
Ayla yang datang dengan senyum menuju meja resepsionis. Seperti biasa sebelum memulai bekerja Ayla akan menyapa karyawan yang ada di sekitarnya .
Namun kali ini berbeda,tatapan khawatir para karyawan tampak jelas setelah melihat kedatangan Ayla .
"Hai , selamat pagi..
"Hai Ayla , selamat pagi" ucap karyawan dengan nada yang pelan tanpa semangat .
"Ada apa dengan ekspresi wajah itu? Ayla mulai tampak khawatir dan jantung nya mulai berdetak tidak menentu.
"Ay laa ... kamu jangan kaget ya..
"ya kenapa ? katakan dengan jelas jangan membuat ku bingung.! ayla mulai menaikan nada suara nya
"hmm... ayla kamu di panggil ke ruangan pak boy.. semua karyawan tampak khawatir twrhadap ayla.
"aku... a..ku ? kenapa dengan ku? apa aku melakukan kesalahan ? tanya ayla yang sudah gugup. Disisi lain Ayla teringat kejadian kemarin. "mungkin kah dia akan melimpahkan segala nya kepada ku? mungkin kah aku akan di pecat? atau apa yang akan dia lakukan?" ayla terus berdebat di dalam hati. Ia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
Ucapan Anastasya malah di luar dari yang di harapkan.
Dengan kaki yang sedikit gemetar dan jantung yang berdetak kencang Ayla menaiki lift menuju lantai 7.
Nafas nya seperti orang yang baru selesai berlari,tidak karuan.
"Aylaaaa,ayo tenang lah. Tidak akan terjadi apa apa!" Ayla terus menyakinkan dirinya sendiri.
Lift itu berhenti di tempat yang Ia tuju. Jantung nya semakin berdetak hebat. Ia keluar dari lift. Menuju meja sekretaris yang ada di depan pintu ruangan Boy.
"Ku dengar tuan muda memanggil ku" ucap ayla kepada sekretaris tersebut.
Sekretaris tersebut memegang gagang telpon yang ada di depan nya "Tuan apa anda memanggil seseorang ?
"Ya , tanyakan pada nya apakah nama nya Ayla.!"
Apa anda nona Ayla ? tanya sekretaris tersebut
"benar,saya ayla" jawab ayla dengan nada ketakutan.
"suruh dia masuk ke dalam!"
"silahkan masuk nona. Tuan boy sudah menunggu di dalam".
Ayla mengetuk pintu itu,dengan harapan tidak akan terjadi apa apa.
"masuk" terdengar suara tegas yang menakutkan .
"aaaaa.. kenapa harus berakhir di ruangan ini? aku kan tidak melakukan apa apa" Ayla menggerutu di dalam hati nya.
"Tuan memanggil saya?" kaki ayla mulai bergetar hebat.
"Ya , silahkan duduk"
Ayla duduk di sofa yang telah tersedia di ruangan itu.
"aa..pa saya melakukan kesalahan tuan?apa karena kejadian kemarin?
"kenapa pertanyaan mu banyak sekali,mana yang harus aku jawab duluan?" ucap boy dengan suara pelan namun jelas tegas sekali.
Ayla hanya bisa terdiam dan menunduk kan kepala nya. Tidak berani melanjutkan pertanyaan nya ataupun menjawab pertanyaan Boy.
Seketika ruangan itu hening,tanpa suara apapun. Ketegangan tingkat tinggi hanya di rasakan oleh Ayla seorang diri.
"Kau berteman dekat dengan pemilik cafe?" Boy memberi pertanyaan yang membuat Ayla heran dan bingung,
Ayla sudah mengira ia akan melimpahkan kesalahan kemarin kepada Ayla . "mengapa ia menanyakan pemilik cafe? yang dia maksud kan Anastasya kan?..
"Kenapa kau hanya diam? Boy menatap Ayla yang terdiam.
"maaf tuan, pemilik cafe yang tuan maksud kan nama nya Anastasya tuan. Saya memang berteman dekat dengan nya,bahkan kami sudah seperti sepasang saudara". Seperti nya Ketakutan Ayla sudah mulai berkurang,tidak seperti saat memasuki ruangan itu.
"Ooh begitu, Apa dia memang mengelola cafe itu sendiri? atau itu punya orangtua nya ? boy tampak nya semakin penasaran.
"Tidak tuan, itu milik Anastasya sendiri,dia yang mengelola nya sendiri"
Ayla tampak seperti meyakinkan Boy.