Axel Williams

Axel Williams
Bab 50.



Deg ... Deg ... Deg ...


"Kau tidak apa?" tanya Axel.


Rowena menggeleng, "Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku," jawab Rowena.


Axel melepas pelukannya, "Bodoh, bisa-bisanya menabrakku. Apa kau tidak bisa melihat?" kata Axel merasa sedikit kesal.


"Maaf, aku sedang memikirkan hal lain. Siapa mengira kau tiba-tiba berhenti tepat di hadapanku," omel Rowena.


"Sudah-sudah, tidak akan selesai berdebat denganmu. Ayo, pulang," kata Axel menggandeng tangan Rowena.


Rowena hanya diam mengikuti Axel. Keduanya segera pergi meninggalkan pantai untuk kembali pulang ke rumah.


Karena Rowena mengeluh lapar, maka Axel mengajak Rowena makan terlebih dulu sebelum pulang. Rowena senang, saat Axel mengajak makan ditempat favoritnya. Seperti biasa, Rowena memesan makanan yang disukainya, baik itu hidangan pembuka, hidangan utama maupun hidangan penutup.


Axel tidak heran, nafsu makan yang luar biasa besar Rowena miliki. Axel mengabaikan semuanya, selama Rowena senang ia tidak melarang, Axel mungkin hanya akan menggoda dan menjahili Rewena.


***


Menjelang tengah malam, Rowena tidak bisa tidur. Sama seperti hari sebelumnya, meski ia telah kembali ke kamarnya, ia merasakan ada yang kurang.


"Tidak bisa tidur," gumam Rowena. Ia pun bangun dari baringnya dan pergi keluar dari kamar.


Rowena menutup pintu kamarnya, ia berjalan menuju meja makan untuk mengambil air minum.


Di saat bersamaan, Axel keluar dari ruang kerjanya. Ia juga berjalan menuju meja makan untuk mengambil minum.


"Ingin minum?" tawar Rowena memberikan segelas air putih pada Axel.


"Terima kasih," ucap Axel, menerima gelas pemberian Rowena.


Rowena mengambil gelas lagi, dan menuang air digelas itu lalu meminumnya.


Axel meletakan gelas, "Kenapa belum tidur? tidak bisa tidur lagi?" tanya Axel.


Rowena yang masih minum hanya berkedip, ia selesai minum dan meletakan gelasnya diatas meja.


"Ya, entah kenapa aku jadi seperti ini," tuturnya.


"Ada yang kau rasakan? atau ada sesuatu yang mengganggumu, ingat-ingat lagi," kata Axel.


"Tidak ada yang aku pikirkan. Hanya merasa ada sesuatu yang kurang, tidak tahu apa." jawab Rowena.


Axel pun berpikir, "Ah, mungkin kau perlu memutar music atau membaca buku sebelum tidur," usul Axel.


"Tidak juga. Aku sudah baca buku tadi, bahkan sampai mataku pedih, tetap saja tidak bisa tidur." jawab Rowena.


Axel tidak mengerti kenapa Rowena sepeti itu. Axel menguap, tanda ia sudah mulai mengantuk. Axel berpamitan untuk pergi tidur lebih dulu.


"Aku sudah mengantuk, aku pergi tidur dulu." kata Axel berpamitan ingin pergu tidur.


"Hm, iya," jawab Rowena


Axel pergi meninggalkan Rowena.


Rowena masih diam di tempat beberapa saat, setelah itu ia kembali ke kamarnya. Sesampainya di kamar, ia hanya mondar-mandir seperti setrika yang sedang menyetrika baju. Lama Rowena seperti itu, hingga akhirnya ia tidak tahan lagi dan pergi keluar kamarnya untuk ke kamar Axel.


Rowena ada didepan pintu kamar Axel, ia mengetuk pintu kamar Axel, lalu membuka pintu kamar untuk mengintip.


"Axel," lirih Rowena memanggil.


"Hm, apa?" jawab Axel.


"Boleh aku masuk?" tanya Rowena.


"Masuklah," jawab Axel.


"Ada apa?" tanya Axel menatap Rowena.


"Itu, aku tidak bisa tidur. Temani aku bicara," ucap Rowena.


"Oh, kemarilah, dan baca buku ini. Ini jauh lebih berguna dibandingkan obrolan kita," kata Axel menunjukan buku yang ia pegang.


Rowena perlahan naik ke tempat tidur Axel, ia duduk bersandar di samping Axel. Axel memberikan bukunya dan langsung diterima oleh Rowena. Rowena melihat sampul buku yang dipegangnya. Ia bolak-balik buku itu merasa tidak tertarik.


"Buku apa ini," tanya Rowena.


"Baca saja," jawab Axel.


Rowena menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak mau. Terlihat dari sampulnya, buku ini pasti terisi kata-kata yang membosankan." ucap Rowena.


Rowena memberikan kembali buku yang dipegangnya kembali ke tangannya Axel. Axel menerima bukunya dari Rowena dan meletakan di nakas samping tempat tidurnya.


"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Axel.


"Bercerita, ayo kita bercerita," usul Rowena.


"Cerita apa? romantis, horor, misteri, atau?" tanya Axel.


"Bukan cerita film atau buku novel," sela Rowena.


"Lalu apa?" sambung Axel.


"Ceritakan sesuatu tentangmu. Keluargamu mungkin, pekerjaanmu, atau apapun itu yang ada hubungannya denganmu," jawab Rowena.


Axel diam berpikir, ia tidak tahu harus cerita apa. Axel pun punya sebuah ide, ia pun mulai bercerita.


"Aku akan ceritakan kisah seseorang. Dia adalah temanku, untuk saat ini aku tidak bisa ceritakan tentang kehidupan pribadiku pada siapapun. Oke," kata Axel.


Rowena mengangguk, "Baiklah, cerita apa saja juga boleh. Aku lelah sebenarnya, hanya mataku tidak bisa terpejam dari tadi," keluh Rowena.


"Temanku terpisah dari orangtua sejak ia masih kecil. Kita sebut saja temanku ini si A, A memiliki saudara kembar dan seorang adik perempuan. Kehidupan A tidaklah menyenangkan, tidak juga seperti kehidupan anak-anak pada umumnya. A mengalami kehidupan yang sulit setelah terpisah dari orangtuanya sejak A masih kecil. A diasuh oleh seseorang, hidup bersama seseorang itu selama bertahun-tahun. A dan orang yang mengasuhnya hidup berpindah tempat, dari tempat satu ke tempat yang lain secara tidak menentu. A ..." Axel terus bercerita dengan tenang.


Rowena dengan seksama mendengar, ia berusaha mengerti apa yang diceritakan Axel.


Mendengar cerita yang rumit, Rowena mulai mengantuk. Rowena hanya menanggapi cerita Axel dengan anggukan, sesekali menguap dan mengusap-usap matanya. Merasa tidak kuat lagi, Rowena bersandar pada Axel dan tertidur. Axel pun berhenti bercerita, ia mengintip Rowena yang bersandar di lengannya.


"Akhirnya tidur," kata Axel.


Axel mengubah posisi Rowena, membantu Rowena berbaring di tempat tidur, lalu menyelimuti tubuh Rowena.


"Selamat tidur," ucap Axel mencium hidung Rowena.


Axel menatapi wajah Rowena, melihat Rowena Axel teringat Alica. Axel ingin tahu sedang apa adiknya sekarang, ia pun mengambil ponselnya diatas nakas dan mengirim pesan untuk Alica.


Setelah mengirim pesan dan mendapat pesan balasan, Axel pun pergi tidur. Ia berbaring di samping Rowena.


***


Beberapa jam kemudian, Rowena merasa sesuatu melingkar diperutnya, ia meraba perutnya dan mendapati sebuah tangan. Rowena langsung membuka mata karena kaget. Ia dengan segera membuka selimut dan melihat tangan yang melingkar di perutnya, lalu memalingkan wajahnya untuk memastikan.


"Eh, aku ketiduran, ya?" batinnya.


"Aduh, bagaimana ini? Rowena, Rowena. Lagi-lagi kau melakukan kesalahan," gumamnya dalam hati.


Rowena ingin bangun, ia berusaha memindahkan tangan besar milik Axel agar ia bisa bangun dan pergi. Namun, usahanya sia-sia, Axel justru memeluknya semakin erat.


Tidurlah, jangan terus bergerak," bisik Axel dirasakan Rowena juga hembusan napas Axel yang hangat.


"Lepaskan, aku akan pindah ke kamarku," kata Rowena.