
"Ya, ya. Aku mengerti, Love. Tenang saja, aku akan membantumu. Sebagai sepupumu aku tidak akan pernah melupakan apa itu 'keluarga' meski kita berjauhan. Aku akan perlahan mendekatinya nanti. Meski perasaanku mengatakan akan sulit. Hahaha, kau tentu tahu, perasaanku sangat sensitif jika mengenai seseorang, kan? Saat mendengar suaranya saja aku bisa merasakan aura luar biasa darinya." kata Flip menjelaskan.
"Semoga pertemuan kalian lancar. Jangan masukan dalam hati, jika seandainya Axel mengucapkan hal yang tidak kau sukai atau menyinggungmu. Dia memang sedikit kasar dan terbuka soal berpendapat," jelas Lovely memberitahukan sedikit informsi tentang Axel.
Flip tersenyum, "Soal itu aku tahu. Bukankah dia langsung menekanku dengan bertanya mengapa aku ingin menemuinya saat di telepon? Anakmu sungguh tidak ingin menemui seseorang lain tanpa alasan yang kuat," jawab Flip.
"Terima kasih, Flip. Kau yang terbaik," ucap Lovely memuji.
"Aku tutup dulu. Setelah aku bertemu dengannya aku akan hubungi kau lagi. Jaga diri, dan sampaikan salam untuk suami juga kedua Anakmu yang lain," kata Flip.
"Hm, baiklah. Bye ... " ucap Lovely berpamitan.
"Bye ... " jawab Flip.
Flip mengakhiri panggilannya. Ia kembali memasukan ponselnya dalam mantelnya. Matanya kembali melihat ke arah pertokoan tempat yang dituju putri kesayangannya. Ia melihat putrinya sibuk memilih beberapa buku. Melihat situasi yang aman, Flip melangkah pergi masuk dalam Restorant.
***
Moon melihat-lihat beberapa buku. Ia tertarik dengan buku-buku cerita bergenre fantasi juga sejarah. Ia juga memilih beberapa komik juga novel.
Moon melihat sekitarnya, ia merasakan akan ada sesuatu. Benar saja, tidak lama kemudian ada beberapa orang masuk dengan berpakaian aneh menghampiri penjual buku. Orang-orang itu mengancam penjual buku untuk memberikan sejumlah uang. Semacam pajak yang harus dibayar dengan berdalih keamanan.
"Preman tengik," batin Filmoon.
Filmoon melihat ekspresi wajah penjual yang tertekan. Penjual itu juga merasa ketakutan, dengan tubuh gemetaran mengeluarkan sejumlah uang dan memberikan pada orang di hadapannya. Setelah mendapatkan uang, orang-orang itu langsung pergi. Namun, Filmoon tidak tinggal diam, sengaja ditabraknya orang tersebut.
"Maaf," kata Filmoon, menatap orang yang ditabraknya.
Orang itu juga menatap Filmoon. Filmoon tersenyum dan mengedipkan matanya, ia memegang tangan pria di hadapannya.
"Tuan, bisakah Anda mengembalikan uang itu? itu bukan uang milik Anda," kata Filmoon.
Pria itu terdiam, ia melihat uang di tangannya dan berjalan mengembalikan uang tersebut kepada pemilik toko.
"Tuan, apa yang kau lakukan?" tanya salah seorang rekan dari pria itu. Ia terkejut melihat Bosnya menuruti petintah wanita asing begitu saja.
"Diam kau!" sentak pria itu pada rekannya.
"Tuan, ini uangmu," kata pria itu memberikan pada penjual buku.
"Anda tidak berkenan meminta maaf? dan mengakui kesalahan Anda?" kata Filmoon lagi.
"Tuan, maaf. Aku melakukan kesalahan," kata pria itu.
Filmoon meminta sebuah kertas dan pena. Filmoon meminta pria itu membuat surat pernyataan, jika dia tidak akan melakukan hal seperti itu lagi kepada pemilik toko.
Setelah selesai membuat surat pernyataan, ketiga orang aneh itupun pergi meninggalkan toko. Penjaga toko merasa aneh, ia terus menatapi Filmoon.
"Ada apa, Bibi?" tanya Filmoon.
"Bagaimana bisa kau melakukan itu? apa itu semacam sihir?" tanyanya bingung bercampur penasaran.
Pemilik toko itu tidak mengerti akan ucapan Filmoon. Namun, dia bersyukur dengan adanya Filmoon, uangnya tidak diambil paksa orang lain. Filmoon pun membayar tagihan bukunya, dan segera pergi meninggalkan toko tersebut. Rona bahagia terpancar dari wajah Filmoon, ia terlihat senang, sehingga ia terus mengembangkan senyumannya.
***
Axel bersama Rowena berjalan masuk ke dalam restorant. Meraka langsung menemui Flip juga Filmoon. Melihat Axel datang, Flip langsung menyambutnya dengan senyuman. Lalu mempersilakan Axel juga Rowena untuk duduk.
"Axel," sapa Flip.
"Hallo, Paman Flip," sapa Axel.
Axel dan Flip saling berjabat tangan. Axel merasakan tangan Flip begitu dingin, serasa menyentuh es. Sedangkan Flip merasakan sebaliknya.
"Duduklah, siapa dia?" Tanya Flip menatap Rowena.
"Hallo, saya Rowena. Sedang mengenal Anda, Tuan." sapa Rowena memperkenalkan diri pada Flip.
"Oh, Hallo juga Rowena. Panggil saja aku Paman," jawab Flip.
"Oh, ya. Axel, ini putriku satu-satunya. Filmoon. Filmoon ini sepupumu, Axel. Putra Bibi Lovely dan Paman Andrew." kata Flip.
Begitulah Flip saling memperkenalkan Axel dan Filmoon, putrinya. Axel dan Filmoon saling berjabatan tangan dan saling bertatapan. Sesuatu terjadi, Filmoon melebarkan mata seakan melihat sesuatu yang mengejutkan.
Dalam penglihatan Filmoon, ia melihat seoarang anak yang menangis seorang diri di sebuah sudut gedung tua. Seorang pria paruh baya datang dan menggendongnya. Saat itu juga sedang turun hujan. Dalam penglihatannya, Filmoon mengikuti kedua orang itu sampai kesebuah gang kecil yang gelap. Filmoon terus mengikuti hingga sampai ke tenda kumuh dan berlubang. Ia mengintip dari lubang, apa yang kedua orang itu lakukan. Anak kecil itu sedang berbagi makanan dengan seorang pria tua di sampingnya. Dan pria tua itu memberinya kata-kata semangat juga nasihat. Pria itu memanggil anak kecil yang sedang makan itu dengan panggilan Axel.
Filmoon tersadar, dari hidungnya meneteskan darah segar. Melihat hidung Filmoon berdarah, Flip langsung panik. Ia segera mengeluarkan sapu tangan dan menanyakan keadaan Filmoon.
"Sayang, kau kenapa?" cemas Flip.
Filmoon mengambil alih sapu tangan yang dipegang Flip. Ia mengusap lembut hidungnya.
"Tidak apa-apa, Pa." jawab Flip. Ia menadahkan kepalanya sedikit dan berpamitan untuk ke pergi ke kamar mandi. "Maaf, aku permisi ke kamar kecil dulu," kata Filmoon yang langsung pergi setelah berpamitan.
Melihat itu Axel dan Rowena kaget. Mereka saling bertatapan, sama-sama tidak tahu situasi seperti apa saat itu. Sedangkan Flip masih terlihat kaget melihat kejadian itu.
"Apakah dia akan baik-baik saja? boleh aku menyusulnya, Paman?" tanya Rowena.
"Ya, boleh," jawab Flip sedikit khawatir.
Rowena menatap Axel dan tersenyum, ia mengusap lengan Axel seakan isyarat jika ia akan baik-baik saja. Dan Axel tidak perlu mengkhawatirkannya. Ia pun segera pergi menyusul Filmoon ke kamar mandi.
"Paman baik-baik saja?" tanya Axel menatap Flip yang masih terlihat tegang.
"Ya, aku baik. Duduklah, Nak," jawab Flip merubah ekspresinya.
Flip duduk diikuti Axel. Keduanya saling diam dan menatap. Flip masih khawatir memikirkan putri kesayangannya. Hatinya tidak tenang. Terlihat sekali jika Flip sedang gelisah.
"Paman sungguh baik-baik saja? Pman terlihat gelisah seperti itu," kata Axel menatap lekat arah Flip.
Flip tertawa kecil, "Hahaha ... aku baik-baik saja, Nak. Maaf, ya. Aku terlalu cemas hingga seperti ini." jelas Flip.