
"Anak sialan kata mu?" Ulang Ric menekan.
Kedua tangan nya yang memegang bahu Karin pun menekan begitu kuat, tetapi kali ini Karin tidak teriak kesakitan.
"Ya! Sialan!" Sahut nya berteriak. "Seharusnya dia tidak hadir dan kamu mengacaukan hidup ku, brengsek!!"
Gigi Ric saling beradu begitu geram, rahang nya mengetat bersamaan dengan cengkraman pada kedua bahu Karin yang semakin menguat.
"Jangan pernah sebut anak ku sebagai anak sialan!"
"Shh,, kenapa? Bukan kah dia hadir karena--"
"Sudah aku bilang, aku akan bertanggung jawab dan menikahi mu!" Potong Ric meninggikan suara nya.
Ric sakit hati mendengar calon anak nya di sebut anak sialan oleh wanita yang saat ini tengah mengandung nya.
"Anak itu anugerah, tidak ada anak sialan di dunia ini!" Lanjut Ric semakin terbakar emosi nya.
Tangis Karin tak dapat terbendung lagi, rasa sakit di bahu nya dan dunia nya yang semakin hancur saat ini juga membuat air mata itu mengalir begitu deras.
"Ya,, tidak ada anak sialan hikss.. Aku hanya kurang beruntung dilahirkan di keluarga itu hikss.." Isak nya.
Tatapan marah, rahang mengetat dan cengkraman begitu kuat itu hilang seketika. Yang terdengar hanya napas memburu Ric.
"Dan sekarang aku harus melenyapkan nya sebelum dia merasakan pahitnya kehidupan seperti ku hikss.."
Karin menghempaskan tangan Ric begitu cepat bersamaan dengan tubuh nya yang langsung beranjak dari kasur.
Berlari ke arah sebuah meja sebatas perut nya, Karin berniat menghantam perut nya ke meja itu. Tetapi belum sempat terjadi tubuh nya sudah melayang dan berada di gendongan Ric.
"Kamu gila!" Bentak tertahan Ric.
"Iya aku gila dan sekarang turunkan aku!!" Amuk nya yang terus bergerak di dalam gendongan Ric. "Dia tidak akan bahagia jika terus hidup!!"
"Shiit! Tutup mulut mu!" Umpat kasar Ric. "Anak ku akan bahagia bersama ku, dan apapun masalah mu jangan pernah berniat menyingkirkan anak ku!"
Ric membaringkan pelan tubuh itu ke atas kasur yang langsung di sambut dengan berontakan nya. Tetapi dengan cepat Ric menindih tubuh itu.
"Diam atau aku perko'sa lagi!" Ancam nya begitu tajam.
*
*
"Siall! Kemana pergi nya pria itu!" Maki kesal Barra yang sejak tadi mencoba menghubungi Ric namun tak mendapat jawaban.
"Masih belum bisa di hubungi?" Tanya Queen yang baru saja memasuki kamar nya.
Barra menoleh dengan handphone yang berada di telinga nya. "Marvin sudah tidur?" Tanya nya.
Queen mengangguk dan mendekati Barra yang berdiri di dekat jendela kamar itu. "Sudah" Jawab nya yang saat ini sudah memeluk pinggang Barra.
"Bagaimana? Kak Ric masih belum bisa di hubungi?" Tanya Queen lagi.
"Belum, entah lah kemana pergi nya pria itu sejak siang tadi"
Barra menyerah, tak lagi menghubungi Ric. Kini ia beralih ke salah satu bawahan nya atau lebih tepat nya orang kepercayaan kedua setelah Ric.
"Selamat malam tuan" Sapa seorang pria di sebrang sana.
"Handle dan tekan semua berita tentang keluarga ku saat ini juga!" Titah to the point Barra.
"Baik tuan"
"Jika besok pagi masih ada berita sialan itu, bersiaplah menerima sanksi mu!" Ancam Barra.
Tak berbasa-basi lagi, Barra pun langsung mengakhiri panggilan nya dan melempar asal handphone nya ke meja rias milik Queen.
"Tenang lah, aku gapapa kok" Ucap Queen mengusap-usap punggung Barra.
Napas pria itu memburu ketika melihat salah satu berita yang mengatakan bahwa Queen tidak bisa hamil hingga harus mengangkat anak dari panti asuhan.
Dan siall nya berita itu sudah Queen baca, bayangkan betapa hancurnya hati wanita itu saat ini. Ah, Barra tidak akan tinggal diam!.
"Jangan sok kuat, aku tau rasa nya sangat sakit!" Geram Barra menarik hidung Queen hingga sang pemilik mengaduh kesakitan.
"Sakit sayang.." Rengek manja Queen mengusap hidung nya begitu Barra melepaskan cubitan nya.
"Di cubit begitu saja sakit, tetapi membaca banyak berita yang menjelekkan nama mu, tidak sakit"
Queen mengangguk kedua bahu nya bersamaan. "Ya mau bagaimana lagi? Memang benar 'bukan?" Sahut nya melepaskan pelukan nya pada Barra.
"Tidak! Mereka salah!" Sentak Barra membuat Queen yang hendak berbaring terlonjak kaget.
"Biasa aja kali, ga usah ngegas ngomong nya!" Kesal Queen yang kembali melanjutkan niat nya.
Baru saja berbaring, tiba-tiba Barra melompat ke atas tubuh nya membuat pergerakan nya terkunci oleh tubuh kekar itu.
"Semakin hari kamu semakin ngeselin ya?!" Geram tertahan Barra.
"Ga tuh" Sahut acuh Queen.
"Oh, ngga ya?" Queen mengangguk membenarkan. "Berarti kalau gitu, mari buat adik untuk Marvin!"
Mata Queen langsung membulat sempurna, tidak siap menerima serangan Barra pada leher nya ia pun memekik.
"Ahh,, sayang!"
"Jangan tahan aku, tadi pagi aku sudah ingatkan untuk mempersiapkan diri mu malam ini" Bisik Barra seraya meny*sap cuping Queen.
Gerakan lidah panas itu pun berhasil menghantarkan rasa panas pada tubuh Queen. Barra memang sangat ahli membuat tubuh nya pasrah dan menginginkan sentuhan nya.
Berhasil menanggalkan pakaian nya dan pakaian Queen, tiba-tiba saja Barra berguling ke samping dan memeluk tubuh toples itu.
"Aku ngantuk, tunda saja" Ujar Barra.
Queen yang mulai menikmati permainan itu sekita langsung melotot tidak senang. Astaga ayo lah sedikit lagi ia akan mencapai kenikmatann itu dan Barra malah berhenti lalu bicara seenak jidatnya!.
Melepaskan pelukan Barra, Queen pun bergerak begitu cepat menaiki tubuh Barra. "Sengaja memancing ku, huh?" Dengus nya kesal.
Barra terkekeh pelan dan menggeleng. "Tidak, aku memang mengantuk"
"Mengantuk dengan keadaan adik yang berdiri huh?" Queen mer*mas adik tegak milik suami nya yang berada di belakang nya.
Seketika Barra memekik dengan mata melotot. "Honey ah, sakit!!"
"Maka ayo lanjutkan supaya tidak sakit!" Celetuk Queen geram.
Tanpa berkata lagi dan menggagalkan mulut terbuka Barra yang seperti nya berniat berbicara, Queen pun langsung menyerang bibir tebal itu dengan tangan yang menggerayangi tubuh kekar itu.
Cpk!
Barra melepaskan paksa lum*tan ganas istri nya yang benar-benar sudah terpancing lalu mengusap pipi merah alami itu.
"Baiklah janhan harap untuk berhenti lebih cepat dan malam ini akan lebih panjang dari pada malam-malam biasa nya" Bisik berat Barra.
...****************...