Axel Williams

Axel Williams
Bab 25.



Dalam benak Rowena sebelumnya, rumah Axel lebih besar dari rumahnya dan banyak pelayan ada di rumahnya. Melihat kenyataan di hadapannya Rowena menjadi mengerti mengapa Axel memintanya menjadi pelayan rumahnya.


Rowena menepikan koper dan meletakan tasnya di sofa ruang tengah. Dengan langkah cepat ia menuju dapur, ia menyambar apron dan mengenakannya, siap untuk membuat sarapan. Rowena tersenyum, dapur milik Axel terlihat sangat bersih dan rapi.


Beberapa saat kemudian, Rowena berhasil membuat sarapan untuk Axel. Senyumnya mengembang, sarapannya terlihat lezat dan menggugah selera. Axel muncul setelah selesai berolah raga, ia menarik kursi dan duduk. Meletakan tangannya di meja makan. Ia pun meraih gelas berisi air minum dan langsung meminum air dalam gelas.


"Apa yang kau buat?" tanya Axel, yanga baru saja selesai minum.


"Tunggu sebentar," jawab Rowena senang.


Dengan membawa piring berisi hasil masakannya, ia mendekati Axel yang duduk di meja makan. Rowena melangkah dengan perlahan dan snagat hati-hati. Ia menyajikan sarapan yang dibuatnya untuk Axel.


Piring diletakan di hadapan Axel, "Silakan, Tuan." kata Rowena bersuara lembut.


Rowena berdiri di samping Axel, menanti komentar dari Tuannya. Axel mengernyitkan dahi menatap piring berisi makanan yang disediakan Rowena.


"Kau yakin dengan rasanya? penampilannya buruk sepertimu," kata Axel.


Rowena kesal, "Kau tidak bisa menghargai kerja keras seseorang, Tuan. Jika kau meragukan masakanku, maka tidak perlu di makan. Jangan buang waktumu," jawab Rowena mendekati Axel dan mengambil piring di hadapan Axel.


"Hei, apa yang kau lakukan?" ucap Axel ingin merebut piring itu kembali.


"Kau meremehkan masakanku, kau bilang ini tidak enak." sahut Rowena.


"Siapa yang mengatakan itu? Aku hanya mengatakan, apa kau yakin dengan rasanya? kata-kata seperti itu bagaimana bisa kau anggap meremehkan rasa masakanmu," jawab Axel. Ia pun merebut paksa piring dari tangan Rowena, "berikan, aku lapar ingin makan," imbuh Axel.


Axel menyendok dan memakan makanan buatan Rowena. Dengan perlahan mulut Axel mengunyah makanan di mulutnya, Axel terdiam sesaat merasakan rasa makanan itu.


"Apa karena aku merindukan Alica, aku jadi terbawa suasana? masakan ini rasanya sedikit mirip masakan Alica," batin Axel.


Rowena menatap Axel yang diam, "Apa sungguh tidak enak? aku memang tidak mencicipinya, aku juga tidak tahu seleramu seperti apa," kata Rowena.


Axel kembali mengecap makanan di mulutnya, "Lumayan untuk Nona besar sepertimu, kau boleh juga. Masakanmu tidak buruk, juga tidak selezat masakan seseorang." komentar Axel.


"Yah, setidaknya masakanku bisa di makan olehmu. Enak atau tidak bukan masalah, asal bisa di makan." sahut Rowena.


"Kau sudah makan?" tanya Axel.


Rowena menganggukkan kepala, "ya, sudah. Aku makan bersama Kakakku tadi," jawab Rowena.


"Oh," jawab Axel ber-oh ria.


"Kau perhatian juga sampai bertanya aku sudah makan apa belum," kata Rowena.


"Jangan terlalu percaya diri. Aku harus pastikan pelayanku selalu sehat. Jangan sampai jatuh sakit terlebih sampai menularkan penyakit padaku. Biaya rumah sakit mahal," jawab Axel.


"Apa? menularkan penyakit? jangan sembarangan bicara, aku sehat dan tidak berpenyakitan. Enak saja," gerutu Rowena.


"Siapa bilang kau sehat, kau itu sudah terpapar virus terlalu percaya diri. Percaya diri memang diperlukan dan bagus, namun jangan terlalu percaya diri juga. Hal itu akan memalukan," kata Axel melahap kembali makanan di hadapannya.


Axel melebarkan mata mendengar ucapan Rowena. Mendengar itu, Axel tidak kesal atau marah, ia justru terdiam.


[Beberapa menit kemudian]


Axel selesai makan dan pergi meninggalkan meja makan untuk selanjutnya pergi ke kamarnya. Rowena selesai membersihkan dapur, ia membuang sampah lewat pintu samping ke depan rumah. Rowena tersenyum melihat banyaknya bunga di depan halaman rumah, matanya kembali mengamati dengan cermat bangunan rumah yang akan ditinggalinnya itu.


"Semoga aku bisa bertahan sampai tujuh bulan ke depan," batin Rowena.


Rowena kembali masuk lewat jalan yang sama, ia melihat kearah meja makan. Tidak ada Axel dan hanya ada piring kosong diatas meja. Ia pun mencuci tangan setelah memegang sampah, membawa kain lap dan berjalan mendekati meja makan.


"Dia memakannya sampai habis," gumam Rowena menatap piring kosong diatas meja.


Rowena membersihkan meja dan membawa piring kotor ke dapur. Dengan segera piring itu dicuci sampai bersih. Setelah mencuci piring, Rowena membersihkan lantai dapur dan lantai di sekitar meja makan.


***


Axel keluar dari kamar, ia berpakaian rapi siap pergi bekerja. Axel bicara pada Rowena, meminta Rowena berhati-hati dan tidak keluar dari rumah sembarangan.


"Aku akan pergi bekerja, mungkin hari ini akan pulang malam. Tidak perlu siapkan makan malam, dan menungguku pulang. Ingat, jangan keluar dari rumah dan berhati-hatilah. Jangan terima tamu dan berbicara dengan orang asing, jika kau butuh sesuatu atau ada pertanyaan hubungi aku saja. Kau bisa juga mengirim pesan jika panggilanmu tidak terjawab," jelas Axel panjang lebar.


Rowena menatap Axel dan mengangguk, "Baiklah, aku mengerti. Jaga dirimu, hati-hati, dan selamat bekerja." kata Rowena.


"Hm, sampai nanti," kata Axel yang langsung pergi meninggalkan Rowena.


Baru beberapa langkah kakinya menginjak lantai, Axel berhenti dan memalingkan wajah.


"Oh ya, satu hal terakhir. Jangan sembarangan masuk ruang kerjaku dan kamarku. Kamarmu ada di depan, hari ini kau bisa selesaikan pekerjaan lebih awal," imbuh Axel kembali berbalik dan pergi.


Rowena terdiam, "serius sekali. Siapa juga yang ingin pergi masuk kamar dan ruang kerjamu. Membosankan," gumam Rowena.


Rowena menyelesaikan pekerjaanya. Membersihkan lantai dan mencuci tanganya setelah semuanya selesai. Melihat sekeliling yang sudah rapi dan bersih, Rowena tersenyum. Dengan langkah cepat Rowena mendekati tas dan kopernya di sofa ruang tengah dan membawanya ke kamarnya.


"Kamar depan, depan, hmmm...," gumam Rowena berjalan lamban.


Tangan Rowena menggapai pegangan pintu dan membuka pintu kamar. Kamar yang cukup luas dengan dekorasi sederhana, bernuansa serba putih.


"Wow, bersih dan rapi. Apakah dia orang yang menggilai kebersihan dan kerapian? Lupakan saja, lebih baik aku bersantai sekarang," kata Rowena.


Rowena mengambil ponselnya di tas, ia menyalakan layar ponselnya dan melihat ada beberapa pesan masuk. Mata Rowena melebar, ada pesan masuk dari Axel juga dilihatnya.


Pesan Axel dibuka oleh Rowena.


"Di laci nakasmu ada salinan berkas kontrak kerjasama kita. Simpan baik-baik."


Rowena membuka laci nakas dan melihat ada sebuah berkas dokumen. Diambilnya lalu dibukanya berkas dokumen itu, Rowena melihat kembali isi perjanjian kontrak antara dirinya dan Axel.


"Majikan dan pelayan ya? hah, aku hampir saja lupa jika aku adalah seorang pelayan di sini. Semangat Rowena, kau pasti bisa!" seru Rowena menyemangati diri sendiri.