Axel Williams

Axel Williams
Bab 19.



Di sebuah Kedai kopi, Ricardo bertemu dengan seseorang. Ricardo dan seseorang itu sedang membicarakan hal pentinh berkaitan dengan kerjasama.


"Jadi, apa yang Anda inginkan, Tuan Williams?" tanya Ricardo pada seseorang di hadapannya yang tidak lain adalah Axel Williams.


"Sebelumnya, saya pribadi memohon maaf sebesar-besarnya. Sepertinya kerjasama kita tidak bisa diperpanjang lagi. Kwalitas perusahaan Anda sangat kurang, Tuan Haeyse." jelas Axel.


"Anda bergitu berterus terang, Tuan." sahut Ricardo.


"Tentu saja, jika menyangkut bisnis saya akan bicara secara terbuka. Kerjasama kita bernilai jutaan, akan sangat disayangkan jika gagal." jelas Axel lagi.


"Anda sangat yakin jika perusahaan saya tidak mampu. Tidakkah Anda berikan kami kesempatan?" tanya Ricardo.


Axel terdiam sesaat, ia memandangi berkas dokumen di tangannya. Matanya menyelisik setiap tulisan dalam berkas dokumen itu. Tidak beberapa lama, Axel meletakan berkas dokumen itu di meja dan manatap Ricardo dengan tatapan mata yang tajam.


"Baiklah, mengingat kerjasama kita sebelumnya. Saya akan pertimbangkan kembali, saya akan berikan satu kali kesempatan terakhir, saya berharap Anda menggunakan waktu dengan baik. Jangan mengecewakan saya, Tuan Haeyse." jawab Axel menegaskan.


Ricardo tersenyum senang, "Tidak akan, Tuan Williams. Saya senang, Anda mau memberikan kesempatan untuk perusahaan saya," kata Ricardo.


"Sama-sama," jawab Axel dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Ricardo menatap Axel, "Maaf, boleh saya bertanya, Tuan?" Tanya Ricardo.


Axel mengernyitkan dahi, "Ya, silakan saja. Apa yang ingin Anda ketahui?" jawab Axel.


"Apakah perusahaan sudah dialihkan kepada Anda sepenuhnya? Ahh, maaf. Saya hanya ingin tahu saja. Jika tidak ingin menjawab, maka abaikan saja. Saya tidak ingin suasana hati Anda tidak baik," kata Ricardo.


"Apakah Anda dekat dengan orangtua saya? Maksud saya pengelola perusahaan sebelumnya." tanya Axel menatap Ricardo.


"Tuan Andrew Williams?" tanya Ricardo.


Axel pun mengangguk pelan tanpa menjawab.


"Ya, kami sering bertemu jika ada waktu luang. Beliau adalah seorang yang keras, baik dalam sikap maupun berbicara. Tetapi saya menyukai karakter Beliau." jelas Ricardo.


"Oh, begitu." sahut Axel.


"Saya dengar Beliau memiliki Tiga orang putra dan putri. Karena Beliau adalah rekan bisnis saya, maka saya sangat menjaga hubungan baik dengan Baliau." jelas Ricardo lagi.


"Saya mengerti. Maafkan saya menyela, Tuan Haeyse. Saya berbeda dengan Papa saya. Saya tidak menyukai hubungan dekat dengan orang lain. Anggaplah kita sudah saling mengenal satu sama lain, meski ini adalah pertemuan pertama kita. Namun, saya lebih suka jika kita mengurusi masalah masing-masing tanpa melibatkan satu sama lain. Kenal bukan berarti Anda dan saya dekat. Saya harap Anda mengerti maksud saya," jelas Axel tanpa berbasa-basi.


"Apa ini? apakah dia manusia es? kata-katanya dingin sekali. Dia bisa menebak ujung ucapanku dengan baik, dia tahu maksudku tanpa aku bicara panjang lebar. Luar biasa," batin Ricardo heran.


Ricardo terkejut mendengar ucapan Axel. Sejujurnya ini adalah kali pertamanya bertemu orang yang terbuka dan terang-terangan. Tanpa banyak berkelit, Axel menjelaskan jika dia tidak ingin privasinya terusik. Tidak ingin orang lain atau orang asing tahu kehidupannya seperti apa. Axel benar-benar memberi jarak Antara Ricardo dan dirinya sendiri. Membatasi dan menekankan kepada Ricardo jika rekan bisnis hanya rekan bisnis.


***


Merry pergi menemui Jason. Merry sangat senang saat Jason memujinya dan menyambutnya dengan hangat.


"Jangan lupa janjimu," kata Merry menatap Jason.


"Tidak akan, aku akan menjadikanmu istriku satu-satunya." kata Jason begitu manis. Jason tersenyum menatap Merry, Merry memeluk Jason, ia terlihat sangat bahagia.


"Wanita bodoh! aku lakukan semua ini demi Rowena. Jika keluarganya jatuh maka aku bisa menawarkan bantuan tentu saja dengan syarat yang menguntungkanku. Kau hanya pionku," batin Jason tersenyum licik.


Merry dibodohi oleh Jason. Ya, inilah rencana Jason yang sesungguhnya. Jason menghasut dan memanfaatkan situasi juga kondisi Merry yang menggilainya. Merry masuk dalam perangkap dan sangat mematuhi ucapan Jason. Jason meminta Merry merusak proyek kerjasama bernilai besar. Dengan begitu, perusahaan akan diambang kehancuran. Dan di saat itulah Jason akan menjadi sang pahlawan yang menawarkan bantuan dengan syarat pernikahan. Jason mengagumi Rowena sejak lama, namun Jason tahu jika Rowena pasti akan menolaknya mentah-mentah. Dengan rencananya yang sedemikian rupa, Jason pasti akan diterima oleh Rowena meski terpaksa. Begitulah yang terpikirkan oleh Jason. Namun, Jason tidak akan pernah menduga jika hal yang akan terjadi selanjutnya, adalah hal besar di luar pemikirannya.


***


Siang harinya. Kabar besar dikabarkan oleh sekretaris Ricardo. Ricardo yang baru datang dan duduk pun tersentak mendengar kabar pahit yang harus ditelannya.


Sekretaris itu memberikan sebuah berkas dokumen. Yah, itu adalah berkas dokumen pembatalan kerjasama sepihak. Ricardo langsung memeriksa dengan seksama, apa yang terjadi sebenarnya. Ricardo juga mendengar penjelasan dari sekretaris pribadinya.


"Bagaimana bisa semua ini terjadi?" tanya Ricardo terlihat panik.


"Apa perintah Anda, Tuan?" tanya Sekretaris berdiri di sisi meja kerja Ricardo.


"Di mana Merry? panggil dia, Merry lah yang bertanggung jawab penuh atas ini. Jika ada sesuatu tentu dia harus jelaskan," kata Ricardo.


"Maaf, Tuan. Saya menemukan ini di atas meja Nona Merry," kata Sekretaris yang lalu memberikan sebuah amplop putih pada Ricardo.


"Nona Merry tidak ada dalam ruangannya," imbuh Sekretaris menjelaskan.


"Apa ini?" batin Ricardo menerima amplop putih di tangannya.


Tanpa banyak menunda waktu, Ricardo langsung membuka amplop dan mengeluarkan kertas di dalam amplop tersebut. Ricardo pun membaca amplop tersebut dan terlihat marah besar setelahnya.


Brakkkkkk...


Ricardo menggebrak meja kerjanya mengejutkan Sekretarisnya yang masih berdiri tidak jauh darinya.


"Tu, tuan..." sapa Sekretaris dengan nada suara sedikit gemetar karena kaget dan takut.


"Pengkhianat!" seru Ricardo meremat kertas di tangannya, "Apakah Merry mengatakan sesuatu? kau ada berbicara dengannya tadi?" tanya Ricardo pada Sekretarisnya.


Sekertaris diam sejenak mengingat, "Ya. Nona Merry menghampiri saya tadi, Sesaat setelah keluar dari ruangan Anda. Nona Merry mengatakan saya harus bekerja keras dan berjuang untuk membantu Anda. Dan juga Nona Merry tersenyum. Sejujurnya saya sedikit bingung, seperti bukan Nona Merry yang biasanya. Saya hanya mengatakan iya dan membalas senyuman Nona Merry. Maafkan saya, Tuan. Apakah terjadi sesuatu?" jelas Sekretaris tanpa berbelit-belit.


"Ya. Sesuatu besar terjadi. Kita harus bersiap menerima kerugian besar." kata Ricardo.


"Apa?" kaget Sekretaris.


"Kerjasama yang aku rencanakan sedemikian rupa, selama bertahun-tahun, lenyap begitu saja. Merry memberikan salinan berkas dokumen yang berisi rancangan kerjasama kita dengan beberapa perusahaan. Dia mengakuinya di surat ini, dia berkhianat pada perusahaan, dan sekarang pergi begitu saja. Hahhhh..." ungkap Ricardo memendam kekesalan.