
Axel memeluk Rowena, tidak lama kemudian melapas pelukannya, lalu mencium kening Rowena. Ia mendekatkan hidungnya ke hidung Rowena, Axel bisa merasakan napas hangat Rowena. Kedua pasang mata lekat saling memandang, Axel dan Rowena pun saling berciuman.
Ciuman yang lembut memercikkan gairah keduannya, ciuman itu berubah menjadi ciuman yang panas. Asik berciuman mesra, Axel dan Rowena diganggu oleh ponsel Axel yang berdering di atas nakas.
Keduanya terkejut dan saling melepas ciuman. Axel tersenyum, mengusap kepala Rowena dan langsung bangun dari tidurnya untuk menerima panggilan diponselnya. Rowena sedikit kecewa, ciumannya berakhir begitu saja. Namun, ia merasa malu juga senang, ia mendapatkan ciuman selamat pagi yang begitu manis.
Axel meninggalkan tempat tidurnya, ia terlihat serius berbincang di telepon. Axel pergi ke teras kamarnya untuk menghirup udara segar. Saat berdiri di teras, Axel memalingkan wajah menatap Rowena, Axel tersenyum ke arah Rowena.
Deg ... deg ... deg ...
Jantung Rowena berdebar melihat senyuman Axel.
"Tampan sekali," batin Rewena.
Rowena membalas senyuman Axel. Diam-diam ia menikmati tubuh Axel yang terlihat semakin menggoda karena terpaan sinar matahari pagi.
Tidak tahan, Rowena pun segera menyusul turun dari tempat tidur dan langsung memeluk Axel dari belakang. Rewena mengusap perut Axel, menyembunyikan wajahnya di punggung Axel.
Axel masih, berbincang. Ia memegang ponsel dekat di telinga kirinya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya memegang dan mengusap lembut tangan Rowena yang melingkar di perutnya.
(Percakapan di telepon)
"Oh, ya. Joe, kapan jadwal luangku?" tanya Axel pada asisten pribadinya, Joe.
"Minggu depan, Tuan." jawab Joe.
"Kosongkan waktu luangku, aku ada hal yang harus aku selesaikan," perintah Axel.
"Baik, Tuan. Sesuai permintaan Anda," Jawab Joe.
"Aku rasa itu saja. Kau bekerjalah dengan baik," kata Axel.
"Pasti, Tuan. Saya akan akhiri panggilan pagi ini, terima kasih." pamit Joe.
"Hm," jawab Axel bergumam.
Joe menutup panggilan, Axel kembali berfokus pada Rowena.
"Ayo masak," ajak Axel.
Rowena mengeratkan pelukannya, "Sebentar lagi. Aku masih ingin seperti ini," rengek Rowena.
Axel tersenyum tipis, ia merasa risih namun juga merasa gemas karena Rowena semakin berani dan bersikap manja padanya. Axel melapas pelukan Rowena dan meraba wajah Rowena.
Dikecupnya lembut kening dan hidung Rowena, lalu kecupannya mendarat di bibir ranum Rowena. Cukup lama keduanya berciuman, akhrinya ciuman pun terlepas. Merasa malu, Rowena segera berbalik dan menutup mukanya. Axel pun memeluk Rowena dari belakang. Tangan kekar Axel melingkar erat di perut Rowena.
"Apa kau sedang malu?" bisik Axel di telinga Rowena.
"Apa maksdunya ini?" gerutu Rowena, merasa dirugikan.
"Tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja aku merasa lelah, sangat lelah. Aku butuh punggungmu untuk bersandar," jawab Axel, menyembunyikan wajahnya di punggung Rowena meski ia harus kesulitan membungkukan badan.
Mendengar apa yang dikatakan Axel, Rowena hanya bisa tersenyum cantik, dengan wajah yang masih merona.
***
Satu minggu kemudian ....
Axel dan Rowena bersiap pergi menuju suatu tempat. Mereka berdua akan menemui Flip.
Sebelumnya, Axel dan Flip sudah sepakat ingin bertemu di tempay yang sudah disepakati. Axel penasaran akan sosok Flip, ingin tahu bagaimana seorang Flip yang terkadang diceritakan Mamanya itu.
"Axel, kita akan ke mana?" tanya Rowena ingin tahu.
"Bertemu sepupu dari Mamaku," jawab Axel.
Axel diam, ia melirik arah Rowena. Jemarinya dengan lembut mengusap kepala Rowena. Ia tersenyum mendengar Rowena yang begitu cerewet dan serba ingin tahu semuanya.
"Diam dan lihat saja. Tidak perlu banyak bertanya, oke," jawab Axel.
Rewena menganggukkan kepala perlahan, "Hm, oke. Aku mengerti," jawab Rowena.
"Kau sudah siap?" tanya Axel menatap Rowena dari atas ke bawah kembali ke atas lagi.
Rowena tersenyum, "Sudah. Bagaimana? pakaian yang kupakai tidak terlihat mencolok, kan?" tanya Rowena bertingkah imut.
Axel tersenyum tipis, "Bagaimana bisa kau semenggemaskan ini, hm?" ucap Axel mencubit pelan pipi Rowena. Membuat sang empu menjerit kesakitan dan marah-marah.
"Ouch ... apa-apa kau, hah? kau pikir wajahku bisa seenakny kau tarik-tarik? Kau sangat menyebalkan," gerutu Rowena.
Axel tersenyum lagi. Kali ini ia mendekat dan mencium pipi Rowena. Hal itu tentu saja membuat Rowena tersipu malu.
"Kau ini, jangan terus menggodaku." kata Rowena.
"Maaf, maaf. Ayo, Rowena. Kita harus segera berangkat." kata Axel melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
"Oh, iya. Ayo." jawab Rowena.
Rowena dan Axel segera berangkat pergi meninggalkan rumah menuju tempat janji temu. Sepanjang perjalanan, Rowena hanya diam dan tidak bertanya apa-apa lagi. Bahkan Rowena malas membahas mengenai pertemuan yang akan berlangsung itu. Rowena membahas hal lain bersama Axel, membuat cerita yang menyenangkan.
***
Flip dan Filmoon baru saja sampai di tempat yang dijanjikan. Mereka ada di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari restornt. Filmoon melihat-lihat sekitar, mata indahnya menyelisik tempat itu.
"Papa, di mana kita akan bertemu Axel?" tanya Moon, sapaan dari Filmoon.
"Di Restorant. Ada apa, Moon?" tanya Flip.
"Tidak ada. Papa masuklah dulu, aku ingin berkeliling sebentar. Apa boleh?" tanya Filmoon .
Flip mengangguk, "Tentu boleh, sayang. Pergilah dan hati-hati, jangan terlalu lama, oke?" kata Flip lembut.
Filmoon tersenyum cantik, "Terima kasih, Papa. Papa memanglah yang paling baik," pujinya mendapat izin.
"Aku ke sana dulu, Pa. Dahh, Pa ..." pamit Filmoon berjalan menuju sebuah pertokoan tidak jauh dari Restorant.
Flip menatapi kepergian putrinya. Ia tersenyum, melihat putri tunggalnya yang sudah tumbuh dewasa dan semakin cantik.
"Oh, aku melupakan sesuatu," Gumam Flip mengeluarkan ponselnya dari saku mantelnya.
Flip mencari kontak telepon Lovely dan menghubungi sepupunya itu. Flip ingin memberitahukan jika ia sudah akan bertemu dengan Axel.
(Perbincangan di telepon)
"Hallo," jawab Lovely.
"Love," sapa Flip.
"Hei, Flip. Bagaimana kabarmu," sapa balik Lovely dengan senangnya.
"Aku baik-baik saja. Kau ingat apa yang aku katakan sebelumnya, kan? hari ini adalah hari pertemuanku dengan Axel," kata Flip mengingatkan.
"Ah, iya Flip. Tentu saja aku ingat. Di mana Axel? kau sudah bertemu dengannya apa belum?" tanya Lovely.
"Belum, aku dan Moon baru saja sampai di Restorant tempat kita akan makan siang bersama." jawab Flip.
"Oh, begitu. Maafkan aku merepotkanmu, Flip. Tentu kau tahu perasaanku sebagai seorang ibu yang jauh dari Anaknya. Aku khawatir setiap saat, tetapi Axel hanya membalas pesanku pada saat tertentu saja. Aku tidak bisa mengeluh padanya karena takut dia justru tak akan membalas pesanku sama sekali nantinya. Aku juga tak bisa ke sana tanpa izin dari Andrew. Kau juga tahu bagaimana Andrew pada Axel, kan? Mereka seperti air dan minyak," keluh Lovely pada Flip.