
Tadi pagi Nona bercerita jika Kakaknya akan datang menjemputnya. Namun, beberapa saat lalu Nona mengatakan jika Kakaknya sibuk. Anda sepertinya suka memberi kejutan, Tuan Williams." Katanya yang membuatku mengernyitkan dahi sesaat.
Sempat membuatku bingung, tetapi aku akhirnya mengerti. Tunggu, ada yang aneh di sini. Alica bercerita jika Kakaknya akan menjemput, lalu mengatakan jika Kakaknya sibuk? Aha, aku tahu siapa.
Azel memang sibuk, Joe tadi mengatakan jika Azel dan Papa pergi menemui klien untuk bicarakan bisnis. Nyonya ini mungkin salah paham. Ya sudahlah, aku memang Kakak Alica, kan? Tidak ada yang salahnya juga tersenyum dan mengiyakan perkataanya. Dijelaskanpun, tidak akan mengerti.
Orang yang tidak benar-benar pandai menilai, pasti selalu salah memanggil kami. Aku dan Azel memang sama persis, hanya saja tinggi tubuh kami yang berbeda. Aku lebih tinggi lima centimeter dari Azel. Hanya selisih beberapa centimeter, tetap saja itu perbedaan bagiku.
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, aku tidak mau banyak bicara dan hanya mengiyakan ucapannya. Aku mengikutinya saat dia membawaku masuk ke dalam. Mataku fokus melihat dalam ruangan, meski di luar nampak sedikit buruk, sepertinya orang-orang yang tinggal di sini merawat dengan benar bagian dalam gedung rumah ini.
Beberapa saat kemudian, kami sampai di sebuah ruangan. Banyak orang berkumpul, wanita tua yang bersamaku langsung berbicara lantang mengumumkan kedatanganku.
"Semuanya, kita kedatangan tamu. Ada Tuan Williams yang tidak lain adalah Kakak dari Nona Williams." Katanya dengan lantang. Aku tidak mengerti mengapa harus ada pengumuman kedatangan seperti ini juga.
"Kakak," panggil seseorang. Siapa lagi? tentu saja Alica.
Dia berlari mendekatiku dan tersenyum, namun sesaat kemudian dia terdiam. Senyumnya memudar, matanya terlihat kecewa.
"Nona," sapa wanita tua sebelumnya.
"Ah, iya. Maafkan saya, saya akan perkenalkan Kakak saya. Dia adalah Axel Williams, sejujurnya Kakak saya ada dua, dan mereka kembar." Kata Alica yang akhirnya memperkenalkanku pada semua orang yang ada di dalam ruangan.
"Ah, begitu." Sahut wanita tua itu.
Aku terkejut, Alica begitu cepat menyadari kehadiranku. Itu bagus, aku juga tidak suka jika orang memanggilku dengan nama yang berbeda.
Aku tidak ingin mengecewakan Alica, terpaksa aku tersenyum dan menyapa semua yang ada di ruangan itu. Alica juga bersikap berbeda dengan yang biasanya. Dia juga berusaha dekat denganku saat kami semua berbincang bersama.
***
Alica menunggu jemputan terkejut akan kedatangan Axel, dan bukan supir. Lovely sengaja tidak memberitahukan jika Axel lah yang menjemput Alica. Lovely ingin sedikit memberi kejutan pada Alica.
Siang itu, Alica dan Axel akhirnya berpamitan kepada kepala panti dan juga beberapa pengurus yang lain. Alica dan Axel berjalan mendekati mobil, saat Alica ingin membuka pintu mobil bagian belakang, Axel menghadangnya.
"Duduk depan, aku bukan supir. Jika tidak ingin duduk depan kau bisa menunggu supir sampai malam," kata Axel yang langsung berjalan mendekati sisi mobil bagian kemudi.
Axel membuka pintu mobil dan masuk dalam mobilnya. Axel duduk di bangku kemudi, ia tidak mempedulikan Alica yang masih berdiri di dekat mobilnya.
"Si pendek ini, bisa-bisanya berdiri saja." gumamnya melirik Alica.
Axel menurunkan kaca mobil dan memanggil Alica, "Hei, Pendek. Kau sungguh tidak ingin masuk? baiklah, aku akan segera pergi." katanya mengernyitkan dahi.
Alica kesal, "Menyebalkan!" Gerutu Alica berlari cepat menuju bangku sisi kemudi.
Alica membuka pintu mobil dan masuk, Alica menutup pintu dengan kasar sampai mengejutkan Axel.
"Hei, Pendek. Tidak bisakah pelan-pelan saja? kau bisa merusak pintu mobilku," kata Axel menatap Alica.
"Biar saja, bila perlu akan ku bakar mobil jelekmu ini. Kau menyebalkan, iblis jahat!" seru Alica.
"Bersyukurlah, kau adalah orang pertama yang naik ke mobil kesayanganku. Jangan protes lagi, jahat atau tidak itu hanya penilaianmu. Aku tidak merasa dirugihan hanya dengan umpatan," jelas Axel.
Sepanjang perjalanan hanya saling diam, Alica merasa bosan, ia hanya melihat jalanan yang sepi dan pohon-pohon berjajar di tepi jalan.
"Kenapa kau yang menjemputku? di mana supir?" tanya Alica tiba-tiba, tanpa memalingkan pandangannya.
"Mama yang suruh." jawab Axel.
"Ya, sudah kuduga, tentu saja Mama. Jika bukan Mama, siapa lagi yang akan memintamu pergi menjemputku." sahut Alicia.
Axel diam, Alica juga diam. Suasana kembali hening dan canggung.
Alica melihat sebuah toko es krim, "Wuahh..." kata Alica dengan mata terbelalak.
Axel mengalihkan pandangannya sekilas, "Si pendek ini, masih seperti anak-anak saja. Huh," batin Axel.
Tidak berselang lama, ada suara aneh didengar Axel. Ya, itu suara perut Alica yang berbunyi. Alica juga langsung meraba perutnya dan terlihat gelisah.
"Oh, Tidak. Apakah si iblis ini dengar?" batin Alica.
Axel mengernyitkan dahi, ia tahu jika Alica lapar. Axel melihat sebuah restorant tidak jauh, ia pun memutuskan untuk memarkir mobilnya di depan restorant itu.
"Kau... kenapa ke sini?" tanya Alica melihat ada restorant di hadapannya.
"Lapar, ingin makan. Ayo turun," kata Axel yang tidak lama turun dari dalam mobil.
Alica bingung, "Apa dia sakit? si iblis berbaik hati mengajakku makan?" gumam Alica bertanya-tanya.
Alica masih bingung dengan kelakuan dan sikap aneh Axel, sampai larut dalam lamunan. Seketika lamunanya sirna manakala kaca mobil terketuk oleh Axel. Hal itu membuat Alica terkejut, dan Alica pun segera keluar dari dalam mobil.
"Apa aku harus menyeretmu keluar?" tanya Axel.
"Hissssshhh!" desis Alica yang langsung masuk ke dalam restorant tanpa menghiraukan Axel.
Axel menggelengkan kepala, "Bagaimana bisa aku punya adik yang sepertinya?" gumam Axel, ia mengikuti Alica masuk dalam restorant.
Alica mencari meja kosong dan menarik kursi untuk duduk, begitu juga Axel yang menarik kursi dan duduk di hadapan Alica.
Beberapa pengunjung wanita melihat Axel. Mereka terlihat tersenyum, sepertinya mengagumi Axel. Wajah tampan Axel menjadi sorotan, hal itu membuat Alica tidak nyaman karena banyak mata menatap ke arahnya juga Axel.
Alica memalingkan wajah dan menatap sekeliling, ia melirik ke arah wanita-wanita genit yang sedari tadi melihat ke arahnya dan Axel.
"Wanita-wanita ini, tidak pernahkah melihat pria? tidak bersama Azel saja, bersama Axel pun aku menemui hal serupa. Aku selalu saja melihat pemandangan yang tidak asing. Menyebalkan sekali," batin Alica kesal.
Alica menatap Axel sibuk bermain ponsel. Alica merasa tidak nyaman, ia menendang-nendang kaki Axel dari bawah meja.
"Sshh..." panggil Alica.
Axel tidak memperdulikan Alica dan terus bermain ponselnya. Axel merasa tidak terpanggil, karena Alica tidak memanggil nama melainkan 'Sshh', hal itu membuat Alica kesal.