Axel Williams

Axel Williams
Bab 7.



(Percakapan di telepon)


"Hallo," jawab Lovely.


"Hallo, Kak." sapa Alex.


"Ya, Lex," sapa Lovely.


"Apakah kau akan datang, Kak?" tanya Alex.


"Aku dan Andrew akan pergi setelah sarapan," jawab Lovely.


"Baiklah, aku akan tunggu kalian datang segera. Berhati-hatilah," ucap Alex mengingatkan.


"Hm, terima kasih. Sampai bertemu, Lex."


Lovely mengakhiri panggilan Alex dan kembali ke meja makan untuk bergabung dengan suami dan anak-anaknya.


"Siapa?" tanya Andrew.


"Alex," jawab Lovely.


"Ada apa?" tanya Andrew lagi.


"Hanya bertanya waktu keberangkatan kita," jawab Lovely lagi.


"Apakah kita harus tunda untuk keberangkatan kita? aku melihatmu terjaga sepanjang malam," kata Andrew.


Lovely menggelengkan kepala, "Tidak apa, aku baik-baik saja. Hanya memikirkan Axel," ucap Lovely.


Prakkk..


Suara dentuman kaki gelas yang menyentuh meja dengan keras.


"Jangan bahas lagi, dia pasti akan kembali." kata Andrew.


"Hm, kau tidak seharusnya bertengkar dengannya. Kita tahu benar sifatnya seperti apa, semakin kau kekang dia akan semakin kesal. Tetap saja kau tidak bisa menahan emosimu," kata Lovely.


"Sekarang kau menyalahkanku?" kesal Andrew menatap tajam ke arah Lovely.


Lovely menarik napas dalam lalu mengembusman napas perlahan. Lovely tidak menjawab ucapan Andrew, tidak ingin bertengakar dengan Andrew di hadapan anak-anak mereka.


"Mengesalkan sekali. Aku harus bagaimana sekarang, ahhh," batin Andrew ingin sekali meluapkan kekesalannya.


"Azel, Alica, jika kalian tidak punya kegiatan di luar. Lebih baik kalian di rumah saja," kata Lovely menatap Azel dan Alica.


"Ya, Ma. Aku akan segera kembali setelah bertemu beberapa teman siang nanti," jawab Alica.


"Aku ada pekerjaan di kantor, Ma." jawab Azel.


"Hm, kembali Makan. Mama sudah kenyang, ingin bersiap-siap dulu," kata Lovely berdiri dari duduknya.


Lovely tiba-tiba saja tidak selera makan. Ia tidak suka dengan tanggapan Andrew yang terkesan kasar. Dengan langkah cepat, Lovely kembali berjalan ke kamarnya. Andrew menghentikan kegiatannya dan menyusul Lovely kedalam kamar, Andrew berjalan di belakang Lovely. Melihat Papa dan Mama mereka yang bersikap aneh, Azel dan Alica hanya saling menatap. Azel menggelengkan kepalanya, Alica mengangkat kedua bahunya.


"Cepat habiskan makanmu. Bukankah kau akan pergi membeli buku? perlu aku antar?" tanya Azel.


"Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri. Pergilah bekerja dan hasilkan banyak uang," ucap Alica.


"Hati-hati saat mengemudi," kata Azel membelai rambut Alica.


"Ya," jawab Alica tersenyum.


Azel senang melihat adik kesayanganya tersenyum ceria seperti saat ini. Azel selesai dengan sarapannya, Azel pun berpamitan pada Alica.


"Aku berangkat, sampai jumpa Alica."


"Hati-hati, Kak." kata Alica.


Azel berdiri dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan meja makan untuk kemudian berangkat bekerja. Alica masih ada di meja makan, masih ingin menikmati sarapannya.


***


"Apa yang kau lakukan?" ucap Reynold.


"Untuk apa berhemat, aku punya banyak uang sekarang. Beli sayur dan buah dengan kwaliatas terbaik, jangan pikirkan harga. Kita sudah cukup menderita di masa lalu, kini saatnya kita menikmati hidup. Terlebih lagi Paman," kata Axel.


Reynold tertegun, "Apa kau balas dendam sekarang? dulu aku tidak punya apa-apa untuk menghidupimu. Kita selalu berpindah tempat dari satu ke satu lagi, makan apa yang ada, bahkan sampai kelaparan. Maafkan aku Axel, kau pasti menderita dulu."


Axel merangkul Reynold, "Itulah mengapa sekarang kita harus bersenang-senang. Jangan banyak berpikir lagi, beli apa yang ingin Paman beli."


"Hm, aku akan habiskan uangmu, Nak. Jangan menyesal," gurau Reynold.


"Hahaha, habiskaan saja. Aku rela jika itu Paman," jawab Axel.


Axel tersenyum, dia kembali memikirkan kehidupannya saat dimasa lalu. Hidupnya sangat sulit, makan sehari satu kali sudah bagus dibandingkan tidak makan sama sekali. Axel bersyukur, ia selalu dapat mengisi perutnya. Reynold terkadang memberikan jatah makanannya untuk di makan Axel, karena Axel masih dalam masa pertumbuhan, perlu makan lebih banyak. Melihat Axel melamun, Reynold mengejutkan Axel. Menyadarkan Axel dari lamunannya.


"Hei, Nak." panggil Reynold.


"Axel," panggil Reynold sambil menepuk bahu Axel.


Axel kaget, "Ah, ya?" jawab Axel.


"Jangan melamun. Ayo jalan, apa yang kau pikirkan sampai melamun seperti itu?" tanya Reynold.


Axel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "ahaha, hanya hal dimasa lalu Paman. Bukan apa-apa," jawab Axel.


Reynold tahu apa yang dipikirkan Axel. Reynold tidak memungkiri, apa yang di berikannya dimasa lalu adalah sebuah kenangan buruk. Dimana ia sangat keras dan benar-benar membentuk Axel menjadi seseorang yang berani pada siapa saja juga pantang menyerah dalam keadaan sulit. Ada sedikit rasa penyesalan dalam hati Reynold, ada juga rasa bangga yang terselip. Reynold menyesal karena ia harus bertemu dengan Axel dalam keadaan yang sulit dan serba kesusahan. Bangga saat ia bisa memberikan kasih sayangnya pada Axel, merawat Axel, meski tidak ada ikatan darah, namun Reynold sangat menyayangi Axel seperti putranya sendiri.


***


Axel dan Reynold sampai di rumah. Dengan cepat Axel langsung memakai apron dan menata isi lemari pendingin. Reynold duduk di meja makan tidak jauh dari Axel. Reynold tersenyum tipis menatap Axel yang sibuk dengan buah dab sayur juga yang lainnya.


"Apa kau butuh bantuan?" tanya Reynold.


"Tidak, ini mudah. Paman duduk saja," jawab Axel.


"Apa rencanamu, Axel?" tanya Reynold.


"Rencana apa, Paman?" tanya Axel berpura-pura tidak mengerti.


"Dasar kau, tentu saja rencanamu, hidupmu pada masa depan seperti apa? pekerjaanmu juga, apakah harus dijelaskan lagi rencana apa?" jelas Reynold.


Axel diam tidak menjawab, ia sibuk melanjutkan kegiatannya menata isi lemari pendingin. Axel enggan untuk menjawab, apa rencana masa depannya. Tentu saja bertahan hidup dan mencari kesenangan. Kapan lagi bisa bersenang-senang, selagi masih memiliki segalanya.


Reynold meneguk air dalam gelas, "Apa yang dipikirkan anak ini?" batin Reynold bertanya-tanya.


Beberapa saat kemudian, kegiatan Axel usai. Axel mencuci tangan dan melepas apron yang ia kenakan. Axel berjalan membawa sebotol jus dan duduk di samping Reynold. Axel duduk, membuka tutup botol dan meneguk jus dalam botol. Axel meletakan botol di atas meja, ia mengeluarkan ponsel dan asik mengutak-atik ponselnya.


"Tidak bekerja?" tanya Reynold.


"Bisa bekerja di luar kantor," jawab Axel.


"Kau kenapa, Axel? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Reynold.


"Hm, tidak ada yang mengganggu. Hanya saja aku sedang malas membicarakan kejadian semalam, Paman. Maafkan aku, Paman pasti paham aku orang yang seperti apa," jelas Axel.


"Baiklah, baiklah. Terserah kau saja. Lakukan apapun sesukamu," kata Reynold.


Axel meletakan ponselnya, "Terima kasih, Paman. Memanglah yang terbaik," kata Axel.


"Jangan bicara manis, tugasmu hari ini membersihkan rumah. Jangan hanya duduk santai," kata Reynolda bangkit berdiri meninggalkan Axel.


"Paman mau ke mana?" tanya Axel.


"Ingin mandi," jawab Reynold.


"Oh, aku kira akan pergi tidur," sahut Axel.


"Ide bagus," jawab Reynold yang sudah tidak terlihat.


Axel tersenyum, sudah lama ia tidak bergurau bersama Reynold. Selama ini hanya bergelut dengan rasa canggung dan kekesalan yang terpendam.