
Axel mendekat, ia perlahan naik ke atas tempat tidur Rowena dan langsung menyelinapkan tangannya masuk ke baju Rowena. Axel mencium pipi Rowena, membuat Rowena seketika kaget.
"Axel," panggil Rowena kaget.
"Apa yang kau pikirkan?" bisik Axel.
"Apa yang kau lakukan? singkirkan tangammu," kata Rowena berusaha menyingkirkan tangan Axel yang menelusuri punggungnya.
"Kau menggodaku dengan pakaian seperti ini?" tanya Axel.
"Menggoda apa, aku tidak mendatangimu ke kamarmu, bukan? aku dikamarku sendiri sekarang. Kau, kenapa kau ada di sini?" tanya Rowena sedikit kesal.
"Merindukanmu," goda Axel tersenyum nakal.
"Jangan mulai. Aku sedang tidak ingin bermain-main," jawab Rowena mengabaikan Axel.
Rowena mengambil buku dan membaca bukunya.
Axel terdiam, ia merasa sedikit kesal diabaikan. Axel langsung membalikan badan Rowena dan setengah menindih Rowena.
"Kau tidak lihat aku di sini?" tanya Axel menatap tajam mata Rowena.
Mata Rowena juga menatap tajam mata Axel, "Jika kau di sini, lalu apa? ini rumahmu, kau bisa ke mana saja yang kau suka. Bukankah aku hanya budakmu," jawab Rowena pedas.
Mendengar ucapan Rowena, Axel merasa aneh. Bukan seperti ini yang diharapkan Axel, kata-kata Rowena seperti jarum yang menusuk kulitnya.
"Kau kenapa? kau marah karena kejadian tadi?" tanya Axel.
Rowena memalingkan wajah tanpa menjawab. Tiba-tiba saja keluar air mata dari pelupuk matanya, entah mengapa Rowena bisa menangis.
"Hei, Rowena. Kau kenapa?" tanya Axel bingung, "Ok, jika hal tadi menyakiti hatimu aku minta maaf. Jangan seperti ini, aku merasa seperti penjahat sekarang. Jangan menangis," kata Axel mengusap air mata Rowena.
"Lupakan saja. Aku baik-baik saja," jawab Rowena.
Axel meraba wajah Rowena dan menatap mata Rowena dalam, "Katakan sejujurnya. Apa yang terjadi? sebelumnya kau tidak pernah seperti ini," kata Axel.
Rowena masih diam, dengan mata yang saling menatap, air mata masih terus berhamburan. Hal itu membuat Axel emosi, Axel kesal karena Rowena hanya diam dan menangis.
"Apa yang dipikirkan wanita ini sebenarnya? Tidak seperti biasanya dia aneh seperti ini," batin Axel.
Pandangan mata keduanya masih lekat memandang satu sama lain. Namun bibir mereka diam membisu.
"Rowena," panggil Axel.
"Rowena bicaralah," pinta Axel.
Pandangan mata Axel semakin tajam. Axel mengertakkan gigi, benar-benar dibuat kesal oleh Rowena.
***
Axel seperti ada dalam arena pertandingan. Kesabarannya seakan sedang diuji. Tidak dapat menahan emosi dan kekesalannya, akhirnya Axel menyerah dan berniat pergi meninggalkan kamar Rowena.
"Baiklah, tidak perlu bicara. Diamlah selamanya," kesal Axel.
Axel mengubah posisinya untuk segera duduk. Belum sampai posisinya berubah sepenuhnya, Rowena mengucapkan kata-kata yang membuat Axel terkejut.
"Aku tidak ingin kau buang!" seru Rowena dengan suara lantang.
Axel duduk dan terkejut, "Apa?" tanya Axel.
Rowena bangun dan duduk, menatapi punggung Axel di hadapannya. "Jangan buang aku meski kontrak kita berakhir. Aku, aku, aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku," ungkap Rowena. Ia pun menunduk dan menangis tersedu.
Pada akhirnya ia tetap tidak bisa menahan diri untuk mengungkap perasaanya.
Axel kaget, ia tidak menyangka Rowena mengucapkan kata-kata seperti itu. Axel bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Jantungnya seakan ingin melompat keluar.
"Cinta, ya. Aku tidak mengerti cinta dan tidak memilikinya sejak aku kecil. Aku hanya bertahan hidup dengan harapan juga mengandalkan kekuatan. Kacau sekali," batin Axel tersenyum masam.
Axel mendengar suara tangisan Rowena. Ia teringat akan senyum juga perhatian Rowena padanya selama ini. Rowena yang menangis tidak bisa menadahkan kepalanya menatap Axel.
Ia merasa takut juga malu. Takut jika Axel akan murka, malu karena ia adalah seorang wanita yang mengungkapkan perasaanya kepada pria lebih lebih dulu.
"Dia pasti akan menolakku. Pria ini pasti akan tetap membuangku. Karena sejak awal ia tidak membutuhkanku, kita hanyalah orang asing yang terikat kontrak kerjasama. Tidak lebih," batin Rowena.
Rowena merasakan kepalanya diusap. Ia lalu mendengar Axel memanggil namanya.
"Rowena ... " panggil Axel.
"Rowena, lihat aku." kata axel lagi memanggil Rowena.
"Rowena," panggil Axel sekali lagi.
Mendengar panggilan Axel, Rowena menadahkan kepala dan menatap Axel. Mata yang berkaca dan sembab, itulah yang terlihat oleh Axel.
Axel membelai wajah Rowena, "Aku tidak pernah hidup dengan kasih sayang dan cinta. Aku juga tidak tahu cara mencintai seseorang. Apa kau masih mau mencintai pria seperti aku ini?" tanya Axel serius.
Rowena mengangguk, "Aku tidak peduli itu. Aku hanya ingin mencintaimu," jawab Rowena tanpa ragu.
Axel mencium kening Rowena, "Baiklah, jika seperti ini. Ayo, ajari aku mengerti apa itu cinta. Agar aku bisa mencintaimu lebih dari kau mencintaiku," jawab Axel dengan suara lembutnya.
Rowena melebarkan mata, "Jadi maksudmu? kau," kata-kata Rowena terhenti. Ia lekat menatapi pria di hadapannya itu.
Axel tersenyum, "Aku tidak tahu seperti apa perasaanku padamu. Yang aku tahu, aku bahagia dan merasa nyaman dekat denganmu. Juga di sini," kata Axel memegang tangan Rowena untuk diletakan di dadanya, "Kau bisa rasakan, jantungku berdebar. Setiap kali aku dekat denganmu, aku selalu berdebar," imbuh Axel.
Rowena tersenyum, ia langsung memeluk Axel tanpa ragu-ragu lagi. Axel juga membalas pelukan Rowena, mengeratkan pelukan Rowena.
"Terima kasih. Aku senang sekali," ungkap Rowena melebarkan senyumannya. Ia memendamkan wajahnya ke pelukan Axel.
Rowena melepas pelukan, Rowena mengusap lembut wajah tampan Axel. Senyum Rowena begitu cantik, membuat Axel tergoda untuk mencium Rowena. Axel mendekatkan wajahnya, dengan gerakan perlahan-lahan, ia menggapai bibir kekasihnya itu dengan bibirnya. Rowena membalas ciuman Axel, keduanya berciuman mesra, saling mengungkapkan rasa.
***
Axel merasa aneh. Ini pertama kalinya ia tergoda akan seorang wanita. Sebelumnya, ia bahkan tidak berminat memandang wanita lain selain Mama dan Adiknya, Alica.
Tok ... Tok ... Tok ...
Pintu kamarnya terketuk, Rowena membuka pintu dan mengintip ke dalam kamar Axel.
"Boleh aku masuk?" tanya Rowena.
"Ya," jawab Axel.
Rowena masuk dan menutup pintu kamar. Ia berjalan menghampiri Axel yang duduk di sofa.
"Ada apa?" tanya Axel.
"Itu, kau ingin makan apa untuk makan malam? tidak ada banyak bahan di rumah, aku harus keluar untuk membelinya." kata Rowena.
Axel menggapai tangan Rowena, dikecupnya punggung tangan kanan Rowena lembut.
"Ayo belanja bersama, sekalian saja kita makan malam di luar," ajak Axel.
"Wah, kau manis sekali," puji Rowena.
"Kau suka aku yang manis? atau ... " kata -kata Axel terpotong Rowena.
"Jadilah seperti dirimu biasanya. Aku menyukai karaktermu yang dingin dan menyebalkan itu. Kau tidak perlu bermanis-manis seperti ini, karena aku tau kau seperti apa. Akan ada waktunya kau manis melebihi pria romantis lainnya," sela Rowena menegaskan.