Axel Williams

Axel Williams
Bab 26.



Berkas dokumen itu disimpannya baik-baik, ia masukan kembali ke dalam laci nakas dan menutup kebali laci itu. Rowena langsung merangkak naik ke atas tempat tidur dan berbaring.


"Ahhh, semoga saja hari-hariku terus seperti ini. Meski aku harus menahan kekesalanku karena mulut pedasnya, tapi ini semua aku lakukan demi Kakak, keluargaku satu-satunya. Aku akan balas pesan kakak," batin Rowena asik membaca pesan Ricardo.


Hari pertama Rowena sepertinya tidak buruk. Axel masih memberinya kelonggaran dan kemudahan. Akankah hari buruk itu tiba? dan, akankah sikap Axel terus bertahan seperti di awal pertemuannya dengan Rowena?


***


Ricardo mengkhawatirkan Rowena. Belum ada satu hari meninggalkan rumah, ia gelisah dan cemas. Beberapa kali ia menghubungi Rowena dan bertanya kabar Rowena. Meski mengetahui jika Rowena baik-baik saja, tapi Ricardo tidak bisa untuk tidak gelisah. Ricardo pun akhirnya membuat janji temu dengan Axel, ingin memastikan jika Rowena harus aman dan terjamin keselamatannya saat tinggal bersama Axel.


Malam harinya. Ricardo dan Axel makan malam bersama. Ricardo menatap Axel dengan seksama, ia ragu untuk bertanya namun hatinya sangat ingin penasaran.


"Katakan saja, apa yang kau ingin tanyakan. Jangan terus menatapku seperti ingin memangsaku," kata Axel menyantap makan malamnya.


"Apa sebenarnya yang kau inginkan? kau tertarik pada adikku?" tanya Ricardo.


Axel tersenyum tipis, "Adikmu tidak lebih cantik dari Mama atau Adikku. Tubuhnya juga tidak sebagus wanita-wanita yang mengejarku. Untuk apa aku harus tertarik? Adikmu bukan seleraku," jawab Axel.


"Apa? kau terlalu meremehkan Adikku, Axel. Kau terlalu tinggi memandang dirimu," kesal Ricardo.


"Oh, benarkah? kau Kakaknya, tidak tahu Adiknya sendiri seperti apa. Kau kira Adikmu polos? dia sangat percaya diri akan kedudukannuya sebagai Nona besar. Hah," dengus Axel menatap Ricardo.


"Hanya tujuh bulan, kan? jika sebelum tujuh bulan aku dapatkan uang untuk membayar hutangku, apa kau akan serahkan Adikku?" tanya Ricardo.


"Perjanjian tetap perjanjian. Tenang saja, aku akan jamin keselamatan dan keamanannya. Aku tidak akan macam-macam pada Adikmu itu," jawab Axel.


Ricardo terdiam, "ternyata dia juga tidak goyah. Dia orang yang berpendirian kuat, bodohnya aku mengatakan itu. Dari mana juga aku dapatkan uang sebanyak itu," batin Ricardo.


Ricardo menunduk, ia mencengkram pahanya sendiri. Merasa tidak mampu melindungi Rowena dan menjadi Kakak yang buruk.


Axel menatap Ricardo, "Kau seharusnya senang. Adikmu sangat sayang padamu," kata Axel.


Ricardo kaget lalu menatap Axel, "Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Ricardo.


Axel mengangguk, "Ya, dia sangat gigih untuk membujukku. Dia mengatakan jika hanya kau yang dia punya. Jika aku mengambil perusahaanmu, bagaimana denganmu yang sangat mencintai perusahaan. Begitu besar rasa takutnya melihatmu menderita. Namun, ada satu hal juga yang dapat aku lihat dari matanya. Dia terlihat sedikit kecewa. Apakah kau melakukan sesuatu?" tanya Axel, menatap Ricardo.


Pertanyaan Axel mngejutkan Ricardo. Ricardo mengerti maksud Axel, sepertinya Rowena kecewa karena permasalahan Merry. Sebelumnya Rowena selalu memperingatkan bahkan sampai berdebat dengannya karena membicarakan Merry. Sering kali Rowena mengatakan jika Ricardo harus mengurungkan niatan untuk dekat dengan Merry, mengatakan jika Merry bukan wanita yang baik dan tidak pantas untuk Ricardo. Namun, semua itu sia-sia. Ricardo lebih memilih percaya dengan hatinya yang tersentuh oleh kebaikan Merry yang sebenarnya hanya kepalsuan.


Ricardo telihat sedih, Axel mengernyitkan dahinya merasa canggung. Suasana menjadi tidak nyaman bagi Axel.


"Sepertinya aku terlalu banyak bicara. Ini sudah malam, aku juga sudah selesai makan. Aku akan pergi," kata Axel.


Axel berdiri dan pergi meninggalkan Ricardo sendiri. Ricardo tetap diam, ia memikirkan Rowena, Adiknya. Merasa menyesal karena telah begitu menyakiti hati dan tidak mempedulikan ucapan juga peringatannya. Namun, semuanya sudah terlambat. Merry sudah ketahuan, dan Rowena juga sudah mempunyai keputusannya sendiri. Kini yang harus dilakukan Ricardo hanya merubah hari depan, dan belajar dari hari yang telah berlalu.


***


Sepanjang jalan Axel berpikir. Axel merasa iri hati pada Ricardo. Axel kembali terbayang kejadian terdahulu, di mana Adiknya, lebih menyanyangi Azel kembarannya daripada dirinya. Meski sekarang keadaan berubah, tapi hal-hal pada masa lalu masih tetap terbayang dalam benak Axel.


"Hah, beruntung sekali dia. Adiknya sangat sayang, tapi dia lemah hanya karena wanita lain. Sayang sekali," gumam Axel.


Axel dan mobilnya memasuki halaman rumah. Mobil berhenti dan terparkir di halaman, dengan segera Axel membuka pintu mobilnya dan langsung turun dari dalam mobil.


Tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti, ia mendengar suara seseorang bernyanyi nyaring. Axel mengikuti arah suara dan sampai di depan kamar Rowena.


"Dia bernyanyi?" batin Axel.


Axel tanpa sadar terus berdiri untuk mendengar Rowena bernyanyi sampai selesai. Sesaat kemudian Axel tersadar dan pergi menuju kamarnya sendiri.


***


Rowena keluar dari kamarnya dengan membawa gelas kosong, ia hendak mengambil air minum.


"Haus, haus, aku ingin minum," gumam Rowena.


Rowena mendekati meja makan, ia meletakan gelas di atas meja lalu mengisinya dengan aur putih. Diangkatnya gelas dan diteguknya air dalam gelas sampai habis. Matanya menatap jam didinding, ia langsung terpikirkan akan Axel.


"Apakah dia sudah pulang? ini sudah pukul sembilan malam," batin Rowena.


Rowena meletakan gelas di atas meja, ia berniat mengintip halaman untuk melihat mobil majikannya. Belum sampai niatanya terlaksana, Axel tiba-tiba muncul dari arah kamarnya.


Axel dan Rowena bertatapan, Axel lalu membuang muka dan berjalan ke dapur untuk mengambil gelas. Axel kembali ke meja makan, ia meletakan gelas di atas meja dan menuang air minum.


"Kau sudah pulang?" tanya Rowena.


Axel meneguk air minumnya sampai habis dan meletakan gelas kembali di atas meja dengan kasar. Hal itu tentu saja mengejutkan Rowena, membuat Rowena salah paham, berpikir jika Axel sedang kesal atau marah.


Klakkk ...


Suara kaki gelas yang menyentuh meja kaca.


"Hm," gumam Axel.


Rowena kaget, ia terlihat sedikit takut dan mundur beberapa langkah. Rowena diam, ia tidak tahu harus apa. Tidak lama ia mengambil gelasnya yang berisi air minum dan berpamitan untuk kembali ke kamarnya.


"Aku, aku, aku akan kembali ke kamarku." kata Rowena sedikit takut.


Axel menatap Rowena yang bergerak sangat hati-hati, "Aku makan malam dengan Kakakmu," ucap Axel kembali mengejutkan Rowena.


Rowena kaget, "Apa?" kata Rowena, "Kakakku?" lanjutnya lirih.


"Hm, kau tau apa yang dia katakan?" tanya Axel menatap lekat mata Rowena.


Rowena menggeleng, "Tidak tahu. Apa yang dia katakan?" tanya Rowena.


"Dia bertanya jika dia bisa membayar hutang sebelum tujuh bulan. Apakah aku akan melepasmu," kata Axel.


"Lalu, kau jawab apa?" tanya Rowena.


"Tidak," jawab singkat Axel.


Rowena kaget, "Tidak? kenapa?" tanya Rowena heran.