
Merry datang membawa sarapan untuk Ricardo. Merry memasang senyuman manis menyapa pelayan dan meminta pelayan menyajikan makanan yang dibawanya di meja makan untuk sarapan. Tanpa banyak bicara, Merry langsung pergi ke kamar Ricardo, ia ingin bertemu Ricardo. Langkah kakinya terhenti, ia segera memegang gagang pintu dan membuka pintu.
"Sayang," sapa Merry yang langsung masuk dan menutup pintu.
Di dalam kamar, Ricardo masih bertelanjang dada hendak mengenakan pakaian. Kegiatannya terhenti sejenak karena Ricardo mendengar suara yang tidak asing baginya.
Ricardo kembali mengenakan pakaiannya dan menyapa balik merry, "Hai sayang, kau sudah datang?" tanya Ricardo tersenyum.
Merry berlari dan langsung memeluk Ricardo, "Aku merindukanmu," ucap Merry dengan senyum palsunya.
"Aku juga sangat merindukanmu sayang," jawab Ricardo membalas pelukan Merry.
Tidak lama mereka melepas pelukan, Ricardo begitu merindukan Merry sampai-sampai tidak bisa menahan diri untuk mencium Merry. Wajah Ricardo mendekat, Ricardo ingin mencium bibir Merry, namun dengan ceapt Merry memalingkan wajah dan menolak berciuman dengan Ricardo.
"Ric, ayolah. Jangan seperti ini, ayo keluar dan makan." tolak Merry yang langsung mengajak Ricardo pergi sarapan bersama.
Ricardo tersenyum, ia langsung mencium lembut pipi Merry. "Apa kau malu berciuaman?" tanya Ricardo.
"Tentu saja, ada Rowena dan beberapa pelayan. Jangan sampai mereka berpikir macam-macam," jawab Merry beralasan.
Merry kembali tersenyum palsu, "Siapa yang ingin berciuman denganmu. Aku hanya ingin uang dan semua yang kau miliki. Aku tidak akan pernah bisa mencintaimu Ricardo, cintaku hanya untuk Jason seorang. Maafkan aku," batin Merry.
***
Setelah sarapan, Axel pergi ke kantor dijemput oleh supir. Sesampainya di kantor, Axel langsung mengadakan rapat darurat yang membuat semua anggota stafnya kocar-kacir.
"Tuan," panggil seseorang yang tidak lain adalah penanggung jawab perusahaan sebelum Axel datang.
"Hm," gumam Axel tanpa melihat seseorang di hadapannya.
"Tuan, mengapa Anda datang tanpa pemberitahuan?" tanyanya dengan tubuh gemetaran.
"Aku datang ke perusahaanku sendiri harus ada izin darimu? Kau orang yang luar biasa, Tuan Schote. Serahkan semua bukti kejahatanmu, atau kau akan berakhir di penjara!" seru Axel menatap tajam ke arah seseorang di hadapannya.
Brukkk....
Sesaat kemudian seseorang itu bersimpuh. Dia menundukan kepalanya ke lantai dan memohon ampunan.
"Ampuni saya, Tuan." katanya memohon ampun, "Saya bersalah, saya akan serahkan semua bukti kejahatan saya. Semuanya akan saya berikan, jangan masukan saya kedalam penjara." Imbuhnya.
Axel tersenyum kecut, "Jika kau ingin bisa hidup layak, bekerjasamalah denganku. Ingat, nyawamu ada dalam tanganku. Aku tidak hanya bisa menyeretmu ke penjara, aku bisa langsung meminta orangku membereskanmu jika aku mau. Jangan berpikir jika aku selemah Azel, Schote!" jelas Axel menatap tajam pada seseorang yang berlutut di hadapannya.
"Ba-baik, Tuan. Saya mengerti," jawabnya dengan suara terbata.
"Berdirilah, urusan ini kita bahas nanti lagi. Sekarang kita bahas hal lain di ruang rapat, ayo..." ajak Axel.
Dengan cepat seseorang itu berdiri dan langsung mengikuti Axel yang sudah melangkahkan kaki keluar dari ruangannya. Seseorang itu begitu ketakutan, ia merasa bersalah dan merasa terancam. Tidak pernah terpikirkan jika dia akan tertangkap basah hanya dengan pertemuan pertama.
***
[Tiga puluh menit kemudian]
Di ruang rapat semuanya terdiam, begitu juga Axel. Axel melihat sekeliling, melihat wajah orang-orang yang bekerja untuknya tanpa ragu lagi.
"Perusahaan menggaji kalian bukan untuk bermain-main. Ini hasil kerja kalian selama ini?" tanya Axel dengan nada suara dingin.
"Mulai sekarang, jika ada di antara kalian yang masih ingin bermain-main, silakan angkat kaki dari perusahaan. Saya adalah penanggung jawab perusahaan mulai dari hari ini, Tuan Schote akan saya pindahkan." jelas Axel.
Semua melebarkan mata, mereka tidak bisa menolak ataupun membantah. Karena mereka tahu, jika Axel Williams adalah sang empu atau pemilik perusahaan. Tidak ada yang salah jika pada akhinya perusahaan akan dipegang kembali oleh pemilik aslinya.
"Apakah ada pertanyaan? jika tidak kita akhiri saja," kata Axel.
Semua diam tanda mengerti. Axel berdiri dari duduknya dan pergi meningagalkan ruang rapat. Begitu juga dengan Marco Schote yang buru-buru keluar menyusul Axel.
"Entahlah, kita tahu jika dia adalah seseorang yang rakus dengan kekuasaan dan uang."
"Jangan bicara lagi! ayo kembali bekerja, tetap saja pada akhirnya kita yang kena getah. Kita sudah bekerja keras, hasil yang kita dapat hanya keluhan."
"Mungkinkah Direktur kita yang baru adalah sosok yang kejam? Beliau sangat berbeda."
"Hei, kau tidak tahu. Beliau adalah Tuan Axel Williams, bukan Tuan Azel Williams."
"Ah, ternyata saudara kembarnya. Aku tidak perhatikan dengan seksama, karena beliau tidak memperkenalkan diri secara resmi."
"Sudah-sudah, ayo kita kembali..."
"Yah, ayo..."
Semua orang pergi meninggalkan ruang rapat. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
***
Malam harinya. Karena sibuk dari pagi, Axel sampai lupa waktu. Tidak terasa hari sudah malam, langit pun menjadi gelap.
Axel melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Axel menutup sebuah berkas dokumen yang ada di hadapannya.
"Aku lelah sekali," keluh Axel bangkit dari duduknya.
Axel meraih jasnya dan pergi meninggalkan ruang kerjanya. Tidak ada seorangpun di perusahaan, kecuali petugas keamanan yang tersisa, Axel sungguh lupa waktu.
***
Rowena makan malam bersama Ricardo dan Merry. Seperti biasa, Merry akan menunjukan sandiwaranya. Merry terlihat begitu peduli pada Ricardo, Rowena tahu Merry hanya berpura-pura dan tidak tulus. Namun berbeda dengan Ricardo yang menganggap Merry adalah seorang Dewi.
Merry menyuguhkan makanan di hadapan Rowena dengan senyuman cantiknya, Merry ingin memberikan citra yang baik di hadapan Rowena dan Ricardo.
"Sayang, makalah. Ini aku masak khusus untumu karena kau menyukainya. Jangan menolakku," ucap Merry dengan suara lembut.
Rowena tersenyum masam, "Terima kasih, tetapi aku sedang diet. Makanan ini akan aku berikan kepada Bibi saja nanti," jawab Rowena.
"Wanita ini menyebalkan sekali. Apakah dia sedang menguji kesabaranku?" batin Merry.
Merry tersenyum, "Ya, kau boleh berikan pada siapa saja. Semoga dietmu sukses, Rowena."
"Terima kasih, kau memang kakak ipar terbaik. Kau juga idaman semua pria," kata Rowena mengolok Merry dalam pujiannya.
"Ahahahaha... biasa saja. Dari mana kau belajar berkata manis seperti itu. Meski banyak yang melirik, tujuanku hanya pada Kakakmu seorang. Aku sangat sayang padanya," ucap Merry dengan mengumbar senyum palsunya.
"Luar biasa, teruslah bersandiwara Merry. Cepat atau lambat aku akan bongkar topengmu," batin Rowena kesal.
"Itu bagus, jika kau mau sepenuh hati pada kakakku. Aku tidak akan biarkan kakakku disakiti," sindir Rowena manatap Ricardo.
"Rowena, apa yang kau katakan?" tegur Ricardo.
"Tidak ada, aku hanya bicara asal saja. Aku sudah kenyang, ingin kembali ke kamarku." kata Rowena.
Rowena meletakan garpu dan sendok ke piring. Dengan cepat berdiri dari duduknya dan langsung pergi untuk kembali ke kamarnya. Tanpa bicara apa-apa lagi, Rowena melangkahkan kaki perlahan menjauh dari meja makan.
"Maafkan Rowena sayang. Akhir-akhir ini dia memang sensitif," ucap Ricardo menatap Merry.
"Tidak apa, aku bisa mengerti. Makanlah," kata Merry kembali tersenyum.
"Sial, jika seperti ini aku akan sulit untuk menguasai Ricardo sepenuhnya. Aku harus segera bertindak, agar ****** kecil itu tidak lagi bisa mengganggu rencanaku. Yah, aku sudah sejauh ini. Tidak bisa untuk mundur," batin Merry.