
"Kak hikss.."
Tangis Queen pecah di pelukan Barra. Impian nya untuk menikah tepat di hari ulang tahun nya benar-benar terwujud dan Barra memberikan sebuah pesta pernikahan yang ia impikan sejak kecil.
Barra tak mengeluarkan suara nya, pria itu hanya tersenyum hangat dengan tangan yang terus mengusap punggung Queen.
Hingga beberapa saat kemudian Barra mulai mengurai pelukan Queen, menyeka air mata Queen dan mengecup lama kening wanita itu.
"Sudah cukup, aku hanya ingin melihat senyum mu. Bukan air mata mu" Ucap lembut Barra.
"Queen bahagia hikss.. Terimakasih kak hikss.." Isak Queen.
"Membahagiakan mu ada lah tugas ku, dan sekarang ayo kita jalani pesta ini dengan canda tawa. Oke?"
Queen mengangguk cepat, mata indah itu menatap Barra penuh binar. Tak lama kemudian wanita itu berjinjit dan mengecup sekilas bibir Barra membuat suara ricuh antar tamu dan potret kamera langsung memenuhi aula itu.
"Dasar nakal!" Gemas Barra mencubit hidung Queen. "Seharusnya aku yang melakukan itu!" Lanjut nya.
Sedetik kemudian Barra langsung menarik tengkuk Queen lalu menempelkan bibir nya pada bibir tipis milik Queen yang di baluti lipstik dengan warna senanda dan cocok pada bibir itu.
Bukan hanya menempelkan tetapi pria itu juga memberikan lum*tan lembut yang terkesan sangat dalam.
"Kau berhasil, kak" Gumam terharu Barri yang saat ini menatap sepasang pengantin di atas altar sana.
"Kamu juga berhasil sayang" Sambung Bella yang saat ini berada dalam rengkuhan pria itu.
Bella bangga pada suami nya. Memang selama ini mereka memainkan peran nya menjadi orang jahat di hadapan Arcy, sang Mommy.
"Tidak, aku belum berhasil" Sahut Barri saat melihat sang Mommy menghampiri mereka.
"Mom--"
"Cari identitas wanita jallang itu!" Potong tegas Arcy membuat raut bingung dari sepasang suami-istri itu.
"Maksud Mommy?" Tanya Barri tak mengerti.
"Kita harus menyingkirkan wanita jallang itu sebelum dia yang menguasai harta Barra!"
Seketika rahang Barri mengetat bersamaan dengan tangan nya yang terkepal erat, namun sebisa mungkin Barri harus mengontrol ekspresi nya agar terlihat biasa saja.
"It's a happy day, Mom" Sahut Barri tanpa ekspresi nya. "Hari ini hari bahagia Barra, dan bisakah sekali saja biarkan Barra bersama dengan pilihan nya?" Lanjut nya.
"Tidak!" Sentak Arcy. Mata wanita itu tertuju pada Barra dan Queen yang saat ini tengah menyalami satu persatu tamu. "Anak siall seperti dia tidak pantas bahagia!"
"Mom--"
"Mommy gak mau tau, inti nya kamu harus segera menemukan identitas wanita itu!"
"Kau memang tidak pantas di sebut seorang Ibu" Ujar dingin Anton yang sejak awal hanya memperhatikan.
Sesaat Arcy terdiam. "Kata siapa aku tidak pantas? Buktinya sekarang aku bisa mengurus Barri dengan baik!" Sahut nya.
"Hanya Barri? Lalu bagaimana dengan Barra. Anak pertama kita, putra yang berhasil membawa nama kita lebih tinggi!"
"Dia hanya anak siall yang lahir--"
"Dia anak mu dan kematian orang tua mu tidak ada sangkut paut nya dengan lahirnya Barra!" Potong Anton dengan bentakan tertahan nya.
Andai saja bukan di tempat seperti ini, mungkin Anton akan melayangkan tamparan pada pipi wanita yang sangat ia cintai itu. Tetapi dulu, sebelum Arcy berubah menjadi seperti ini.
"Terimakasih sudah hadir"
Seketika mata para keluarga itu tertuju pada asal suara. Mata mereka menangkap sosok sepasang pengantin yang kini berdiri di belakang Anton.
Jika pengantin wanita terus menampakkan senyum bahagia dan ketulusan di mata berbinar itu, namun lain hal yang dengan pengantin pria yang tidak berekspresi apapun.
Anton mengusap pelan wajah nya, mengatur emosi dan nafas nya yang sempat memberat. Hingga kini pria setengah baya itu memeluk Barra ala pelukan laki-laki nya.
"Happy marriage, son" Ujar Anton.
"Terimakasih Dad"
Anton mengurai pelukan nya dan bergantian menatap Queen. Baru saja pria itu mendekat berniat memeluk Queen layaknya seorang anak, namun denhan cepat Barra menahan nya bahkan pria itu menjauhkan tubuh Queen.
"Kak..!" Pekik kaget Queen saat tubuh nya tersentak.
"Maaf sayang. Apa ada yang sakit?" Tanya Barra saat melihat ekspresi Queen.
Queen menggeleng pelan, walaupun pada nyata nya ia merasakan sakit pada pinggang nya karena cengkraman Barra yang ia yakini secara tidak sengaja.
"Ayolah son, Daddy hanya ingin mengenal menantu Dad yang cantik ini" Rayu Anton.
Queen tersenyum malu mendengar pujian dari pria yang menyebut dirinya dengan sebutan Daddy.
"Tunggu! Daddy? Berarti dia orang tua nya kak Barra!" Batin Queen.
"Ha-halo om.." Sapa terbata Queen membungkuk sopan.
"Kok panggil nya om. Daddy dong!" Sahut riang Anton yang terdengar seperti perintah di telinga Queen.
"Emm.. Ma-maaf Dad" Queen menunduk, memang aura Barra dan pria di hadapan nya ini sangat sama. Begitu menyeramkan jika baru mengenal.
"Nama kamu Queen, bukan?"
Queen kembali mengangkat pandangan nya saat Anton kembali bersuara. Wanita itu mengangguk dan kembali tersenyum.
Tiba-tiba saja tangan Anton terangkat mengusap rambut Queen dengan tatapan penuh kehangatan nya. "Daddy titip Barra pada mu 'ya?"
Sesaat Queen mengernyit bingung, menatap Barra yang masih berekspresi datar. "Queen pasti akan menjaga kak Barra, Om--Dad"
Anton terkekeh pelan saat mendengar ucapan Queen yang masih belum terbiasa dengan panggilan nya.
"Baiklah, kenalkan ini Barri adik Barra" Anton menepuk bahu Barri yang langsung disambut dengan senyuman hangat pria itu.
Wajah nya sangat mirip dengan Barra, hanya saja Barri terlihat lebih ceria di bandingkan dengan Barra.
"Halo kakak ipar" Sapa Barri yang langsung di balas anggukan dan senyuman malu dari Queen.
"Yang ini istri Barri" Lanjut Anton mengusap rambut Bella sama seperti ia mengusap rambut Queen.
"Halo kakak ipar, aku Bella" Sapa Bella sama riang nya dengan Barri.
Queen kembali mengangguk, hampir saja wanita itu terkekeh karena mendengar sapaan mereka. Mata Queen lalu beralih pada wanita setengah baya dengan tampilan elegan dan mewah nya.
Seketika kepala Queen kembali menunduk saat melihat tatapan tajam dan penuh kebencian dari mata Arcy.
"Dan yang ini istri Daddy, Mommy Barra" Ujar Anton lagi. Namun kali ini nada bicara nya terdengar sangat malas.
"Ha-halo Mom--"
"Jangan memanggil ku denhan sebutan Mommy!" Sentak Arcy membuat tubuh Queen terlonjak kaget.
"Mom!" Tegur marah Anton.
Arcy hanya berdecih kemudian berlalu meninggalkan mereka. Sedangkan Barra yang awal nya merasa senang melihat sambutan para keluarga nya pada Queen, seketika rahang nya langsung mengetat dengan kepedihan di mata nya.
"Kami harus menyambut tamu yang lain, kalian nikmati saja pesta ini" Ujar dingin Barra yang langsung menuntun tubuh mungil Queen agar berjalan.
...****************...