Axel Williams

Axel Williams
Bab 9.



Axel dan Lovely selesai membuat roti isi dan kentang panggang. Roti isi kali ini berbeda, proses pembuatanya juga cukup rumit, begitu juga kentang panggang yang terlihat menggugah selera.


"Ini pasti lezat. Terima kasih sayang," puji Lovely menepuk bahu Axel.


"Bukan masalah, Ma. Bukankah Mama yang memasak, aku hanya membantu saja semampuku." Sahut Axel.


"Tetap saja, kau sudah membantu Mama hari ini. Mama senang sekali," jawab Lovely tersenyum. Lovely menatap Axel, "Pergilah mandi, lalu sarapan." Pinta Lovely meminta Axel untuk bergegas mandi.


"Oke, Ma." Jawab Axel.


Axel melepas apron dengan segera dan langsung berjalan cepat menuju kamarnya. Lovely merasa lega, melihat Axel baik-baik saja. Saat berbincang juga terlihat tidak ada masalah, aura dingin memang tidak lepas dari Axel, namun Lovely tahu jika putranya pasti punya sisi hangat yang tersimpan jauh di dalam lubuk hati.


"Mirip sekali, Axel begitu mirip seperti Andrew. Baik sikap maupun karakter keduanya tidak jauh berbeda. Namun keduanya tidak menyadari akan hal itu," batin Lovely mengeluh.


"Semua sudah siap, lebih baik aku bangunkan Andrew dulu. Dia pergi ke kantor apa tidak, ya?" gumam Lovely yang melepas apron dan berjalan meninggalkan dapur, untuk kembali ke kamar tidurnya.


***


Axel selesai mandi, ia berjalan menuju lemari pakaiannya dan membuka lemari tersebut. Dipilihnya stelan jas kerjanya berawarna hitam. Axel menutup kembali lemari pakaiannya, ia langsung berganti pakaian. Kemeja telah terpakai, dengan menatap kaca, Axel mengancingkan kemejanya. Tatapan mata yang begitu tajam, aura dingin sudah memenuhi seisi kamar.


Beberapa menit kemudian, Axel pun selesai berganti pakaian. Terlihat Axel masih berdiri di depan cermin, ia menatap lekat ke arah cermin.


"Hari pertama setelah libur seminggu. Axel, ayo kerja!" seru Axel menyemangati diri sendiri.


Sebenarnya meski berada di rumah Reynold selama seminggu, Axel juga tidak lepas tangan begitu saja pada pekerjaanya. Axel selalu bertanggung jawab pada pekerjaanya, tidak pernah ada kata main-main dalam kamusnya jika itu menyangkut pekerjaan. Karena ia tahu, jika ia lengah sedikit saja, maka kedudukannya akan lengser.


Pemikiran yang aneh memang. Namun itulah Axel, ia memang selalu bersaing dengan Azel. Axel tidak mau di pandang rendah Azel, ia akan berusaha mencari namanya sendiri dan tidak bergantung pada kekuasaan Andrew.


Meski lebih unggul dari Azel, bukan berarti Axel akan puas. Axel selalu mencari cela mengembangkan koneksinya, bahkan tidak ragu-ragu untuk menunjukan pada Azel dan Andrew, jika dia mampu menjangkau hal yang belum pernah Papa dan saudara kembarnya capai selama ini.


Axel mengambil ponselnya dari nakas dan memasukannya ke saku jas. Mata elangnya menatap jam yang melingkar di tangannya, Axel pun berjalan pergi meninggalkan kamarnya untuk pergi sarapan.


***


Di meja makan, semua berkumpul. Ada Andrew, Lovely, Axel, Azel dan Alica yang sudah bersiap untuk sarapan bersama. Lovely berkeliling membagikan roti isi buatanya dan Axel, kesemua piring di atas meja secara merata.


"Terima kasih, Mama. Ini terlihat lezat," ucap Alica tersenyum senang saat menerima bagiannya.


Lovely tersenyum, "Ada kentang panggang juga. Jika kau mau, bawalah untuk perjalananmu nanti," kata Lovely menawarkan.


Alica mengangguk, "Iya, Ma." Jawab Alica


"Terima kasih, Ma." ucap Azel.


Azel tersenyum, manakala piringnya terisi dengan roti isi yang terlihat lezat. Lovely menepuk bahu Azel dan membalas senyuman Azel.


"Makanlah," kata Lovely dengan lembut pada Azel.


Lovely melangkah mendekati Axel, Axel langsung mengambil rotinya sendiri dan langsung melahap roti isi ditangannya. Semua terkejut, Lovely tersenyum dan lalu meletakan roti isi di piring Andrew.


"Sudah-sudah, ayo makan. Jangan ada suara saat makan," kata Lovely memerintahkan semuanya makan dan diam.


Lovely menarik kursi dan duduk di antara Andrew dan Axel. Lovely melihat satu per satu anggota keluarganya yang sedang menikmati roti isi.


Melihat Mamanya yang diam, Azel berdiri dari duduknya dan melayani Mamanya. Azel meletakan roti isi di piring Mamanya. Lovely tersenyum menatap Azel, tidak lupa mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih sayang, makanlah." Kata Lovely menatap Azel.


"Ya, Ma. Sama-sama. Mama juga," jawab Azel.


Azel menatap Axel, Axel membalas tatapan mata Azel tanpa berkomentar. Andrew juga diam tidak bicara apa-apa, namun matanya sesekali menatap Axel. Andrew masih mengingat ucapan Adik iparnya Alex, agar tidak terlalu mengekang Axel.


"Aku akan lihat kemampuanmu anak keras kepala. Jika kau memuaskanku dengan kinerjamu, aku tidak akan mengekangmu lagi. Aku akan berikan kesempatan untukmu," batin Andrew.


Uhukk... uhuuukkk...


Tiba-tiba Axel tersedak. Axel langsung menggapai gelas air minum di meja dan langsung meminumnya.


"Sial, siapa yang bergosip di belakangku. Menyebalkan sekali orang yang suka bergosip. Semoga saja orang itu juga tersedak," batin Axel kesal.


Uhuuukkk....


"Ada apa denganmu? makan saja sampai tersedak," kata Lovely.


Andrew meletakan gelas air minum di atas meja, "Aku baik-baik saja. Lanjutkan makanmu, sayang." kata Andrew dengan tersenyum.


Axel menatap Andrew, "Jangan-jangan dia sedang membicarakanku dalam hatinya. Mencurigakan sekali," batin Axel.


Lovely kembali duduk, Andrew menatap Axel dan Axel pun dengan cepat langsung membuang pandangan ke arah lain. Axel tidak ingin bertatap muka dengan Andrew.


"Ada apa dengan Papa dan Anak ini," batin Lovely yang langsung memakan roti isinya.


Azel dan Alica hanya melihat tanpa bicara. Semua kembali makan makanan masing-masing sampai akhirnya waktu sarapan mereka usai, dan sarapan mereka semua habis.


Azel berpamitan pada Lovely dan Alica, seperti biasa pelukan dan kecupan untuk Mama dan Adik tersayang selalu dilakukannya. Hal itu juga dilakukan Andrew, pada Istri dan putrinya.


Axel berdiri dari duduknya, "Aku berangkat," kata Axel yang langsung pergi.


Axel pergi meninggalkan meja makan. Setiap hari ia selalu melewatkan momen kebersamaan dan enggan untuk mengikuti kebiasaan pagi yang menurutnya aneh.


"Apa bagusnya, pergi bekerja saja harus bepelukan dan memberikan kecupan. Hal yang aneh," batin Axel berjalan mendekati mobilnya.


Axel segera membuka pintu mobil dan naik dalam mobil, Axel kembali menutup pintu mobilnya, dengan segera melesat pergi meninggalkan rumah. Sesaat kemuadian, Lovely dan Alica mengantar kepergian Andrew dan Azel yang hendak pergi ke kantor.


"Hati-hati, Papa, Kak Azel...." ucap Alica.


"Iya, sayang. Kau juga hati-hati saat pergi nanti. Jika ada sesuatu, kau bisa hubungi aku," kata Azel.


Alica tersenyum, "Ya, Kak." jawab Alica.


"Jaga dirimu," kata Andrew yang kembali mencium kening Alica. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke istrinya,"Kau juga, sayang." imbuh Andrew yang lalu mencium kening Lovely untuk kedua kalinya.


"Pa, pergi denganku saja." ajak Azel.


"Oh, oke. Ayo," sahut Andrew.


"Iya, Pa." jawab Azel. Andrew dan Azel melangkah menjauhi Lovely dan Alica.


"Hati-hati sayang," kata Lovely melambai.


Andrew dan Azel masuk dalam mobil bersama-sama. Keduanya kembali melambai pada Lovely dan Alica, Azel langsung mengemudikan mobilnya pergi meninggalkan rumah menuju kantor.


Mobil sudah pergi semakin jauh. Lovely dan Alica kembali masuk dalam rumah, Alica membantu Mamanya merapikan meja makan dibantu seorang pelayan.


"Biarkan saya saja, Nyonya." Kata pelayan menawarkan diri.


"Oh, oke. Terima kasih," kata Lovely memberikan piring kotor pada pelayan.


Alica juga memberikan piring kotor di tangannya pada pelayan. Pelayan menerima piring kotor dari Alica, menumpuknya dengan piring kotor yang lain lalu dibawanya ke dapur untuk segera dicuci.


"Mama, ada yang berbeda dengan roti isi yang Mama buat pagi ini," kata Alica bersuara.


"Apa yang berbeda?" tanya Lovely.


"Entahlah, terasa lebih lezat saja." jawab Alica begitu saja.


"Kakakmu Axel yang membuatnya," jawab Lovely.


"Apa?" kaget Alica.


"Kenapa? ada yang aneh?" tanya Lovely.


Alica tersenyum canggung, "Haha, tidak ada, Ma." jawab Alica.


"Wow, Axel si iblis bisa memasak. Hebat juga dia," batin Alica memuji Axel.


"Baiklah, Ma. Aku akan kembali ke kamar dan bersiap untuk pergi ke panti asuhan," kata Alica.


"Iya sayang," jawab Lovely lembut.


Alica pun pergi mrninggalkan meja makan dan Mamanya. Dengan langkah kaki lamban, ia berjalan untuk kembali ke kamarnya. Ia hendak bersiap, karena ia akan pergi ke panti asuhan.