
Sejun pun akhirnya mencium Jae-Hee yang sedang tertidur lelap....
Sejun ("lembut... kenyal....hangat.... dan..... manis...., Apa semua bibir cewek rasanya seperti ini?") /Tatapan yang lirih.
Secara perlahan Sejun terus mencium Jae-Hee, dan perlahan memasukkan lidahnya ke dalam. Lama kelamaan Sejun mulai menutup matanya dan menikmatinya, sensasi lembut dan hangat sebuah ciuman lama kelamaan menjadi basah dan panas. Hingga Jae-Hee merasa tidak nyaman dan mengerutkan keningnya, karena takut Jae-Hee terbangun secepatnya Sejun bangun dan menjauh dari Jae-Hee.
Sejun ("apa dia terbangun?!") /Menutupi mulutnya.
Setelah Sejun memastikan Jae-Hee merasa nyaman, Sejun baru pergi ke keluar dari kamar Jae-Hee dan pergi turun kebawah. Ternyata di bawah tangga sudah ada Dokja dan Shinwo, di sana Dokja seperti sedang menjelaskan tentang kejadian hari ini ke Shinwo.
Sejun "bisakah kalian menyingkir!" /Dingin.
Shinwo "apa kakak akan kembali bekerja?!" /Menyingkir.
Sejun "iya! Ada sedikit pekerjaan yang harus aku lakukan, aku akan pulang sedikit terlambat." /Berjalan keluar.
Dokja "oh, terimakasih sudah mau datang!" /Cengar-cengir.
Sejun "bodoh!" /Memalingkan wajahnya lalu pergi ke luar dan tersenyum.
Meskipun Sejun selalu memasang wajah dingin dan tak peduli, namun dia merasa senang karena dia bisa jadi orang pertama yang di hubungin di saat-saat seperti tadi.
Ke esokan harinya, Jae-Hee tiba-tiba terbangun dengan ekspresi bingung. Dia juga celingak-celinguk melihat sekelilingnya, namun saat dia melihat jam dia menjadi tambah terkejut karena sudah pagi.
.....
Jae-Hee /cepat-cepat bangun dari kasur. "Aaaah...., Kenapa kak Dokja tidak membangunkan ku!" /Buru-buru pergi ke kamar mandi.
Suk-Joo "apa aku tidak membangunkan, adek!" /Melihat Dokja setelah mendengar teriakan Jae-Hee yang terdengar hingga ke bawah.
Dokja "sudah! Aku bahkan membangunkannya beberapa kali, tolong percayalah padaku kak." /Membela diri.
Tak lama kemudian Jae-Hee pun datang ke ruang tengah dan duduk bersama yang lainnya untuk sarapan dengan ekspresi cemberut.
Jae-Hee "kakak jahat! Kenapa kakak tidak membangunkan ku?!" /Melihat Dokja dengan ekspresi cemberut.
Dokja "aku sudah membangunkan mu..." /Melihat Jae-Hee.
Jae-Hee "sungguh!" /Melihat Dokja.
Dokja "em, tapi kau tidak bangun bangun." /Dengan ekspresi serius.
Jae-Hee "sungguh...!" /Hampir tidak percaya.
Dokja "yah! Aku bahkan menarik selimutmu agar kau bangun, mencubit pipimu dan menarik tanganmu. Namun kau bahkan tetap tidak bergerak, aku sempat mengira jika kau tidak bernapas saat itu!" /Menceritakan dengan serius.
Jae-Hee "benarkah!" /sudah percaya sepenuhnya.
Dokja "aku yakin kau pasti tidak ingat bagaimana kita pulang kemarin?!" /Mulai mempermainkan Jae-Hee.
Jae-Hee "eng, enggak! Memangnya bagaiman caranya kita pulang kemarin?!" /Penasaran.
Saat Jae-Hee mengalihkan pandangannya karena bingung, saat itulah Dokja menahan tawanya karena melihat ekspresi Jae-Hee yang polos itu, sedangkan yang lainnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena kelakukan Dokja.
Dokja "baiklah aku akan memberi tahu mu, aku membawa kalian berdua dengan susah payah dan itu pun sambil berjalan...." /Menceritakan dengan serius.
Jae-Hee "tunggu! Apa maksud kakak dengan membawa kami berdua, apa kak Han-Joo juga tertidur?!" /Mulai curiga.
Dokja "Iyah! Mangkanya, itu membuat aku semakin susah membawa kalian berdua, aku tidak bisa menghentikan taxsi karena sudah tidak memiliki uang untuk membayarnya, dan ini semua karena mu yang selalu meminta beli cemilan." /Cemberut.
Jae-Hee "apa! Kakak sudah tidak memiliki uang lagi?!" /Sudah curiga.
Saat Dokja menceritakan imajinasinya, yang lain hanya mendengarkan dan memperhatikan mereka sambil sarapan. Mereka juga tidak menghentikan Dokja yang mengerjai Jae-Hee, dan hanya melihat apa yang sedang mereka lakukan.
.....
Jae-Hee "begitulah!" /Melihat Dokja dan merasa kasihan.
Dokja "iya....." /Pura-pura menagis.
Jae-Hee "lalu apa yang kakak ingin aku lakukan?" /Menatap Dokja dengan kasihan.
Dokja "apa kau mau melakukan apa yang kakakmu ini inginkan." /Sedih.
Jae-Hee "em apapun!" /Melihat Dokja.
Di saat-saat seperti ini Suk-Joo, Sejun, Shinwo, dan Han-Joo memerhatikan mereka berdua dan menuggu apa Yang selanjutnya terjadi.
......
Dokja "bisakah adek memijat pundak kakak?!" /Melihat Jae-Hee dengan ekspresi sedih.
Jae-Hee "oke! Dengan senaga hati." /Mulai mengepalkan tangannya.
Perlahan tapi pasti Jae-Hee seperti sedang mendidik bahu Dokja dengan seksama, dan memulai ancang-ancang dengan ekspresi yang sedikit menyeramkan. Semua yang melihat ekspresi Jae-Hee saat itu mulai sedikit takut dengannya kecuali Dokja, karena dia tidak melihat ekspresi Jae-Hee saat itu.
Shinwo ("tamat sudah riwayat Dokja!") /ngagak melihat Dokja yang tak sadari jika ada bahaya di sampingnya.
Han-Joo ("siapa aja tolong selamatkan bahu kak Dokja") /menutup sebelah mata.
Sejun ("kenapa aku bisa punya adik sebodoh dia!") /Memalingkan wajahnya.
Suk-Joo ("mungkin dengan musibah ini Dokja jadi lebih sadar untuk jangan terlalu berlebihan mengganggu adek!") /Ekspresi Buddha.
"BUAK!!!" /Terdengar Keras.
Dokja "aaaaaaargh! Dek kok malah mukul, sih" /memegang bahunya yang kesakitan habis di pukul Jae-Hee.
Shinwo ("aduh, sakit tuh pasti!") /Ngilu melihatnya.
Suk-Joo ("duh, sudah suaranya keras benget lagi!") /merinding melihatnya.
Jae-Hee "itu salah kakak sendiri kenapa bohong, jadi katakan yang sebenarnya! Apa yang terjadi." /melihat Dokja tajam.
Dokja "dari mana adek tahu kalo kakak bohong?" /Penasaran namun masih kesakitan.
Jae-Hee "saat kakak bilang, kalo kak Han-Joo juga tidur dan kakak membawa kami berdua, secara logis itu pasti mustahil apa lagi badan kak Han-Joo itu besar." /Melihat Han-Joo.
Dokja "hanya itu!" /Terkejut.
Jae-Hee "tidak! saat kakak bilang jika kakak tidak memiliki uang untuk membayar taxsi. Bukankah kakak memiliki banyak uang, karena selain kuliah kakak juga bekerja menggantikan kak Nam-Soo wamil sebagai akuntansi pribadi ayah jika ada waktu. Dan kakak juga masih diberi ayah uang bulanan dan gaji, di tambah lagi kita juga selalu diberi sedikit uang jajan oleh kak Suk-Joo jika kak Suk-Joo mendapat gaji." /Menatap Dokja dengan ekspresi datar.
Dokja "wah! Adek hebat sekali." /Kagum.
Sejun "apakah yang di katakan Jae-Hee itu benar, jika kau memberi mereka uang?!" /Melihat Suk-Joo.
Suk-Joo "iya, jika aku mendapatkan keuntungan saat bermain saham saja, aku memberi mereka uang." /Cengar-cengir.
Tidak hanya bekerja sebagai seorang dokter anak, jauh sebelum itu saat sih SMA kak Suk-Joo sudah bermain dengan pasar saham bersama kak Sejun. Dan itu pun masing-masing dari mereka pasti memiliki saham dari departemen yang mereka kuasai, namun hanya Shinwo, Han-Joo, dan Jae-Hee saja yang tidak memilikinya.
.....
^^^to be continued....^^^