
Axel pergi mencari Rowena, berdasarkan apa yang ada dalam ingatannya ia pergi ke sebuah toko yang menjual roti dan kue. Banyak orang berkerumun di sana, ada sesuatu yang terlewatkan oleh Axel.
"Oh, tidak. sepertinya aku terlambat," batin Axel berlari mendekati kerumunan.
Axel melihat Rowena sedang bertengkar dengan seseorang. Seseorang itu tidak lain adalah Merry, mantan tunangan Kakak Rowena, Ricardo. Terlihat penampilan Rowena yang kacau. Kedua wanita itu saling menarik rambut dari masing-masing lawan. Axel segera melerai pertengkaran itu.
"Kalian berdua, hentikan!" seru Axel, berdiri di antara Rowena dan Merry.
"Siapa kau?" tanya Merry kesal karena tidak bisa lagi melepaskan amarahnya.
"Tidak penting siapa aku. Kenapa kau melukainya? apa yang kau inginkan?" tanya balik Axel menatap Merry.
"Hah, kau akan melindunginya? aku kesal padanya, dia menyebutku wanita murahan." kata Merry penuh emosi.
"Kau memang murahan! kau juga sampah!" sahut Rowena kesal.
"Tutup mulutmu, sialan!" sentak Merry.
Merry hendak meraih rambut Rowena, namun aksinya dihentikan oleh Axel.
"Cukup, hentikan ini. Kau berani sekali di hadapanku," ucap Axel geram.
Merry menatap Axel, "Oh, aku mengerti sekarang. Rowena, apakah pria ini kekasih gelapmu? kau wanita simpanannya? Hahaha," tawa Merry seakan mengejek Rowena dan Axel.
"Wanita ini," geram Rowena ingin mendekati Merry namun dihadang oleh Axel.
"Jangan hiraukan dia. Tenanglah," lirih Axel menatap Rowena.
"Tapi dia," jawab Rowena. Rowena memendam kekesalannya pada Merry.
"Siapa dia?" tanya Axel pada Rowena.
"Dia Merry, wanita yang membuat Kakakku menderita," jawab Rowena terlihat sedih.
Axel terdiam, Axel mengusap bahu Rowena dan menghela napas. Lalu ia memalingkan wajah menatap Merry.
"Hei kau," panggil Axel pada Merry.
"Apa? kau masih ingin menyangkal?" kata Merry.
Axel tersenyum tipis, "Haha," tawa Axel.
Ia menatap tajam ke arah Merry, "Kau benar. Ada sesuatu antara aku dan Rowena. Tetapi hubungan kami adalah hubungan yang sehat tanpa niatan busuk seperti yang kau lakukan. Apa kau tidak sadar sesuatu?" kata Axel. Berbalik menyerang Merry.
Merry mengernyitkan dahi, "Apa maksudmu? tanya Merry bingung.
"Apa maksudku apa perlu aku katakan? kau ingin kebusukanmu terungkap di sini? apa kau yakin?" jawab Axel tanpa mengalihkan tatapannya dari Merry.
Merry melihat sekeliling, di sana masih ada banyak orang yang melihatnya. Merry tidak mengerti maksud Axel, namun ia yakin jika pria di hadapannya itu berniat tidak baik.
"Kali ini kau selamat Rowena, jika lain kali kita bertemu lagi. Kau tidak akan aku lepaskan," kata Merry.
"Kaulah yang tidak aku lepaskan. Jangan mengancam Rowena," sahut Axel.
Merry segera pergi, tidak ingin memperpanjang perdebatan saat itu. Axel dan Rowena melihat kepergian Merry yang terburu-buru.
"Ayo," ajak Axel. Menarik tangan Rowena pergi.
Rowena dan Axel masuk dalam toko roti dan kue. Keduanya saling diam, beberapa orang membicarakan kejadian sebelumnya sembari menatap arah Rowena.
"Bagaimana bisa kau datang?" kata Rowena setengah berbisik.
"Ada apa? jika aku tak datang, kau pasti cidera serius. Aku tidak ingin orangku terluka," jawab Axel.
"Hei," panggil Rewena. "Ah, maksudku Tuanku, Bossku," kata Rowena, mengulang panggilannya untuk Axel.
"Cepat pilih dan pergi dari sini. Apa kau tidak melihat dan mendengar? banyak orang membicarakanmu," ucap Axel.
Rowena melirik sekitarnya, "Ya, aku melihatnya, aku juga mendengarnya. Kejadian tadi bukan hanya salahku, wanita gila itu yang tiba-tiba menyerangku. Aku hanya melindungiku diri," jelas Rowena.
"Hm, jelaskan sisanya nanti. Cepatlah," desak Axel.
Rowena cepat-cepat memilih dan seegra ke kasir bersama Axel. Axel melakukan transaksi pembayaran, ia membawa tas berisi roti dan kue dan segera pergi bersama Rowena meninggalkan tempat tersebut. Keduanya kembali ke tempat semula, Rowena nampak tergopoh mengikuti gerakan Axel yang begitu cepat.
"Pria ini, dia jalan seperti berlari. Apa tidak bisa pelan-pelan?"gerutu Rowena dalam hati.
***
Malam harinya. Sepanjang hari setelah kejadian sebelumnya, Axel tidak banyak bicara pada Rowena. Rowena diam di kamarnya dan terlihat risau. Ingin sekali ia menemui Axel di kamarnya dan bertanya mengenai sikapnya.
"Aku bisa gila jika seperti ini terus. Arggghh," kesal Rowena.
Rowena mondar mandir di kamarnya. Ia tidak tahan lagi, segera ia pergi berjalan ke arah pintu dan keluar dari kamarnya. Rowena pergi ke kamar Axel. Di depan pintu kamar Axel, Rowena berdiri beberapa saat sebelum akhirnya mengetuk pintu.
Tok ... Tok ... Tok ...
Rowena mengetuk pintu kamar Axel pelan.
"Apakah dia sudah tidur? Ini baru pukul sembilan malam," batin Rowena.
Tok ... Tok ... Tok ...
Rowena kembali mengetuk pintu dengan tidak sabarnya.
Cklekk ...
Pintu terbuka, namun tidak terlihat siapa-siapa. Rowena langsung masuk dan terkejut melihat Axel di belakang pintu menatapnya tajam.
"Hei, kau kenapa menatapku seperti itu? mengesalkan sekali," kata Rowena menutup pintu dan berjalan menjauh dari Axel.
"Kenapa kau ke sini? aku tidak memanggilmu kan?" tanya Axel menyilangkan dua tangannya di dada.
Rowena melebarkan mata, ia terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Rowena tidak berpikir alasan apa yang harus ia gunakan untuk datang ke kamar Axel.
"Aku, aku, aku ..." kata Rowena terhenti.
"Aku?" ulang Axel melangkah mendekati Rowena.
"Aku, aku, aku hanya ingin merapikan pakaianmu. Ya, aku ingin merapikan pakaianmu," kata Rowena beralasan.
Axel tersenyum tipis, "Sungguh? hanya ingin merapikan pakaianku?" goda Axel, berdiri semakin dekat dengan Rowena.
"Pria ini, sungguh menyebalkan. Bagaimana bisa aku mencari alasan lain?" batin Rowena kebingungan.
Rowena dengan cepat berbalik, ia tidak menyadari jika Axel ada tepat di belakannya dengan posisi kepalanya ada di antara leher dan bahu Rowena. Axel berniat menggoda Rowena namun hal lain yang justru terajadi. Karena gerakan Rowena yang begitu tiba-tiba, juga posisi Axel yang seperti itu maka terjadilah hal di luar dugaan mereka. Rowena tanpa sengaja mencium tepi bibir Axel, dan keduanya sama-sama terkejut. Rowena langsung sadar dan mendorong dirinya jauh dari Axel. Axel menjadi canggung, ia segera pindah posisi duduk di sofa.
"itu, itu kecelakaan. Aku tidak bermaksud seperti itu," lirih Rowena.
"Hm, lupakan. Bereskan pakaianku. Karena kita akan kembali besok," kata Axel, masih dengan rasa terkejutnya.
Rowena segera merapikan pakaian-pakaian Axel. Axel yang duduk di sofa sesekali melirik arah Rowena yang sibuk. Ia meraba tepi bibir sebelah kanannya, terbayang akan kejadian tidak terduga itu.
"A, apa yang kupikirkan? kenapa juga aku tegang hanya karena tak sengaja dicium Rowena? Lupakan, Axel. Itu tidaklah penting," batin Axel.
Rowena sibuk memasukan pakaian Axel ke dalam koper. Ia menyiapkan pakaian ganti Axel untuk esok hari, dengan cekatan Rowena melakukan pekerjaannya.