
Axel tersentak kaget, ia membuka matanya dengan napas tersengal-sengal. Ia melebarkan matanya mengingat apa yang baru saja terjadi. Itu membuatnya kebingungan. Axel tidak mengerti akan kejadian yang baru saja dilihatnya.
"Uhukkk..." Axel terbatuk dan merasa tubuhnya tidak nyaman.
"Axel, kau baik-baik saja?" tanya Rowena menatap Axel khawatir.
Axel menatap Rowena dan menatap selitar, ia berada di dalam mobilnya. Axel bingung, bukankah tadi ia seperti ada dalam sebuah supermarket? mengapa sekarang ada di dalam mobil?
"Apa yang terjadi?" gumam Axel.
"Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang terjadi padamu, kau tiba-tiba saja menepi dan menghentikan mobil. Kau juga tiba-tiba tertidur. Jika kau lelah katakan saja, aku akan menggantikanmu mengemudi." kata Rowena yang juga bingung.
Axel masih bingung dengan apa yang terjadi. Sekeras apapun berpikir, ia tidak menemukan jawabannya. Ini pertama kalinya ia mengalami hal aneh seperti itu.
"Axel," panggil Rowena.
Axel teringat akan kejadian di mana Rowena tertimpa rak. Axel langsung menarik tangan Rowena dan memeriksa keadaan Rowena.
"Kau baik-baik saja? kau terluka?" tanya Axel panik tanpa sadar.
Rowena bingung, "Aku baik-baik saja, Axel. Aku tidak terluka atau kenapa-kenapa. Jangan cemas," jawab Rowena tersenyum, "Sepertinya kau lelah, air minumku habis. Bagaimana jika kita pergi untuk membelinya?" tawar Rowena.
"Ya," jawab Axel mengiakan perkataan Rowena.
"Kau turun, aku akan gantikan kau mengemudi sampai kita menemukan sebuah supermarket." pinta Rowena.
Axel yang memang merasa tidak nyaman akhirnya turun dari mobil bersamaan dengan Rowena. Mereka pada akhirnya bertukar posisi, Rowena mengemudi dan Axel duduk di samping bangku kemudi.
Rowena membawa mobil dengan kecepan rendah mencari supermarket terdekat. Axel masih bingung, memikirkan apa yang terjadi. Seperti mimpi, tapi terasa nyata. Pikirannya teralihkan sepenuhnya memikirkan kejadian yang membuatnya kebingungan.
"Apa itu tadi? apa aku berhalusinasi? hah, yang benar saja," batin Axel.
Axel memijat pangkal hidungnya lembut. Tubuhnya masih terasa tidak nyaman, hatinya pun terasa tidak tenang. Pikirannya juga kacau.
Tidak beberapa lama melaju, mobil pun berhenti. Rowena menatap Axel dan meminta izin membeli air minum.
"Aku masuk dan beli air minum untukmu dulu. Kau tunggu saja di sini, aku hanya sebentar," kata Rowena yang langsung turun dari dalam mobil.
Axel diam tanpa menjawab. Matanya melihat sekeliling, ia merasakan perasaannya tidak tenang. Seperti ada yang mengganggu hati dan pikirannya. Axel pun keluar dari dalam mobil dan melihat sekitar supermarket. Axel mengernyitkan dahi, ia merasa tidak asing dengan gedung supermarket di hadapannya.
"Apa aku pernah ke sini? rasanya tidak asing," gumam Axel.
Tidak beberapa lama Axel melebarkan mata teringat akan apa yang dilihatnya seperti dalam mimpi itu, "Oh tidak. Sepertinya aku ingat sesuatu. Tempat ini, ya, ini tidak mungkin." gumamnya.
Axel dengan cepat berlari masuk dalam supermarket untuk mencari Rowena. Sesampainya di dalam, Axel melihat sekeliling. Benar saja, apa yang dilihatnya sama persis seperti kejadian yang dilihatnya sebelumnya. Axel mengernyitkan dahi, ia terus mencari Rowena. Karena tempat itu ramai, Axel sempat kesulitan untuk mencari Rowena.
"Aku harus menemukan Rowena. Bagaimana aku bisa temukan jika di sini begitu ramai. Aku akan ke bagaian informasi saja," gumam Axel.
Axel pergi ke bagian informsi, ia tekejut karena di bagian informasi tidak ada orang. Axel sempat menunggu beberapa saat berharap seseorang datang membantunya, namun tidak ada yang datang.
Akhirnya Axel pergi, ia mengingat tempat yang ada dalam penglihatannya sebelumnya. Dari satu tampat ke tempat lain, Axel tak kunjung menemukan Rowena.
Axel menghentikan langkahnya, "Apa dia ada di tempat itu? Tidak, jangan sampai terjadi sesuatu padanya," kata Axel. Yang langsung berlari.
Axel buru-buru mencari lokasi tempat Rowena tertimpa rak, ia mengingat jalan juga tempatnya. Axel pun akhirnya melihat Rowena dari jauh, ia melihat Rowena memeluk bungkusan makanan ringan. Adegan itu sama persis seperti apa yang dilihatnya dalam penglihatannya. Axel berlari menghampiri Rowena, saat Axel berlari, Rowena bersiap beranjak dari tempatnya. Rowena berbalik untuk kemudian melangkah pergi. Axel melihat rak di belakang Rowena bergerak, rak itu akan rubuh.
"Rowena awas! di belakangmu," teriak Axel kencang agar suaranya di dengar Rowena.
Teriakan Axel mengejutkan Rowena, Rowena memalingkan wajah menatap Axel. Axel berlari menghampiri Rowena dan langsung memeluk tubuh Rowena. Ia mendorong Rowena menjauh. Tubuh Axel dan Rowena pun terpental.
Braaaakkk....
Rak ambruk, bertepatan dengan Axel yang mendorong Rowena. Suara keras itu membuat banyak pengunjung berkumpul, makanan ringan dan minuman yang dibawa Rowena berhamburan. Rowena terkejut, ia terlihat ketakutan.
"Ahhh ... sssttt," desis Axel kesakitan karena bahu dan kepalanya menghantam rak yang lain karena ingin melindungi Rowena.
Rowena menatap Axel yang masih dalam posisi memeluknya, "Kau berdarah," kata Rowena.
"Aku tidak apa-apa. Kau terluka?" tanya balik Axel menatap Rowena.
Rowena menggelengkan kepalanya perlahan, karena memang tidak terluka. Namun, Rowena sedikit syok dan takut karena kejadian itu begitu tiba-tiba.
Tim medis dan keamanan langsung menolong Axel dan Rowena. Membawa mereka ke dalam ruang istirahat, tim medis merawat luka di kepala Axel.
"Tuan, maafkan kami. Pihak kami akan mengganti rugi," kata manager supermarket.
"Tidak apa. Hanya luka kecil," kata Axel.
"Nona, Anda sungguh baik-baik saja? tidak ada yang terluka?" tanya seorang wanita dari tim medis.
"Tidak apa, bagaimana dengannya?" tanya Rowena menunjuk Axel.
"Tuan baik-baik saja. Tetapi saya sarankan untuk memeriksakan ke rumah sakit, karena bagaimanapun luka di bagian kepala tidak bisa diabaikan begitu saja." jelas seseorang itu.
"Jika sudah selesai, bisa aku dan sekretarisku pergi? kami harus menghadiri acara malam ini," kata Axel mengalihkan pembicaraan.
"Silakan, Tuan. Terima kasih Anda mau memberikan keterangan terkait kejadian hari ini. Kami sungguh minta maaf dan kami juga banyak berterima kasih." kata perwakilan pihak pengelola supermarket.
"Ya, sama-sama." kata Axel menatap seseorang yang bicara padanya. Axel lalu menatap Rowena, "Ayo, kita lanjutkan perjalanan kita." ajaknya.
Rowena menatap Axel, "Ah, iya." jawab Rowena.
Axel dan Rowena pun pergi meninggalkan supermarket itu. Ada rasa lega, ada juga rasa penasaran juga kebingungan. Axel masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Pikirannya masih mencerna kejadian sebelumnya yang dia lihat, dan kejadian yang baru saja dia alami. Kejadian yang sama persis, seakan Axel merasa jika itu adalah sebuah penglihatan untuk masa yang akan datang.
Apa ini sebenarnya? aku tidak mengerti semua ini. Aku melihatnya seperti mimpi, dan tidak lama kejadian dalam mimpi itu terjadi dan nyata. Nyaris saja, jika aku terlambat dia pasti akan terluka sekarang. Akankah dia mengalami hal yang seperti mimpi itu? jika aku tak menolongnya, akankah dia tertimpa rak itu? Hah," batin Axel menghela napas panjang.
"Terima kasih," ucap Rowena lirih.
Axel menatap Rowena, "Untuk?" tanya Axel.