
Pesta usai, Axel dan Rowena kembali ke Hotel karena hari sudah larut malam. Sekarang mereka sudah ada di depan kamar mereka masing-masing.
"Masuk dan istirahatlah," kata Axel. Ia akan membuka pintu dan dihentikan oleh Rowena.
"Hei," kata Rowena menghentikan Axel.
Axel berhenti tanpa menoleh, Sedangkan Rowena tidak tahu harus berkata apa.
"Hm, itu. Jangan lupa obati lukamu sebelum tidur." kata Rowena mengingatkan Axel.
"Ya," jawab Axel.
Axel hendak melangkah, tapi ia mengurungkan niatannya. Axel memikirkan sesuatu, ia ingin Rowena membantu mengoles luka di bahunya.
"Kau mau bantu aku?" tanya Axel.
Rowena mengernyitkan dahi, "ada apa? jika kau butuh bantuan, aku akan bantu." jawab Rowena.
"Bantu aku mengoles obat ke lukaku," kata Axel.
Rowena kaget, "Oh, iya," jawab Rowena.
Axel membuka pintu dan langsung masuk diikuti Rowena. Tanpa ragu-ragu, Axel langsung melepas jas yang ia kenakan. Lalu membuka semu kancing kemejanya.
"A, a, apa yang kau lakukan?" gagap Rowena. Kaget melihat Axel yang tiba-tiba menangalkan semua pakaian.
Axel berbalik dan menatap Rowena, "Bukankah kau ingin membantuku? kau berpikir apa?" kata Axel.
Kemeja pun terlepas, tentu hal itu membuat Rowena terkejut. Untuk pertama kalinya ia melihat tubuh pria lain selain tubuh Ricardo.
"Tu, tunggu. Ja, jangan sembarangan mendekat. Aku wanita dan kau pria," gagap Rowena lagi.
Axel mengernyitkan dahi, ia menyentil kening Rowena karena geli mendengar ucapan Rowena.
"Sudah aku katakan, aku tidak tertarik pada dada rata. Kau bukan tipeku, jangan banyak berpikir." kata Axel tersenyum tipis.
Rowena mengusap keningnya, ia merasa kesal dengan ucapan Axel yang selalu mengatainya dengan sebutan dada rata.
Axel duduk di sofa, "Ayo cepat oleskan krim obat ini," perintah Axel.
Rowena segera berjalan mendekati Axel, ia duduk di belakang Axel. Posisi Axel membelakangi Rowena. Dengan perlahan Rowena mengambil krim di atas meja, dibukanya penutup krim dan dikeluarkanya isi krim itu sedikit-sedikit ke ujung jarinya.
Rowena menatap punggung Axel, terlihat sekali tubuh Axel yang bagus dan kekar. Dengan hati-hati Rowena mengoles obat diluka memar Axel. Saat jarinya menyentuh kulit Axel tanpa pakaian, jantung Rowena berdebar kencang seakan ingin melompat keluar.
Deg ... Deg ... Deg ...
Jantung Rowena berdegup kencang. Rasa-rasanya jantungnya hendak melompat dari rongga dadanya.
Rowena mencengkram ujung gaunnya, "Kenapa jantungku berdebar. Ahh, ini kan hanya mengoles obat. Rowena cukup, hentikan pikiran liarmu," batin Rowena, mencoba menenangkan hatinya yang bergemuruh.
Axel merasakan sentuhan jari Rowena. Ini pertama kali ada wanita asing yang menyentuhnya selain Mamanya Lovely, dan Adiknya, Alica. Terlebih Rowena menyetuh bagian yang bisa dikatakan tidak terlihat jika ia mengenakan pakaian.
"Sshhh ..." desis Axel merasakan nyeri saat Rowena tidak sengaja menekan memarnya.
"Uh, maaf. Aku terlalu menekan memarnya," kata Rowena merasa bersalah.
"Ya, tidak apa. Lanjutkan saja," jawab Axel meringis.
"Ini pasti sangat sakit, harusnya kau pergi ke dokter. Aku khawatir ini bukan memar biasa," kata Rowena lirih.
Axel memegang tangan Rowena yang mengoles luka memarnya. Rowena pun terkejut, tidak menyangka Axel akan memegang tangannya.
"Apa kau takut padaku?" tanya Axel.
"Apa kau sungguh beranggapan aku tidak bisa melakukan hal di luar kendali? kau baru saja tinggal dan kau sudah sedekat ini denganku, sebagai wanita tidakkah kau takut aku akan melakukan hal buruk padamu?" tanya Axel tanpa menatap Rowena.
"Kau ini bicara apa? bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kau tidak tertarik padaku, mengatakan aku bukan tipemu. Karena kau bicara seperti itu aku tidak akan pernah takut padamu," tegas Rowena.
Axel tersenyum tipis, "Baguslah jika seperti itu. Ingatlah, apapun yang terjadi pada kita kedepannya, kau dan aku tidak lain hanya seorang majikan dan pelayan yang terikat kontrak. Jangan sampai kau menyimpan perasaan padaku," kata Axel menegaskan.
Rowena terdiam, "Apa maksud ucapannya? sungguh aku tidak mengerti," batin Rowena.
"Hahaha," Rowena tertawa, "Jangan besar kepala, aku tidak akan pernah mau menyukaimu walau seujung jariku. Bagiku kau tidak lain adalah rekan bisnisku, kita punya perjanjian hitam di atas putih. Aku baik karena aku tau posisiku, aku adalah pelayan pribadimu, pelayan yang melayanimu, dan kau adalah majikanku. Aku juga tidak ingin ada perasaan di antara kita, itu suatu hal yang mustahil." ucap Rowena.
Axel melepas tangan Rowena, "Baiklah, lanjutkan mengoles dan kau bisa istirahat." kata Axel.
"Ya," jawab Rowena.
Rowena segera menyelesaikan pekerjaannya. Selesai mengoles Rowena berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Axel mengiyakan dan membiarkan Rowena pergi meninggalkan kamarnya begitu saja.
***
Tengah malam. Axel memimpikan kejadian di masa lalunya. Di mana ia masih hidup menderita dan penuh dengan tekanan.
Malam itu hujan datang, di tengah hujan yang mengguyur. Axel duduk memeluk dua lututnya sembari menangis di sudut dinding sebuah gedung tua. Bukan tanpa sebab, ia kelaparan, perutnya terasa sakit karena ia terlambat untuk makan.
Hiks ... Hiks ... Hiks ...
Tangisan Axel bersatu dengan gemuruh dibtengah hujan malam itu. Axel terus terisak, ia tidak tahu harus bagaimana dan harus apa. Sakit yang dirasakannnya seakan sudah tidak bisa di tahan lagi.
Seseorang datang mendekat, dengan membawa payung ia menghampiri Axel disudut dinding gedung tua itu.
"Hei, kau di sini rupanya!" serunya sembari menggendong Axel dalam pelukannya.
"Pa, paman. Paman," panggil Axel terisak.
Ia terlihat senang melihat kedatangan seseorang yang memang dikenalnya.
"Aku mencarimu ke mana-mana. Hari sudah gelap, kau tidak lihat?" tanya pria paruh baya itu pada Axel.
"Tapi aku belum dapatkan makanan. Aku tak bisa pulang," ucap Axel memeluk erat pria yang menggendongnya itu.
"Tidak apa-apa. Hari ini aku dapat makanan, aku dan kau bisa makan bersama. Oke," katanya lagi.
"Ya, oke." jawab Axel terus mengeratkan pelukan.
Seseorang yang tidak lain adalah Reynold itu membawa Axel pergi dari gedung tua itu. Rey dan Axel kembali ke tempat tinggal sementara mereka.
Sepanjang jalan Axel terdiam dalam gendongan Reynold. Reynold merasa kasihan, namun ia ingin agar Axel tumbuh menjadi pria yang kuat dan tidak mudah menyerah. Reynold paham betul, hidupnya sendiri sudah kacau, ia tidak bisa memberikan yang terbaik untuk Axel. Yang bisa dia berikan hanya semangat dan pelajaran menghadapi kemelut kehidupan yang kejam.
"Apa yang kau lakukan sepanjang hari ini? aku melihat kau terluka," tanya Reynold.
"Tidak ada," jawab Axel.
"Oh, tidak ada." ulang Reynold meniru ucapan Axel.
Axel mencengkram kaus Reynold, ia merasa takut, juga merasa kesakitan. Tidak lama kemudian, ia menangis.
Hiks ... Hiks ...
Sesengguk Axel tertahan. Reynold tersenyum dan mengeratkan gendongannya.
"Anak nakal, jika ingin menangis kenapa kau tahan. Aku tidak akan memukulmu hanya karena kau menangis," ucap Reynold.
"Huaaaa ..." suara tangisan Axel pecah.