Axel Williams

Axel Williams
Bab 57.



Flip senang, pertemuannya berjalan lebih dari yang diharapkan. Axel bisa menerimanya dengan baik. Bahkan, Axel mau bertanya beberapa hal, meski ada pertanyaan yang sulit dijawabnya. Bukan sulit sebenarnya, mungkin lebih tepatnya tidak ingin dijawab Flip karena itu adalah hal pribadi dalam keluarga sepupunya, Lovely. Ia tidak bisa mencampuri urusan keluarga Lovely dan Andrew lebih dalam lagi.


Pertemuan siang itu berakhir. Axel dan Flip berpisah jalan. Axel juga Rowena meningglkan Flip dan Filmoon lebih dulu. Tidak lama kemudian, Flip dan Filmoon juga menyusul untuk pergi dari restorant.


***


Flip dan Filmoon sedang dalam perjalanan kembali pulang ke rumah mereka. Karena Flip masih penasaran dan berperang dengan pikirannya sendiri, Flip pun akhirnya bertanya pada putrinya mengenai kejadian yang terjadi di restorant.


"Moon," panggil Flip lembut.


Filmoon memalingkan wajah menatap Flip, "Ya, Pa?" jawab Filmoon.


"Ceriatakan pada Papa, apa yang sebenarnya terjadi tadi?" tanya Flip berharap putrinya akan bercerita padanya.


Filmoon memalingkan kepalanya menatap jalan. Filmoon menyandarkan kepalanya perlahan. Ia hanya diam tidak menjawab pertanyaan Papanya.


"Kau kenapa? ayo, ceritakan apa yang menggangu pikiranmu," bujuk Flip.


"Entahlah, aku melihat sesuatu yang aneh untuk pertama kalinya." jawab Filmoon.


"Aneh, aneh yang bagaimana? ceritakan pada Papa, sayang. Jangan kau pendam sendiri, Papa khawatir padamu." bujuk Flip lagi.


"Baiklah. Aku akan ceritakan sesuatu pada Papa. Sepertinya, aku bisa melihat masa lalu, Pa. Dan tadi aku melihat masa lalu Axel," jelas Filmoon.


"Apa?" ucap Flip terkejut. Ia melebarkan matanya, "Apa yang kau lihat, sayang?" imbuh Flip menjadi semakin penasaran.


"Aku melihat hidup Axel sangat sulit pada masa lalu. Bahkan aku ingin menangis melihatnya. Kasihan sekali dia, Pa. Ahh ... " sambung Filmoon dengan mendesah lirih.


Flip terdiam sembari melirik Filmoon sekilas, ia merasa terkejut saat mendengar cerita dari putrinya itu. Flip memang pernah mendengar cerita masa kecil Axel dari sepupunya Lovely. Namun, ia tidak menyangka jika putrinya punya kelebihan yang unik, di mana bisa menembus penglihatan pada masa lalu.


"Pa, Papa ... " panggil Filmoon.


"Ya, sayang. Ada apa?" jawab Flip mengakhiri pemikirannya.


"Aku merasa Axel juga punya kelebihan. Apakah dia akan baik-baik saja? bagaimana jika Papa bertanya dan menjelaskan, mungkin saja dia akan mengembangkan lebihannya atau mungkin dia bisa lebih mengontrol sesuatu yang ada dalam dirinya." jelas Filmoon.


"Soal itu ... baiklah, nanti Papa akan coba bertanya langsung pada Axel dan memberinya beberapa saran. Terima kasih sudah mau memberitahu Papa," ucap Flip mengusap kepala Filmoon dengan lembut.


"Wah, Papaku memang yang terbaik. Terima kasih, Papa." ucap Filmoon.


"Sama-sama, sayang." jawab Flip.


Filmoon tersenyum lebar, ia tidak mengerti juga tidak tahu sesuatu apa yang dimiliki Axel. Hanya saja ia tidak ingin melihat Axel merasa terbebani dengan keistimewaan yang dimilikinya. Keistimewaan adalah sebuah anugerah luar biasa dari Tuhan. Tidak semua orang bisa mendapatkan keistimewaan tersebut. Filmoon berharap Axel bisa mengembangkan keistimewaan yang dimilikinya dan menjadikan itu sebagai sesuatu yang berharga.


***


Sementara itu, di tempat lain. Axel dan Rowena juga sedang dalam perjalanan pulang. Rowena menanyakan beberapa hal mengenai pertemuan Axel dengan Flip. Rowena penasaran dengan pendapat Axel.


"Bagaimana pertemuanmu?" tanya Rowena.


"Apa? dengan Paman Flip?" jawab Axel.


"Ehem, dengan Pamanmu tadi." kata Rowena.


"Paman terlihat baik dan sabar. Juga sepertinya kami cocok," jawab Axel.


"Apa kalian merasa cocok satu sama lain?" sambung Rowena tidak paham.


"Maksudku, Paman mengerti perasaan dan ucapanku." jelas Axel.


"Ya, dia memang cantik. Sepertinya juga spesial," jawab Axel.


Rowena bingung tidak mengerti, ia merasa ucapan Axel membuatnya harus berpikir keras.


"Bisakah kau jelaskan? aku tidak mengerti ucapanmu," kata Rowena.


Axel tersenyum, mengusap kepala Rowena. Axel hanya diam, tidak menjawab perkataan Rowena. Ia terus fokus mengemudi.


"Maaf Rowena, aku tidak bisa memberitahumu soal apa yang aku rasakan. Karena aku merasa kau tidak akan bisa memahami situasi ini. Aku sendiri pun juga bingung, mengapa perasaanku aneh dan aku juga pernah mengalami hal aneh. Begini saja dulu," batin Axel.


"Kau diam saja," kata Rowena.


Axel melirik kilas arah Rowena, "Maaf, aku sedang fokus mengemudi." jawab Axel.


Axel merasa tidak enak, ia pun pada akhirnya memberi Rowena penjelasan agar Rowena mau mengerti.


"Lupakan saja apa yang aku katakan. Jika kau bertanya mengenai Filmoon, maka akan ku jawab. Dia terlihat seperti Papanya, Paman Flip. Tenang, sabar dan peduli. Kau sendiri bagaimana? apa punya kesan tersendiri?" tanya Axel.


"Maksudmu spesial tadi, apa?" tanya Rowena masih penasaran.


"Spesial apa? kau lebih spesial," sanggah Axel.


"Benarkah, aku spesial? bukannya aku hanya budakmu," gerutu Rowena.


"Hei, kau kesal menjadi budakku. Aku naikan pangkat menjadi budak kesayangan, bagaimana? kau mau tidak," bujuk Axel.


Rowena menggeleng, "Tidak mau. Apa bedanya? tetap saja menjadi budak," jawab Rowena.


"Tentu saja berbeda. Budak biasa tidak dapatkan apa-apa, sedangkan budak kesayangan dapat majikannya. Kau tidak mau?" tawar Axel.


Rowena tersipu malu, ucapan Axel terdengar seperti godaan, membuat wajah Rowena merona karena tersipu. Rowena pun jadi teringat akan kegilaanya bersama Axel.


"Cukup, berhenti menggodaku," ucap Rowena.


"Menggoda, hei, hei, kau ini. Aku menggoda apa? apa aku terlihat seperti pria penggoda," jawab Axel.


Perjalanan ke rumah terasa menarik, karena keduanya tidak henti saling menggoda satu sama lain.


***


Sesampainya di rumah, Axel dan Rowena pergi ke kamar mereka masing-masing. Rowena yang baru saja masuk di kamarnya, langsung berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, ia langsung berjalan mendekati tempat tidur dan merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia merasa senang, juga merasa sedih mengingat ia juga Axel hanya terikat sebuah kontrak perjanjian.


"Bagaimana jika aku memang menyukaimu? bagaimana jika hati ini memang berdebar karenamu juga? apakah kau punya perasaan yang sama, Axel?" batin Rowena berpikir.


"Bagaimana ini? sepertinya aku memang menyukainya. Semakin aku pikirkan, wajahnya semakin terlihat jelas. Haruskah aku ungkapkan perasaanku ini. Bagaimana jika pria itu menolakku? bagaimana jika aku diusir, aku kan tidak mau jauh-jauh darinya. Agggrhhh, aku bingung. Menyebalkan sekali." kesal Rowena mengomel sendiri.


Rowena sibuk dengan pikirannya sendiri, ia merasa ragu dengan perasaanya.


Di depan pintu kamar Rowena, Axel berdiri. Axel mengetuk pintu kamar beberapa kali namun tidak dijawab Rowena. Merasa terabaikan, Axel pun akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar tanpa persetujuan Rowena.


"Wanita ini, sedang apa dia? berani sekali mengabaikanku," gumam Axel.


Pintu kamar terbuka perlahan, Axel masuk dan menutup kembali pintu kamar. Kakinya perlahan berjalan mencari keberadaan Rowena, sampai ia akhirnya melihat jika Rowena sedang tengkurap di atas tempat tidur.


Posisi begitu menggoda, ditambah Rowena hanya mengenakan celana pendek dan kaus longgar berbahan tipis yang transparan.


Axel tersenyum, "Dasar penggoda," gumamnya lagi.