Axel Williams

Axel Williams
Bab 14.



Axel mengambil sebuah tas dan memasukan sebuah kotak ke dalam tas tersebut. Axel mengambil poselnya lagi, dan menghubungi Joe. Axel meminta Joe masuk dalam ruangannya, selesai berbicara dengan Joe, Axel pun langsung mengakhiri panggilannya.


Tok... Tok... Tok... Pintu diketuk.


Klekkkk.... Suara pintu dibuka. Dengan langkah tergesa-gesa Joe masuk, ia langsung menghadap Tuannya dengan segera.


"Ya, Tuan. Apa perintah Anda?" tanya Joe menatap Axel.


"Minta seseorang mengirim ini pada Paman Reynold," kata Axel memberikan tas berisi kotak hadiah untuk Reynold.


"Baik, Tuan. Ada hal lain?" tanya Joe.


"Tidak ada, siapkan semuanya segera. Aku tidak mau ada barang penting yang aku butuhkan tertinggal, kau mengerti?" kata Axel menatap tajam ke arah Joe.


"Me-mengerti, Tuan. Saya akan lakukan sesuai perintah Anda. Permisi," jawab Joe yang juga berpamitan pada Axel.


"Hm," jawab Axel memalingkan wajah.


Axel menyendarkan punggung dan kepalanya ke kursi. Rasanya kesal tetapi tidak ada gunanya lagi meratapi kekesalannya. Axel hanya bisa datang langsung dan melihat keadaan di Inggris, dengan melihat ia akan tahu apa yang harus ia lakukan.


"Ingin santai saja tidak bisa," keluh Axel memijat lembut pangkal hidungnya.


***


Di rumah. Alica dan Lovely sedang berbincang. Alica memberitahukan tentang bunga pemberian Axel pada Lovely. Saat itu, Alica dan Lovely sedang ada di dapur, Lovely menyiapkan makan malam sedangkan Alica sibuk menatapi bunga pemberian Axel yang sudah di susunnya di vas bunga.


"Ma, bunga ini cantik bukan?" ucap Alica menata bunga yang ada dihadapannya.


"Ya, cantik sepertimu." jawab Lovely tersenyum menatap Alica.


"Oh ya, Ma. Menurut Mama apa motif dari Axel? kita kan tahu bagaimana sifatnya," kata Alica yang masih bingung dan penasaran.


"Hm.. apa, ya? Mama tidak tahu, kau bisa tanyakan sendiri nanti saat Kakakmu pulang. Hati orang siapa yang tahu," jawab Lovely.


"Tidak mau, dia menyebalkan. Aku tidak mau bicara padanya, uh..." ucap Alica terlihat kesal mengingat sikap Axel yang membuatnya sebal.


"Ada apa? apakah Axel melakukan sesuatu?" tanya Lovely.


"Dia memanggilku 'si pendek', Ma. Aku kesal sekali, aku tidak pendek. Aku hanya kurang tinggi," gerutu Alica.


"Hahaha," Lovely tertawa, "Sayang, apa perbedaan pendek dan kurang tinggi? kau pandai bicara sekarang ya," kata Lovely.


"Terserah saja, yang jelas aku kesal jika Axel memanggilku pendek. Dia selalu saja memanggilku pendek seenaknya, dia pikir dia siapa." jawab Alica menggerutu.


"Sudah-sudah, jangan kesal. Kakakmu hanya bergurau sayang, tidak mungkin dia serius memanggilmu pendek. Bukankah kau sudah dapat bunga? lihat, bunga mawar di hadapanmu itu, bunga-bunga itu sangat cantik." sahut Lovely, mencoba menenangkan hati Alica.


Alica menatap kembali bunga di hadapannya, "Ya, Mama benar. Tetap saja, aku kesal." gumam Alica.


"Astaga, putriku ini sangat mirip Papanya ternyata. Pergi mandi dan bersiap," kata Lovely.


"Ya, Ma. Alica pergi mandi dulu," jawab Alica yang langsung pergi meninggalkan Lovely di dapur.


Lovely tersenyum menatap kepergian Alica, Lovely berjalan mendekati vas bunga di atas meja. Lovely mencium aroma bunga mawar pemberian Axel untuk Alica.


"Harum sekali, putraku ternyata bisa semanis ini. Dia pasti akan menjadi lebih manis pada pasangannya kelak. Semoga saja, ada seorang wanita yang benar-benar bisa membuat Axel berubah, juga bisa mencintai Axel setulus hati. Agar Axel bisa merasakan kehangatan dari cinta," batin Lovely berharap.


Lovely kembali ke dapur, ia segera menyelesaikan pekerjaanya agar selesai tepat waktu.


***


Satu jam kemudian. Andrew, Axel dan Azel sampai di rumah. Dengan segera Andrew dan Azel masuk ke kamar masing-masing untuk mandi dan bersiap makan malam.


Axel merasa haus dan ingin mengambil air minum. Axel berjalan menuju dapur, ia melihat vas dengan bunga di dalam vas tersebut. Axel tersenyum tipis, ia teringat akan sesuatu yang dilakukannya saat mengantar Alica pulang.


"Ternyata si pendek menyukai mawar merah, ya? aku hanya meminta penjual bunga itu mengirim bunga apa saja untuk Alica. Tidak disangka mengirim bunga mawar merah," batin Axel.


Axel segera mengambil gelas dan menuang air dalam teko air ke dalam gelas. Dengan segera Axel meminum air dengan sekali teguk, gelas diletakan kembali ke atas meja. Axel merasa tubuhnya lengket, ingin segera mandi, ia berbalik hendak kembali ke kamarnya.


Alica menatap Axel, Axel menatap Alica sekilas dan memandang arah lain. Saat Alica dan Axel saling berpapasan, Alica mengatakan sesuatu yang membuat Axel mengehentikan langkahnya.


"Terima kasih, Kak Axel." ucap Alica lirih.


Axel menghentikan langkah, begitu juga Alica, mereka saling membelakangi.


Axel menghela napas panjang, "Jaga dirimu si pendek, jangan ridukan aku saat aku tidak ada di rumah nanti." kata Axel.


Alica melebarkan mata, "Apa maksudmu? kau akan pergi?" tanya Alica yang langsung berbalik dan menghampiri Axel.


"Ya, bukankah kau suka aku pergi? tidak akan ada yang mengganggumu lagi, dan memanggilmu si pendek." kata Axel menatap Alica.


Axel kembali melangkah menuju kamarnya. Alica terdiam, entah mengapa Alica merasa sedih, ingin sekali rasanya menangis.


"Axel ingin pergi? ke mana?" batin Alica.


"Apa Azel tahu? aku akan bertanya padanya saja," gumam Alica.


Alica berjalan cepat menuju kamar Azel, Alica mengetuk kamar Azel dan membuka kamar Azel.


Klekk.... Pintu kamar terbuka, Alica mengintip dari pintu dan memanggil-manggil Azel.


"Kak, kau di dalam?" panggil Alica.


Alica melihat Azel baru saja keluar dari kamar mandi, Azel sedang mengeringkan rambutnya.


"Kak," panggil Alica lagi.


Azel menatap arah pintu, "Hai, masuklah Alica," jawab Azel.


Alica masuk dan menutup pintu, ia berjalan mendekati azel dan duduk di tepi tempat tidur Azel.


"Ada apa adikku yang cantik ini datang?" tanya Azel.


"Kak, apakah Axel akan pergi?" tanya Alica langsung tanpa mengulur waktu.


"Hm, kau tau dari mana?" tanya Azel menatap Alica.


"Axel yang memberitahu langsung padaku, kita berpapasan jalan tadi. Apakah ada sesuatu? Papakah yang membuatnya pergi?" tanya Alica semakin penasaran.


"Bukan Papa, itu kemauannya sendiri. Dia ingin pergi ke kantor cabang yang ada di Inggris. Papa sebenarnya ingin mengirim sekretarisnya dan beberapa orang, tapi Axel menolaknya saat dirapat tadi. Dia ingin pergi dan melihat sendiri kondisi di Inggris." jelas Azel.


"Apakah terjadi sesuatu? berapa lama dia akan pergi?" tanya Alica lagi.


Azel mengusap kepala Alica, "Ada apa ini? apakah kau khawatir pada Axel? bukankah kau selalu kesal dan tidak peduli padanya?" cecar Azel menggoda Alica.


"Aku hanya bertanya saja, bukan ada apa-apa. Kenapa kau bertanya seperti itu? Huh," kata Alica membuang muka.


"Hei, kau tidak bisa berbohong padaku. Katakan, ada apa?" desak Azel.


"Hm, baiklah-baiklah aku akan beritahu. Siang ini, dia menjemputku. Dia juga memberiku bunga, aku tidak tahu kenapa dia menjadi aneh seperti itu." jelas Alica.


"Itu adalah ungkapan rasa kasih sayang Kakak kepada Adiknya. Apa kau sedih saat mendengar Axel akan pergi?" tanya Azel.


Alica menganggukkan kepalanya, "Ya, aku sedih. Ingin sekali menangis, seperti akan kehilangan sesuatu. Rasanya sangat sulit untuk di ungkapkan," jelas Alica.


"Hm, jangan sedih. Kita bisa datang menjemputnya ke Inggris jika Axel tidak kunjung kembali. Jika kau rindu, kau bisa mengirim pesan atau menghubunginya." ucap Azel menghibur Alica.


"Ya, Kak." jawab Alica menganggukkan kepalanya perlahan.


"Ini keputusanya, Alica. Kita tidak bisa menghentikan apa yang menjadi keinginnanya. Kita berdoa saja, semoga Axel bisa menyelesaikan urusan di sana dan bisa cepat kembali." kata Azel lagi menegaskan.


Alica kembali menganggukkan kepala, "Ya, Kak." jawab Alica.


Azel tersenyum menatap Alica, Alica membalas senyuman Azel. Hatinya sedikit lega sudah dihibur oleh Azel.