Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Dalam bahaya



Ceklek~


Barra mengangkat pandangan nya begitu pintu ruangan nya di buka tanpa di ketuk terlebih dahulu atau pun mendapat izin masuk dari nya.


"Selamat siang kakak ku" Sapa riang Barri seraya menutup pintu ruangan Barra.


"Dimana sopan santun mu?" Sahut dingin Barra dengan tatapan datar nya.


Tanpa mau meminta maaf karena telah menganggu sang pemilik ruangan, dengan tenang nya Barri duduk dan bertopang kaki di hadapan sang kakak.


"Aku tidak mau basa-basi, dimana istri mu?"


Seketika rahang Barra mengetat, tatapan nya semakin tajam bahkan tangan nya yang semula tenang kini terkepal begitu erat.


"Apa maksud mu?" Tanya Barra dengan tatapan yang mulai tenang.


"Tidak usah berpura-pura lagi, aku sudah tau semua nya. Kak"


Barra terkekeh pelan seraya menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi kebesaran nya. "Sedang membuat rumor untuk ku, heum?" Tanya nya dengan nada remeh.


Mendengar pertanyaan itu sontak Barri pun ikut terkekeh. Setelah nya tatapan pria itu langsung terlihat begitu serius. "Queen Agatha" Ujar nya berhasil membuat Barra memukul meja nya.


Bahkan kini Barra sudah berdiri dan menarik kerah kemeja sang adik hingga membuat Barri memekik merasa sesak.


"Jangan bermain dengan ku, sialan!" Tekan Barra.


"Tenang brother, aku hanya bertanya kenapa kamu begitu emosi ukhuk" Barri terbatuk-batuk kala tarikan itu semakin mencekik leher nya.


Barra pun menghempaskan tubuh Barri kemudian berlalu ke hadapan pria itu. "Jangan menyentuh milik ku, sedikit pun!"


"Aku tidak berniat menyentuh atau menyakiti nya, Bar. Tetapi aku ingin melindungi nya juga"


"Cih! Tidak usah pura-pura baik di hadapan ku, atau kamu melakukan ini demi saham perusahaan ini?"


Barri berdecak kesal, tangan pria itu tengah melepaskan dasi dan kancing kemeja nya yang terasa mencekik leher nya.


"Main kan peran kita sebagai musuh di hadapan mereka, tapi jika seperti ini kita tetap lah saudara"


"Omong kosong!" Sentak Barra menghempaskan tangan Barri yang baru saja menyentuh bahu nya.


Barri menghela napas berat nya, ia tau Barra tidak akan percaya pada nya karena selama ini Barri terlalu mendalami peran nya sebagai adik yang jahat.


"Keluar!" Bentak tertahan Barra menunjuk pintu ruangan nya.


"Bar--"


"Keluar Barri!"


Barri terdiam mendengar Barra memanggil nama, karena seingat Barri pria yang berstatus sebagai kakak nya itu tidak pernah memanggil nama nya seperti ini.


"Ric--"


"Mommy sudah mengetahui nya" Potong Barri saat Barra hendak memanggil sang asisten nya.


Barra pun langsung terdiam menatap wajah Barri dengan tatapan menusuk nya.


"Mommy tau kamu sudah menikah sirih dengan perempuan itu, dan sudah sebulan ini Mommy mulai mencari informasi tentang nya"


"Dari mana dia tau?"


Barra terdiam, pria itu benar-benar membisu mendengar perkataan sang adik. Apa kah ia harus mempercayai Barri atau malah sebalik nya karena selama ini Barri dang sang Mommy terus berusaha menjatuhkan nya.


"Dimana perempuan itu? Aku akan membantu melindungi nya karena sangat bahaya jika Mommy menemukan dia terlebih lagi data diri nya"


"Tanpa bantuan dari mu, aku bisa melindungi nya sendiri" Sahut dingin Barra. "Dan sekarang silahlan keluar!"


"Bisa melindungi nya sendiri? Lalu bagaimana dengan ku yang berhasil mengetahui data diri nya? Dan sekarang Mommy juga sudah mengetahui nya, Bar!" Sentak tertahan Barri.


Barra kembali terdiam, pria itu tak lagi menatap wajah Barri tetapi kali ini Barra berjalan ke arah jendela ruangan nya dan menatap gedung-gedung pencakar langit di hadapan nya.


"Baiklah aku akan pergi, hubungi aku jika kamu benar-benar berubah pikiran" Pasrah Barri karena tak kunjung mendapat jawaban.


Setelah nya pria itu berlalu meninggalkan ruangan Barra, menyisakan sang pemilik ruangan yang kini menatap pintu tertutup itu.


Barra menekan tombol interkom yang menghubungkan ruangan nya dengan ruangan Ric. "Ric, ke ruangan ku sekarang!"


Tanpa menunggu lama pintu ruangan Barra pun di ketuk oleh orang yang sudah di pastikan adalah Ric.


"Masuk!"


Pintu terbuka dan benar saja orang itu adalah Ric, pria itu tergesa-gesa menutup pintu dan menghampiri sang bos yang terlihat sedang marah.


"Ada ap--"


Bugh!


Satu pukulan melayang di rahang tegas Ric hingga ucapan pria itu terhenti dan berganti dengan rintihan pelan nya.


"Apa yang mau kerjakan selama ini, sialan!" Bentak emosi Barra dengan napas memburu.


"Ada apa tuan?" Tanya Ric mengelakkan kemarahan Barra.


"Apa kau tau jika wanita tua itu dan Barri telah mengetahui kehadiran Queen?"


Ric terdiam beberapa saat kemudian kepala nya menggeleng pelan. "Tidak tuan"


Barra menggeram rendah, menekan amarah nya. Rahang nya semakin mengetat bahkan kedua tangan nya terkepal sangat kuat.


Ric menunduk, sejujurnya ia sangat terkejut mendengar penuturan Barra.


"Maaf tuan, saya lengah"


Barra memejamkan mata nya, mencoba mengatur emosi nya karena ini memang tidak sepenuh nya salah Ric.


Pria yang berstatus sebagai asisten nya itu menghandle semua masalah nya bahkan selama beberapa bulan ini Ric terus membantu nya menjatuhkan beberapa pemegang saham yang terus menekan nya.


"Saya terlalu fokus pada pekerjaan hingga mengabaikan kemanan nona. Maafkan saya tuan"


"Hubungi para penjaga di sisi Queen agar waspada dan tutup akses informasi data diri Queen" Titah Barra.


"Baik tuan"


"Pergilah!"


"Sekali lagi saya minta maaf, tuan" Setelah nya Ric pun berlalu meninggalkan ruangan Barra.


...****************...