
Kilas balik*
Selesai berbincang di telepon dengan Alica, ponselnya kembali berdering. Panggilan yang sama ia dapatkan. Panggilan dari Alica.
[Percakapan di telepon]
"Ya?" jawab Axel.
"Bagaimana kabarmu, Axel? Mama merindukanmu," kata Lovely terdengar serak.
"Mama," panggil Axel terkejut.
"Ya, ini Mama. Kenapa kau abaikan panggilan Mama? kau tak ingin bicara pada Mamamu ini?" tanya Lovely.
"Bukan begitu, Ma. Aku punya alasanku sendiri kenapa aku mengabaikan panggilan Mama. Maafkan aku," ucap Axel merasa menyesal mendengar suara parau Mamanya di ujung telepon.
"Baiklah, lupakan saja soal itu. Yang terpenting sekarang Mama tau kau baik-baik saja. Jaga kesehatanmu, ya? jangan tidur sampai larut malam untuk menyelesaikan pekerjaanmu. Kesehatanmu lebih penting dari apapun," kata Lovely menasihati putranya.
"Iya, Ma. Aku mengerti." jawab Axel.
"Keadaan kantor bagaimana? apakah semua baik?" tanya Lovely.
"Ya, baik." jawab Axel lagi.
"Baguslah. Mama senang mendengarmu bisa menyelesaikan masalah dengan baik." Kata Lovely.
"Ya." jawab singkat Axel.
"Kau sudah makan? di mana sekarang?" tanya Lovely, ingin tahu.
"Sudah. Aku di rumah, selesai mandi." jawab Axel.
"Oh, begitu. Kau pasti ingin istirahat, jika begitu Mama tutup panggilannya dulu. Mama sayang padamu, Axel. Jangan terus menghindari kami," ucap Lovely.
"Iya, aku mengerti. Aku dengar Mama ingin pergi dengan Alica, kan? hati-hati di jalan, Ma." Kata Axel mengingatkan Lovely, Mamanya.
"Ya, terima kasih, sayang." kata Lovely.
Lovely dengan segera mengakhiri panggilannya. Axel merasa sedih mendapat panggilan dari Mamanya. Ada rasa rindu yang terbesit dibalik rasa sedihnya.
"Pikiranku mulai kacau. Aku akan mencari hiburan saja jika begitu," gumam Axel.
Axel pun keluar dari kamarnya. Ia berncana ingin pergi menemui Rowena hendak mengantar masakan yang ia buat sore hari menjelang makan malam.
Kilas balik berakhir*
***
Di Bar. Axel langsung meneguk beberapa gelas minuman. Ia tidak bicara sepatah katapun. Sedangkan Rowena, ia tidak berani minum dan lebih memilih meminum jus lemon. Ia tak ingin mendapatkan rasa malu untuk kedua kalinya jika ia sampai mabuk lagi.
"Hanya diam saja. Sebenarnya dia kenapa?" batin Rowena melirik ke arah Axel.
Axel minum dengan tenang. Ia melihat sekeliling sesekali untuk menyelisik keadaan.
"Bagaimana tempatnya?" kata Rowena buka suara.
"Lumayan," jawab Axel singkat.
"Ini Bar milik teman Kakakku," kata Rowena memberitahu Axel.
"Benarkah?" jawab Axel kembali melihat-lihat sekeliling. "Kau sering ke sini?" tanya Axel.
Rowena mengangguk perlahan, "Biasanya aku akan datang berdua saja dengan Kakakku ke sini. Sepertimu saat ini, aku juga menemaninya untuk minum," jelas Rowena.
"Kau tidak minum?" tawar Axel memberikan gelasnya pada Rowena.
Rowena menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak. Aku tidak ingin minum." jawab Rowena menolak.
"Kenapa? bukankah kemaren kau minum sampai menghabiskan sebotol wine? tanpa sisa setetes pun," ucap Axel menatap Rowena.
"Minumlah, jangan terus mengolokku." sahut Rowena kesal.
Axel kembali minum, ia meneguk minuman di gelas yang ia pegang dengan sekali tegukan. Axel pun mengisi kembali gelasnya sampai setengah gelas.
Sejam berlalu, Axel masih bertahan untuk minum. Rowena menunggu Axel, ia tidak banyak bicara dan bertanya pada Axel. Axel memijat pangkal hidungnya lembut. Mulutnya tidak bersuara namun gerakannya menunjukan jika ia sedang gelisah.
"Sebaiknya kita pulang," ajak Rowena.
Axel masih diam, ia tidak mendengar ucapan Rowena. Rowena merasa akan ada hal yang tidak baik jika Axel masih terus melanjutkan untuk minum.
Axel meneguk minumannya lagi. Axel sudah terlihat setengah mabuk meski ia tidak meracau. Axel terus memaksakan diri untuk minum, hingga gelasnya diambil oleh Rowena.
"Aku bilang cukup. Apa kau tidak dengar?" kata Rowena.
"Berikan gelasnya," kata Axel menatap Rowena.
"Tidak," jawab Rewena khawatir.
"Berikan, Rowena. Aku masih ingin minum," kata Axel.
"Kau sudah minum banyak, Axel. Lihatlah, kau sudah setengah mabuk." kata Rowena.
"Satu gelas lagi, berikan aku satu gelas lagi," kata Axel memelas.
Rowena tidak tega, namun juga khawatir. Rowena ragu-ragu ingin memberikan gelas yang ada di tangannya.
"Benar, hanya satu gelas?" tanya Rowena memastikan.
Axel diam dan terus menatapi Rowena. Ia masih menunggu gelas minumannya diberikan.
"Tidak ada jawaban, aku tidak ada berikan." kata Rowena manatap Axel.
"Aku janji," jawab Axel.
Rowena pun memberikan gelas yang dipegangnya pada Axel. Axel menerima dan meneguk habis minuman dalam gelas. Lalu diletakanya gelas di atas meja.
Rowena meeangkul lengan Axel. Ia mengajak Axel untuk pulang. Rowena membantu memapah Axel sampai keparkiran, ia membantu Axel masuk dalam mobil.
"Panggil supir pengganti," kata Axel.
"Tidak perlu, aku yang akan mengantar." sahut Rowena.
Rowena pun mengemudi mobil meninggalkan Bar. Ia mengatar Axel pulang.
***
Dengan susah payah Rowena akhirnya berhasil membawa Axel sampai ke kamar tidur. Rowena melepas sepatu Axel, dan menyelimuti Axel dengan selimut. Ia menatapi Axel sekali lagi sebelum ia pergi keluar kamar. Saat ia hendak pergi, tangan Rowena dipegang oleh Axel.
"Jangan pergi," kata Axel.
Rowena melihat tangannya yang dipegang Axel lalu melihat ke arah Axel. Axel sudah membuka matanya dan menatapnya.
"Kau istirahat saja, aku akan keluar. Aku tidak akan pergi," kata Rowena tersenyum.
Axel menarik tangan Rowena, sehingga Rowena jatuh ke arahnya. Rowena langsung ambruk menimpa Axel, Axel memeluk erat Rowena.
"Temani aku sebentar saja." pinta Axel.
***
Setelah sarapan dan mencuci peralatan makan. Rowena pun bersiap-siap. Axel pun menawarkan diri untuk mengantar Rowena.
Setelah beberapa saat, Rowena selesai bersiap dan siap untuk berangkat. Axel mengantar Rowena kembali kerumahnya. Sesuai janji Axel, Rowena bisa pulang. Rowena mendapat waktu liburnya selama seminggu.
Mobil yang ditumpangi Axel dan Rowena melaju perlahan meninggalkan halaman rumah Axel.
Dalam perjalan, Axel dan Rowena hanya saling diam. Rasa canggung terasa di antara keduanya. Bagaimana tidak, setelah mendengar cerita kejadian semalam. Rowena bahkan tidak berani untuk menatap Axel. Begitu juga Axel yang bertekad menjaga jarak dengan Rowena agar ia tidak hilang kendali
"Kau sudah hubungi Kakakmu?" tanya Axel memecah suasana canggung.
Rowena menganggukkan kepalanya perlahan, "Sudah. Kemarin aku menghubunginya," jawab Rowena.
Axel hanya mengangguk, ia tidak bicara lagi setelah itu. Suasana kembali sunyi, keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
"Itu, apakah kau baik-baik saja tanpaku? itu, maksudku bukan seperti yang kau pikirkan. Maksudku, seminggu tidak dibersihkan, apakah kau bisa membersihkan rumah?" kata Rowena sedikit khawatir.
"Sebelum kau datang, bukankah aku juga tinggal sendiri?" jawab Axel.
"Ah, iya. Aku tahu kau pasti baik-baik saja tanpaku. Hahaha," jawab Rowena dengan tertawa kaku.
"Tapi aku pasti akan kesepian tanpamu," ucap Axel tiba-tiba.
"Ah, apa? kau bilang apa?" tanya Rowen tidak yakin dengan apa yang didengarnya.
"Lupakan," kata Axel merasa malu.
"Begitu saja kesal. Aku memang tidak mendengarnya dengan jelas," kata Rowena berusaha memberikan penjelasan.