handuk sebatas pinggang.


"Pakai baju dulu ih!!" Kesal Queen menolak sentuhan Barra pada tangan nya.


Namun Barra tak menggubris perkataan sang istri, malah pria itu menarik kaki Queen membuat Queen yang tidak siap langsung terbaring di kasur.


"Kak..!!" Mata Queen melebar sempurna saat Barra sudah berada di atas nya.


"Mikirin apa sampai aku panggil sudah tiga kali kamu ga sadar-sadar?"


Queen menggeleng. "Tidak, Queen tidak memikirkan apapun" Elak nya bohong.


Tentu Barra tau bahwa saat ini Queen tengah berbohong, namun saat ini pria itu memilih untuk menenggelamkan wajah nya di tengah-tengah gunung tak berpohon milik Queen.


"Kak!!" Teriak Queen lagi dan lagi karena rasa kaget nya.


"Simpan suara mu sayang, kita belum memulai nya"


"Bangun kak, dan pakai baju kakak"


Barra menggeleng membuat Queen mengigit bibir nya. Setelah nya Barra kembali mengangkat kepala nya dan menatap sayu wajah memerah istri kecil nya.


"Malam kedua sayang.." Ucap Barra dengan suara parau nya.


"Hah?" Beo bingung Queen.


"Kita sudah melakukan malam pertama sebelum kamu pergi ke USA, dan sekarang aku ingin malam kedua yang lebih panas dari sebelum nya"


Mendengar perkataan Barra membuat jantung Queen berdebar begitu kuat. Haruskan pria itu menjelaskan dengan begitu detail?


Di tambah saat ini pria itu kembali membenamkan wajah nya. Tetapi kali ini di sela leher nya membuat napas Queen mulai tidak beraturan.


"Kak emhh.." Queen kembali mengigit bibir nya dengan tangan yang berusaha mendorong tubuh Barra.


Namun semua itu tak berpengaruh sedikit pun pada tubuh kekar itu. Barra malah memulai aksi nya.


Mengecup beberapa kali dengan kecupan basah nya, lalu meny*sap leher putih nan jenjang itu dan berlanjut dengan his*pan bruntal nya.


"Kak eughh..!!" Desis tertahan Queen.


"Jangan tolak sentuhan aku, baby.." Bisik Barra mengecup singkat daun telinga Queen. "Aku sangat merindukan mu, sangat" Lanjut nya memberikan ses*pan pelan nya pada daun telinga itu.


Tangan Queen yang awal nya terus mendorong bahu pria itu agar menyingkir dari tubuh nya, kini berpindah memeluk leher Barra.


Mendengar perkataan Barra membuat hati kecil Queen menangis, selama ini diri nya telah jauh dari Barra. Mengecewakan suami nya sendiri dan tidak bisa mengurus Barra dengan baik.


"Aku berjanji akan melakukan nya perlahan"


Setelah mengucapkan kalimat tersebut Barra mengangkat kepala nya dan menyerang bibir tipis yang selalu menggoda itu dengan tangan yang mulai membuka kancing piyama Queen.


*


"Arghhh ka-kak.. Per-lahanhh..!!" Erang Queen di iringi des*han nya.


"Maaf sayang, maaf eughh.." Lenguh Barra seraya mengecupi wajah Queen yang sudah di penuhi keringat.


Ucapan penenang pria itu bagaikan bedu yang hilang di bawa terpaan AC karena suhu ruangan terasa begitu panas.


"Kak ahhk..!!" Dada Queen membusung begitu Barra menyentak nya begitu dalam dan menyiramkan benih berkualitas nya pada rahim nya.


"Arghhh brengsek..!!" Erang mengumpat Barra dengan wajah yang di benamkan pada dada membusung sang istri.


Napas kedua nya memburu, bahkan pinggull Barra terus bergerak pelan di bawah sanam Menghantarkan rasa sensitif bagi Queen.


"Udah kak.." Lirih Queen dengan napas terengah.


Mengusap pipi Queen tanpa mengangkat kepala nya, lancar bibir dan lidah Barra kembali bermain di atas bukit itu.


"Kak..!!" Tegur lemas Queen.


"Aku ingin melakukan nya hingga puas, baby.."


"Tidak, tidak mau!" Tolak cepat Queen. "Kakak pembohong!" Lanjut nya.


Seketika Barra mengangkat kepala nya. "Pembohong apa? Aku melakukan kesalahan apa?"


Queen menyeka air mata nya yang menetes begitu saja, dan hal itu pun berhasil membuat Barra panik.


"Baby, hei..!"


"Kakak berjanji akan melakukan nya dengan pelan hikss.. Tapi kenapa tadi sangat kencang hikss.." Isak Queen.


Seketika mulut Barra menganga, panik nya sirna begitu saja saat mendengar penuturan istri nya.


"Baby, hei. Dengarkan aku" Lembut Barra menyeka air mata Queen.


Queen menatap Barra dengan wajah yang masih memerah, bahkan hidung nya pun memerah.


"Aku sangat merindukan mu, merindukan segala nya dalam diri mu"


"Yaudah peluk aja hikss.."


Barra menggeleng, sudut bibir nya tertarik membentuk sebuah senyum kecil. Beberapa saat kemudian pria itu mengecup kening, kedua kelopak mata, hidung dan terakhir bibir Queen.


"Itu tidak akan cukup untuk seorang pria yang sudah merasakan nikmat nya milik sang istri" Bisik Barra di akhir kalimat.


Setelah mengucapkan kalimat tersebut Barra langsung membalik tubuh Queen yang otomatis sang adik keluar dari rumah nya.


Mendesis pelan karena kesal, lantas Barra menarik pinggang Queen agar lebih tinggi dan sedetik kemudian pria itu melesatkan sang adik kembali ke rumah nya.


"EERRGGHH..!!" Erang Queen tertahan oleh bantal.


"Ahhk, siall. Kita harus melakukan nya hingga pagi, babyhh.."


...****************...


*


*


Hai hai hai..


Jangan lupa mampir di karya baru aku.


...My Possessive Lecturer...



Aku tunggu kehadiran nya para kesayangan ku🤗


...----------------...