
Deg ... deg ... deg ...
Jantung Axel berdegup kencang. Wajah Axel juga merona merah. Debaran yang sama seperti saat Rowena menggerayangi tubuhnya. Ingatan semalam kembali tergambar. Suara erangan, deru napas yang naik turun, juga rangsangan yang terjadi lewat sentuhan tangan juga ciuman.
"Ahh, sial! Kenapa aku jadi memikirkannya lagi?" batin Axel.
"Axel," panggil Rowena.
Ia merasa Axel masih menyembunyikan sesuatu. Merasa aneh saat tiba-tiba Axel diam.
"Hei, Axel. Kau kenapa?" kata Rowena sedikit meninggikan suara.
Axel pun kaget, "Ya? apa?" jawab Axel kikuk.
"Ya, apa? jawaban macam apa itu?" sahut Rowena mengangkat sebelah alisnya. Ia lalu mengernyitkan dahi, "Ada apa? apa yang kau pikirkan? kau menyembunyikan sesuatu dariku, ya? ayo jujur," cecar Rowena.
Axel melebarkan mata, "Apa? menyembunyikan apa? aku tidak menyembunyikan apapun darimu. Sungguh," dusta Axel. Ia terpaksa berbohong. Tidak ingin merasa malu dan kena marah Rowena.
"Bohong!" seru Rowena.
Rowena berdiri dari duduknya dan mendekati Axel, "Katakan, apa yang kau smebunyikan. Jika tidak ..." kata Rowea yang langsung diam.
"Jika tidak?" ulang Axel menatap Rowena dan penasaran apa yang akan Rowena lakukan jika ia menolak permintaanya.
"Aku akan menciummu lagi," ancam Rowena. Ia pun mendekatkan kembali wajahnya ke wajah Axel.
Axel kaget, "Kau, kau sudah gila, ya?" jawab Axel memalingkan wajahnya dengan segera.
Rowena meraba wajah Axel dan membuat wajah Axel berpaling padanya. "Ya, mungkin saja aku memang gila. Jadi, kau mau bicara atau mau aku cium?" tawar Rowena memberi pilihan.
"Wanita ini, apa dia bersungguh-sungguh? Ah, paling hanya menggertakku saja, kan? dia pati tidak akan berani menciumku," batin Axel.
Axel tersenyum tipis, "Baiklah, cium aku." jawab Axel.
Ia ingin membuat Rowena mundur dengan menjawab pilihan yang sulit.
Rowena terdiam. Axel pun puas dengan jawabannya. Sudah menduga jika Rowena hanya membual semata. Tidak mungkin Rowena mau menciumnya. Namun, pikiraan itu sepenuhnya salah. Karena beberapa detik berikutnya, bibir Rowena sudah bertautan dengan bibir Axel. Rowena memberanikan diri mencium Axel, ia tidak bisa lagi mundur. Tidak ingin dikatakan sebagai seorang yang hanya bisa omong besar.
"Apa ini? wanita ini sungguh-sungguh berani. Baiklah, aku akan lihat seberapa berani lagi kau," batin Axel.
Axel meraih pinggang Rowena, lalu menariknya dalam pangkuannya. Rowena kaget, ia melebarkan mata saat dirasa Axel membalas ciumanya. Tidak mau kalah, Rowena mengalungkan tangannya ke leher Axel, lalu mendominasi. Ia tidak ingin Axel lebih dominan darinya.
"Kau pikira aku bergurau? yang benar saja," batin Rowena kesal.
"Wah, wah, wanita ini sungguh tak mau kalah rupanya. Baiklah, kita lihat samapai mana batasanmu," batin Axel tersenyum tipis.
Axel pun melepas ciumamnya, ia beralih menciumi leher Rowena. Rowena hanya menutup mata dan mencengkram kuat bahu Axel. Saat serangan bibir Axel menyerang telinga Rowena, ia kembali bersuara seksi seperti semalam. Hal itu tentu saja membuat tubuh Axel pans dingin. Merasa sudah di ujung batasan, ia pun akhirnya mengakhiri permainan dan mengaku menyerah pada Rowena.
"Baiklah, aku kalah. Aku akan cerita padamu apa yang kupikirkan tadi." kata Axel. Ia tidak ingin melewati batasannya sebagai seorang laki-laki.
Rowena tersenyum lalu mencium pipi kiri axel, "Katakan saja semuanya. Jangan ada yang kau sembunyikan dariku. Jika tidak, aku akan menciumimu lagi seperti tadi." kata Rowena.
Axel hanya tersenyum. Ia merasa Rowena sangat lucu dan menggemaskan. Siapa yang sangka, Rowena yang yang terlihat polos ternyata bisa liar dan melakukan banyak hal tidak terduga. Yang bisa membuat Axel tercengang.
"Ya, aku akan menceritakan apapun yang menjadi beban pikiranku. Kau tidak perlu cemas dan khawatir. Aku baik-baik saja. Oke?" ucap Axel mencoba menenangkan hati Rowena yang cemas.
Rowena mengusap wajah Axel, "Ya, jika kau sudah mengatakan seperti itu. Aku bisa apa lagi. Aku hanya bisa mempercayai ucapanmu saja, kan?" jawab Rowena tersenyum cantik.
Senyum Rowena bagaikan sihir. Dalam sekejap mampu membuat hati Axel kembali goyah. Axel mendekatkan wajahnya, semakin dekat dan dekat. Tangannya perlahan menyusup masuk mengusap tengkuk leher Rowena dan Axel pun mencium bibir Rowena dengan sangat lembut.
***
Ponsel Axel di atas meja bergetar. Axel mendapatkan panggilan dari Alica. Axel baru saja selesai mandi, ia langsung menyambar ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"Alica," gumam Axel.
Axel ingin mengabaikannya, namun niatannya diurungkan. Akhirnya ia menerima panggilan dari Alica dan berbincang dengan Alica.
[Percakapan di telepon]
"Hallo," jawab Axel.
"Hallo, Kakak," teriak Alica senang.
"Kecilkan suaramu, pendek! kau membuat telingaku sakit," keluh Axel menjauhkan telinganya dari ponselnya. Lalu menempelkan ponselnya kembali ke telinga dan mendengarkan Alica bicara.
"Maafkan aku, aku hanya terlampau senang. Bagaimana kabarmu, Kak?" tanya Alica.
"Tidak banyak berubah. Setidaknya lebih baik daripada harus di rumah. Kau sendiri, bagaimana?" tanya balik Axel.
Mendengar pernyataan Axel membuat Alica sedikit kecewa, "Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini, Kak? kenapa kau selalu merasa tidak nyaman dengan kami," keluh Alica.
Axel kaget, "Hei, Alica. Bukan itu maksudku. Aku hanya lelah jika Papa selalu membanding-bandingkan aku dengan Azel. Aku adalah aku, Azel adalah Azel. Meski kami saudara kembar, kami tetap memiliki perbedaan. Kenapa Papa selalu membandingkan dan menuntutku sama seperti Azel?" ungkap Axel tidak senang.
"Aku tahu perasaanmu. Aku juga tidak membela Papa, aku hanya ingin keluarga kita bahagia dan damai, Kak." kata Alica.
"Mungkin aku akan tinggal di sini lebih lama. Jika kau ingin datang, datanglah. Kita bisa pergi berlibur juga jika kau mau," kata Axel.
Alica hanya diam tidak bersuara. Membuat Axel merasa bersalah.
"Maafkan aku. Tidak seharusnya aku emosi padamu, Alica. Hari ini banyak hal aku pikirkan, pikiranku kacau sekali. Maaf," imbuh Axel.
"Ada apa? sesuatu terjadi?" tanya Alica penasaran.
"Tidak ada, hanya masalah pekerjaan saja. Masih bisa ditangani," jawab Axel.
"Aku dan Mama, kami sangat rindu padamu, Kak. Beberapa hari Lalu, Kakek menghubungi Mama. Kakek mengatakan jika beliau dan Nenek akan datang." kata Alica.
"Ah, begitu. Jika mereka datang, kau hubungi saja aku. Aku akan bicara dengan Kakek dan Nenek." sahut Axel.
"Hm," jawab Alica bergumam.
"Kau sehat? Aktivitasmu lancar?" tanya Axel.
"Ya, aku sehat. Hanya sedikit sakit karena masa siklus. Kegiatanku ya tetap berjalan seperti biasa. Kau sendiri, apakah perusahaan masih dalam keadaan yang tidak baik?" tanya balik Alica.
"Awalnya tidak baik, saat aku datang. Namun, sekarang aku sudah bereskan semuanya. Tidak ada yang perlu dikhawatirka lagi," jawab Axel.
"Kak, kau sudah makan malam?" tanya Alica pada Axel.
"Sudah, aku baru selasai mandi dan ingin memeriksa beberapa berkas." jawab Axel.
"Oh, begitu. Baiklah, aku tak akan mengganggumu lagi. Sebentar lagi aku juga akan pergi, aku harus menemani Mama pergi berbelanja untuk memasak makan malam nanti. Sampai jumpa lain waktu, Kak." kata Alica berpamitan.
"Hati-hati di jalan Alica. Sampaikan salamku pada Mama, ya. Sampai jumpa, " kata Axel.
"Ya, kau juga harus selalu berhati-hati. Aku menyayangimu," kata Alica yang langsung mengakhiri panggilannya.
*(Waktu di Inggris lebih cepat 5 jam dari waktu di Amerika)*