
"Apa yang paman alami sampai paman berkata seperti itu?" /Tidak mengerti apa pun.
"Jika aku masih hidup, maka ini bukan lagi kehidupan ku, aku akan kembali lagi ketempat di mana aku selau diperintah untuk membunuh atau melindungi penjahat. Dari pada hidup seperti itu lebih baik aku mati saja." /Putus asa.
"Jadi paman tidak ingin hidup lagi?!" /Menatap tajam.
"Hem, tinggalkan aku sendiri nak dan pergilah dari sini, atau kau akan berada dalam bahaya." /Menutup matanya.
"Aku akan pergi jika paman memiliki uang." /Meulurkan tangannya.
"Ternyata kau tidak ingin kehilangan kesempatan, ambillah sendiri di mantel ku di sana mungkin ada beberapa uang." /Tersenyum dan pasrah.
Yoona pun mulai menggeledah mantel paman tersebut, tidak hanya menemukan dompet yang berisi uang yang berjumlah banyak Yoona juga menemukan dua senjata jenis Glock Meyer 22 dan Raging Bull 454 beserta peluru cadangan di dalam mantelnya.
"Simpan itu kembali, itu cukup berbahaya bagi seorang gadis kecil sepertimu." /Melihat Yoona yang terus memperhatikan.
Yoona hanya bisa menuruti perkataan paman tersebut dan menyimpan kembali senjatanya, Yoona hanya mengambil beberapa lembar uang yang ada di dalam dompet lalu mengembalikannya kembali.
"Kenapa di kembalikan?" /Heran.
"Karena aku hanya butuh untuk beli obat." / Kembali berdiri.
"Apa kau terluka?" /Melihat Yoona.
"Tidak! Tapi paman lah yang terluka jika tidak cepat di tangani maka paman akan mati." /Berbalik dan pergi meninggalkan paman itu.
"Dia gadis yang aneh, kita lihat apa yang akan dia lakukan." /Kembali menutup matanya.
Membutuhkan waktu yang lama hingga Yoona kembali dengan beberapa obat dan perban di tangannya, Yoona kembali ketempat itu lagi namun paman itu sudah tidak sadarkan diri sekeras apapun Yoona berusaha memanggilnya, namun dia tidak kunjung terbangun. Yoona pun memindahkan paman itu dengan sekuat tenaga ke tempat yang lebih hangat dari pada tempat paman itu terkapar, di sana Yoona berusaha keras untuk menyembuhkan paman tersebut sampai satu minggu kemudian, akhirnya paman itu sudah sadarkan diri.
Yoona "paman sudah bangun minuman lah, paman pasti haus." /Menyerahkan botol minum.
Namun paman itu hanya diam melihat Yoona tanpa berkata apa-apa.
Yoona "tenaga saja aku membelinya." /Menyodorkan.
"Kenapa kau menyelamatkan ku! Padahal aku sudah bilang jika aku tidak ingin hidup!" /Mulai marah.
"Paman yang dulu sudah tidak ada, sekarang yang ada di hadapanku adalah seorang pria yang tidak berdaya yang membutuhkan pertolongan." /Datar.
"Percuma saja kau melakukan semua ini karena aku sudah tidak memiliki tujuan untuk hidup." /Memalingkan wajahnya.
"begitu kah, kalo gitu hiduplah untuk melindungi ku, paman harus membayar hutang padaku karena aku telah menyelamatkan paman. Jika dulu paman sering merebut nyawa seseorang, kali ini jagalah nyawa gadis kecil di hadapanmu ini." /Tanpa ekspresi seperti biasa.
"Hah! Ha, hahahah......" /Tertawa sambil menutup matanya untuk menyembuhkan air matanya.
"Minuman lah, paman sudah tidak sadar selama satu minggu." /Masih menyodorkan tangan.
"Baiklah nak, siapa nama mu? Aku tidak akan bisa melindungi mu jika aku tidak tahu siapa nama mu kan" / mengambil air yang diserahkan.
"Nia! Ayahku memanggil ku Nia." /memiringkan kepalanya.
(Ceritanya Nia adalah nama aslinya, sedangkan Im Yoona adalah nama Korea-nya ya guys)
"Mereka menculik ku, aku dengar harga ku akan sangat tinggi di pasaran, karena aku memiliki kualitas yang tinggi. Dan aku dapat melarikan diri sehari sebelum mereka ingin mengirim ku di suatu tempat." /Mengambil makanan cepat saji yang dia beli.
"Yah, mereka ada benarnya juga! Karena kau memiliki mata berwarna hijau yang langka. Di tambah lagi kau terlihat cukup imut meskipun masih kecil." /Memperhatikan Yoona.
"Paman kau terdengar mesum! walaupun Aku sudah sering mendengarnya karena ayahku sering kali bilang." /Sambil makan.
"A-apa yang kau katakan! Ngomong-ngomong, darimana kau mendapatkan makanan itu?" /Melihat Yoona yang makan dengan lahap.
"Aku membelinya, bukankah aku sudah bilang jika aku juga membeli air yang paman minum! Menurut paman, dari mana aku bisa mendapatkan selimut obat dan makan saat ini, paman masih ingatkan jika kita masih berada di samping tempat sampah." /Tidak peduli dan masih lanjut makan.
"Hah, kau benar, aku sempat melupakannya untuk beberapa saat." /Melihat sekelilingnya.
"Apa paman mau?" /Menyodorkan makan yang dia makan.
"Tidak! Aku jadi tidak berselera makan untuk saat ini." /Serasa ingin muntah.
Yoona pun merasa tidak peduli dan masih makan, melihat Yoona yang makan dengan lahap dengan pakaian tipis nya yang sama ia kenakan saat pertama kali mereka bertemu apalagi dengan kondisinya sekarang yang membuatnya merasa jengkel dengan keadaan sekarang.
"Baiklah! Aku sudah memutuskan, nak sepertinya kita akan pindah ke tempat yang lebih baik dari ini, dan kita juga membutuhkan beberapa pakaian untukmu dan untukku juga." /Melihat ke adaan saat ini.
Untuk beberapa alasan paman dan Yoona itu pindah ke sebuah penginapan yang dekat dengan mereka, dan membeli beberapa pakaian yang layak di pakai untuknya dan Yoona.
"Untuk sementara waktu kita akan tinggal di sini, bukankah ini jauh lebih baik dari pada di tempat sampah itu." /Berada di dalam kamar penginapan.
"Terserah paman, dari pada itu sini biar aku bantu sampai ke kasur. Paman masih membutuhkan istirahat. " /Sedikit memapah paman meskipun tidak terlalu berguna.
Setelah di kasur paman itu mulai istirahat untuk memulihkan lukanya memang membutuhkan waktu lebih lama dari itu, dan itu memakan waktu hingga dua minggu sampai paman benar benar pulih.
"Jadi, sekali lagi aku akan bertanya dimana rumahmu?" /Dengan wajah serius menatap Yoona yang berada di depannya.
Setelah pulih paman berniat ingin membantu Yoona kembali pulang ke asalnya, saat sore harinya mereka dengan serius membicarakan itu sambil duduk di kursi dekat jendela yang sudah di sana.
"Aku tidak tahu!" /Menjawab dengan cepat tanpa ekspresi.
"Ggrrr, apa yang harus aku lakukan padamu?! Sudah tiga puluh menit aku bertanya dimana kau tinggal, tapi kau selalu saja berkata tidak tahu, jika begini bagaiman aku bisa mengantarkan mu pulang!" /Merasa pusing.
"Jika paman ingin mengantar ku pulang, aku akan memberitahu nomer pribadinya ayah."
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi, jika kau mengetahui nomer ayahmu?!" /Merasa kesal.
"Karena paman tidak bertanya padaku!" /Mengigat kembali jika paman hanya menanyakan alamat, jalan, dan negaranya.
"Yah, kau benar! Ini semua salahku kenapa sekarang aku begitu bodoh di depan seorang anak kecil, hah! Mungkin karena aku habis terluka." /Hanya menghibur dirinya.
^^^to be continued....^^^
. ðŸ˜GAK ADA YANG RESPON ðŸ˜