
Karena stres berada di rumah, siang itu Rowena memutuskan pergi untuk makan siang di luar rumah. Hal tidak terduga terjadi, Rowena tanpa sengaja melihat Merry bersama beberapa orang temannya baru saja tiba di restoran. Rowena terus menatap ke arah Merry dengan penuh kekesalan. Garpunya ditusuk-tusuk pada steaknya di dalam piring.
"Wanita busuk, aku akan beri kau pelajaran. Aku akan buat kau menderita seperti Ricardo," gumam Rowena dalam hatinya.
Tidak jauh dari pandangan Rowena, terlihat Merry duduk bersama dua temannya dan memesan makanan. Pelayan pergi, Merry dan teman-temannya itu berbincang dan tertawa lepas seakan tidak ada beban.
Rowena yang panas hati semakin mendidih. Kali ini benar-benar tidak bisa tahan lagi. Rowena berdiri dari duduknya, ia membawa segelas jus jeruknya dan berjalan mendekati Merry yang asik mengobrol. Rowena berdiri tepat di belakang Merry. Dengan senyum masam penuh murka, Rowena menuang jus jeruk ke kepala Merry dan hal itu membuat Merry terkejut.
"Apa ini?" sentak Merry.
Merry berdiri dari duduknya dan berpaling menatap ke belakang. Matanya melebar saat ia mendapati Rowena ada di belakangnga dengan membawa gelas di tangannya.
Rowena tersenyum, "Segar bukan?" kata Rowena dingin.
"Kau? berani-beraninya kau menyiramku dengan jus," kata Merry kesal.
Plakkkkk....
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Merry. Rowena menampar Merry di hadapan teman-temannya dan banyak orang.
"Kenapa tidak? aku bahkan baru saja menamparmu. Siapa kau melukai hati Kakakku? kau wanita busuk dan licik, Merry. Kau hanya memanfaatkan Kakakku demi keuntunganmu. Ketulusan Kakakku, kau balas dengan pengkhianatan. Sungguh wanita tidak tahu malu," maki Rowena.
"Tutup mulutmu, Rowena!" seru Merry merasa dipermalukan.
Merry mengangkat tangannya ke arah Rowena hendak menampar Rowena. Belum sampai tangan Merry menyentuh wajah Rowena, Rowena lebih dulu mencengkram tangan Merry.
"Kau ingin menanparku? tidak semudah itu," kata Rowena menepis tangan Merry.
Rowena mendekati Merry dan menarik rambut Merry, "Dengar baik-baik kalian berdua. Jangan percaya apa yang wanita ini katakan. Dia pembohong, dia penipu. Kakakku sudah menjadi korbannya," ungkap Rowena di hadapan kedua teman Merry dan di hadapan semua orang.
"Merry, benarkah itu?" sahut seorang teman Merry yang langsung berdiri dari duduknya.
Rowena tersenyum melihat teman Merry yang terkejut. Merry merasa kesal, ia meneriaki Rowena untuk melepas cengkramannya.
"Lepaskan tanganmu!" seru Merry.
"Opss," jawab Rowena melepas cengkramannya.
Rowena mundur beberapa langkah menjauhi Merry, dengan tatapan kesalnya terus menatap Merry.
"Jangan kau kira kau bisa menghindariku, Merry. Kau adalah wanita terlicik yang pernah kutemui. Kau tidak punya perasaan," geram Rowena mencengkram gelas di tangannya.
"Cukup! hentikan omong kosongmu. Aku tidak mengenalmu dan tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Jangan menuduhku yang bukan-bukan," elak Merry membela diri.
Rowena terkejut dan langsung tertawa lebar, "Hahahaha, sungguh luar biasa aktingmu itu. Terserah saja kau ingin mengelak atau apa pun itu, aku bisa buktikan jika kau memang pengkhianat. Kau memanfaatkan keluarga kami untuk tujuanmu." kata Rowena menatap tajam ke arah Merry.
"Dan kalian," Rowena menatap dua teman Merry, "Aku sarankan kalian menjauhi wanita ini. Mungkin saja wanita jahat ini akan merayu kakak atau adik laki-laki kalian, dan mencampakkannya setelah mendapatkan keuntungan. Kakakku sudah jadi korbannya, jangan sampai saudara kalian mengalami hal serupa." kata Rowena memperingatkan teman-teman Merry.
Merry menatap kedua temannya, "Tidak. Jangan dengar ucapannya. Dia hanya bicara omong kosong saja," kata Merry.
"Aku rasa tidak, jika memang bicara omong kosong mana mungkin dia terlihat kesal dan menyirammu," kata seorang teman Merry.
"Maafkan aku Merry, kami tidak bisa menemanimu makan siang. Ayo Hana, kita ke kasir dan pergi." ajak teman Merry yang satu lagi.
"Ya, untuk apa kita di sini."
Kedua teman Merry pun pergi. Rowena merasa menang saat itu, hatinya begitu bahagia melihat Merry yang terlihat kesal dan marah.
"Temanmu pergi? bagaimana perasaanmu? apa kau merasa sakit dan malu?" ejek Rowena.
"Silakan," jawab Rowena menerima ancaman Merry.
Merry pun pergi meninggalkan Rowena. Rowena menatap kepergian Merry dengan senyuman seakan mengejek.
***
Axel selesai makan siang, ia memanggil pelayan untuk membayar tagihan. Tidak lama pelayan datang dan menerima sejumlah uang dari Axel.
"Ambilah sisanya," kata Axel yang langsung berdiri dan beranjak pergi.
Ponsel Axel bergetar, Axel merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponselnya. Axel menatap layar ponselnya, ternyata Joe memanggil. Axel menerima panggilan dan berbincang dengan Joe. Kakinya terus melangkah menuju pintu restoran.
Tanpa diduga, seorang wanita berdiri dan berjalan tanpa melihat jalan yang dilaluinya, sehingga menabrak Axel.
"Maaf," kata wanita itu, yang tak lain adalah Rowena.
Axel menghentikan langkahnya seketika bertabrakan dengan Rowena. Mata Axel menatap Rowena dengan posisi masih menerima panggilan dari Joe.
"Jika sudah selesai, kembalih ke kantor," kata Axel yang langsung mengakhiri panggilan dari Joe.
"Apa kau tidak bisa melihat jalan? Atau sengaja ingin melempar dirimu padaku?" tanya Axel dingin.
Rowena terkejut, "Jaga ucapanmu. Aku bukan wanita rendahan!" sentak Rowena.
"Terserah, bagiku kau terlihat seperti itu." kata Axel.
Axel langsung pergi, ia tidak ingin membuang waktu meladeni Rowena. Rowena yang sudah emosi karena Merry, kini harus emosi mendengar ucapan Axel.
"Hei, kau! berhenti!" teriak Rowena.
Axel tidak menghiraukan Rowena. Axel hanya tersenyum simpul dan terus berjalan sampai keluar dari restorant.
"Sial, kau sangat menjengkelkan seperti Merry. Jika ada pertemuan selanjutnya, aku akan membalasmu. Berani sekali menghinaku," omel Rowena kesal.
Rowena pun pergi meninggalkan restorant. Perasaannya kacau, meski sudah membalas Merry tapi masih belum ada rasa puas karena Merry belum sepenuhnya menerima hukuman.
***
Rowena sampai di rumah. Baru saja dirinya masuk dalam rumah, ia dikejutkan oleh Ricardo yang membanting barang-barang, membuat seisi rumah berantakan.
"Kakak, apa yang kau lakukan?" tegur Rowena.
Ricardo mengepalkan tangan memukul meja makan. Berkali-kali ia mengumpat dan meracau tidak jelas. Rowena panik, ia mendekati Ricardo dan mencoba untuk menenangkan Ricardo.
"Kak, ada apa?" tanya Rowena.
Ricardo menatap Rowena, "Maafkan aku Rowena. Sepertinya aku tidak bisa lagi mempertahankan perusahaan." kata Ricardo putus asa.
"Apa maksudmu, Kak? bagaimana bisa? jangan bicara seperti itu, kita masih bisa memakai uang peninggalan nenek." sahut Rowena memberi solusi.
Ricardo menggeleng, "Semua sudah terpakai Rowena. Tidak ada lagi yang tersisa, kita sudah tidak bisa hidup seperti dulu lagi. Kita tidak punya apa-apa sekarang," jelas Ricardo.
"Aku masih punya tabungan. Kita masih ada harapan," kata Rowena lagi.
Ricardo meraba wajah Rowena dan menatap dalam mata Rowena, "Seberapa banyak yang kau miliki. Itu bahkan tidak akan cukup untuk membayar semua gaji karyawan kita. Semenjak kejadian itu, semuanya sudah hancur." sahut Rocardo tersenyum masam.
Ponsel Ricardo berdering, Rowena melihat itu panggilan dari asisten pribadi Ricardo. Tanpa ragu Rowena langsung menyambar ponsel Ricardo yang tergeletak di atas meja.