
Atmosfer di dalam ruang tengah kediaman Barra dan Queen siang ini terasa berbeda. Dimana di hadapan mereka terdapat seorang pria paruh baya dengan senyum kikuk nya.
Sedangkan Queen? Wanita itu terus bersembunyi di balik lengan kekar Barra dengan tangan yang menggenggam begitu erat tangan itu.
"Ekhmm,, bagaimana kabar mu, Queen?" Tanya canggung Tomi, ayah tiri Queen.
"Baik.." Jawab ragu Queen.
Melihat kedatangan Tomi, Queen pun teringat akan permintaan pria paruh baya itu dan pasti saat ini pria itu ingin meminta uang tersebut.
Baru saja Tomi akan kembali berbicara, tetapi ucapan Barra menghentikan gerakan bibir nya berganti dengan sebuah senyum yang sulit di artikan.
"Langsung saja, ada apa anda ke sini?" Tanya Barra dengan wajah tanpa ekspresi nya.
"Memang menantu ku yang paling mengerti mertua nya" Puji angkuh Tomi seraya meminum kopi yang di sediakan untuk nya.
Setelah nya pria paruh baya itu membetulkan posisi duduk nya dengan tatapan serius, sekilas mata nya menatap Queen di balik lengan kakar Barra.
"Sebelum nya Ayah meminta Queen untuk mengirimkan uang. Ayah terlibat hutang, Bar" Ujar Tomi yang kini memasang wajah memelas nya.
Mendengar itu tubuh Queen langsung menengang di tambah dengan tatapan Barra yang terlihat tajam ke arah nya.
"Apa seorang anak sepelit ini pada Ayah nya sendiri? Ayah lelah jika terus di kejar-kejar rentenir" Lanjut nya di iringi helaan napas berat.
"Maaf tuan, seperti nya Queen lupa untuk memberitahu saya" Ucap Barra. "Bisa sebutkan berapa yang anda butuh?"
Wajah memelas itu seketika langsung berubah ceria, namun tak lama. Setelah itu Tomi kembali menghela napas berat nya.
"Ayah tidak mau di cap mata duitan, Bar"
"Tidak apa, tuan. Katakan saja tidak usah sungkan"
"Sebenarnya Ayah nemiliki hutang sebesar lima ratus juta, tetapi tiga ratus juta saja cukup"
Mata Queen membulat sempurna, itu bukan lah nominal rendah dan sebelum nya pria itu tidak menyebutkan kata-kata seperti itu pada Queen.
"Baik--"
"Ayah berhutang sebanyak itu untuk apa?" Sela Queen sebelum Barra mengiyakan nya.
Wanita itu juga kini langsung menegakkan tubuh nya dan menatap sang Ayah dengan menekan rasa takut nya. Sekelebat bayangan masa lalu yang menimpa Queen selalu terbayang begitu ia melihat wajah kejam pria paruh baya itu.
"Kamu tau sendiri Ayah tidak bekerja Queen, jadi Ayah membutuhkan uang itu untuk biaya hidup Ayah sehari-hari"
"Ayah bohong, pasti uang itu Ayah pinjam untuk bermain judi 'kan?"
"Ada apa dengan mu, Queen?!" Bentak marah Tomi. "Kamu menuduh Ayah?!"
Seketika keberanian Queen yang sebelum nya sudah terkumpul kini langsung hancur berganti dengan rasa takut.
Wanita itu kembali menyembunyikan wajah nya bahkan kini di belakang punggung Barra dengan tangan yang meremat lengan kekar itu.
"Sudah cukup tuan Tomi dan saya akan memberikan uang yang anda butuhkan!" Sentak tertahan Barra begitu melihat Tomi hendak kembali bersuara.
Seketika emosi Tomi yang awal nya takut Barra tidak jadi memberikan nya langsung lenyap. Sedikit mendengus kesal lalu Tomi kembali duduk.
"Berikan nomor rekening anda, saya akan mengirim nya setelah ini"
*
Setelah usai mengurus Tomi hingga akhir nya kini pria itu pergi dengan mengantongi uang yang ia inginkan, kini tersisa lah Barra dan Queen yang masih berada di dalam ruangan itu.
Memainkan ujung baju yang di gunakan oleh Barra, Queen juga terus menundukkan kepala nya menghindari tatapan Barra.
"Tidak ada yang ingin kamu katakan hum?" Ujar Barra seraya memainkan helaian rambut Queen.
"Maaf.." Cicit Queen.
"Maaf untuk apa?"
"Sebenarnya saat pesta pernikahan Ayah meminta untuk di kirimkan uang"
"Lalu kenapa tidak bilang pada ku?"
Queen menggeleng. "Aku tau Ayah akan memanfaatkan uang kamu untuk bermain judi" Ujar nya seraya mengangkat pandangan nya.
"Aku tidak keberatan, bukan kah begitu lebih baik dari pada dia menganggu kamu"
"Tidak, aku tidak mau Ayah memanfaatkan kamu. Ayah licik, bahkan dia yang menjual ku ke rumah bordil itu demi melunasi hutang"
Barra mengusap lembut pipi chubby itu. "Aku tau, baby"
"Aku mohon jangan berikan Ayah uang lagi, ke depan nya dia pasti akan sering meminta jika kamu memberikan nya semudah ini"
Barra tersenyum, tak menyahut melainkan memeluk tubuh Queen yang sempat bergetar ketakutan saat Tomi membentak nya.
"Anggap saja uang tadi sebagai bayaran atas nyawa nya.."
...****************...