
Sore hari, Andrew dan Lovely sampai di rumah Alex. Alex juga Stella menyambut kedatangan Lovely dan Andrew.
"Hai, Kak Love, Kak Andrew. Selamat datang," sapa Alex dengan senyuman.
"Hai, Lex. Lama tidak bertemu," sapa Andrew memeluk ringan Alex sesaat.
Alex menatap Lovely yang terlihat murung, ia pun menatap Stella istrinya yang ada berdiri di sampingnya.
"Sayang, bisa kau temani Kakak, aku akan ajak Kak Andrew ke teras belakang untuk bicara." kata Alex.
"Hm, oke." jawab Stella tersenyum menatap Alex.
"Kak Love, ayo ikut aku ke dapur," ajak Stela mendekati Lovely.
Lovely menatap Stela, lalu menatap Alex. Alex melebarkan senyuman ke arah Lovely seakan tahu apa yang sedang dipikirkan Lovely.
"Iya," jawab Lovely tersenyum kaku.
Alex menggiring Andrew menuju teras belakang. Alex duduk, diikuti Andrew. Tanpa banyak bicara, Alex langsung bertanya pada Andrew.
"Kak, ada apa denganmu dan Kak Lovely?" tanya Alex ingin tahu.
"Apa Kakakmu mengadu?" tanya balik Andrew seakan curiga.
Alex menggelengkan kepala, "Tidak ada. Kak Lovely tidak cerita apa-apa padaku. Aku bertanya karena melihatnya murung, Kak Lovely tidak akan murung jika dia dalam keadaan baik-baik saja." jelas Alex.
"Masalah Axel," jawab Andrew.
"Axel?" ulang Alex.
"Hm, keponakanmu satu itu selalu saja membuatku pusing. Tidak tahu lagi aku harus bagaimana untuk menghadapinya," keluh Andrew pada Alex.
"Kak, kau mungkin tidak menyadari ini. Sembilan puluh persen Axel sepertimu, baik sikap ataupun cara bicaranya. Kau tidak bisa menekannya," kata Alex.
"Begitukah?" jawab Andrew menatap Alex, seperti tidak yakin akan ucapan Alex.
"Ya, kau salah jika kau bersikap keras padanya. Sama saja seperti melawan dirimu sendiri," ucap Alex duduk bersandar melipat dua tangan di dadanya.
"Apakah karena itu, Kakakmu jadi kesal padaku?" Kata Andrew mengeluh.
"Entahlah..." jawab Alex.
Alex menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Alex tidak habis pikir, Andrew sudah bukan anak muda lagi, namun sifatnya tak kunjung berubah, masih saja emosional.
***
Stella dan Lovely di dapur. Lovely membantu Stela membuat teh untuk disajikan pada Alex dan Andrew.
"Ada apa, Kak?" Tanya Stella.
"Tidak ada apa-apa. Oh ya, di mana Stecy dan Stuart?" tanya Lovely.
"Stecy di rumah Papa, Stuart ada di kamar." jawab Stella.
"Bagaimana kabar Paman?" tanya Lovely.
"Papa baik-baik saja, Kak. Stecy selalu rajin melihat Kakeknya." jawab Stella.
"Tidakkah kau ajak Paman tinggal di sini? beliau seorang diri," kata Lovely.
"Ya, Kak. Aku sudah bujuk. Bahkan Stecy dan Stuart juga. Papa tak mau pergi dari rumahnya, dengan alasan banyak kenangan bersama Mama di rumah itu." jawab Stella.
"Hm, sulit juga jika seperti itu. Bersabar saja," kata Lovely tersenyum.
"Bagaimana kabar Kakak, Kak Andrew? A3 juga, apakah semuanya sehat dan baik-baik saja?" tanya Stella.
"A3?" ulang Lovely mengernyitkan dahi.
"Axel, Azel dan Alica." sahut Stella.
"Ah, mereka. Kau membuatku bingung saja." kata Lovely menghela napas.
"Salah di mana? inisial mereka A, bukan?" tanya Stella.
Lovely tertawa, "Jika anak-anakku A3, maka dua anakmu S2?" kata Lovely menggoda Stella.
***
Sore harinya. Axel sudah membereskan semuanya, Axel menyingkirkan semua barang yang tidak terpakai dan langsung membuang ke tempat sampah. Tidak hanya itu, Axel juga menatap ulang letak sofa ruang tamu dan ruang tengah. Membersihkan tiga kamar di rumah itu, juga dapur dan halaman belakang, Axel begitu sibuk sampai lupa waktu.
"Akhirnya selesai, ahhh...." lengkuh Alex sembari menghela napas panjang. Axel menepuk dua tangannya, ia juga menyeka dahinya yang berkeringat dengan lengannya.
"Kau bereskan semuanya?" tanya Reynold dari kejauhan, Reynold bersandar pada pintu dapur.
"Yah, aku buang semua barang berhargamu, Paman. Jangan lagi mengumpulkan berlian," ucap Axel menyindir Reynold.
"Bocah nakal, beraninya membuang harta karunku. Aku akan pukul tanganmu," kata Reynold.
"Dengan senang hati, kejar aku dulu. Aku akan ijinkan Paman memukulku sepuasnya," ejek Axel.
"Kau meremehkan ku? Dasar kau," kata Reynold berjalan menghampiri Axel.
Axel tertawa, "Jalanlah pelan-pelan. Jangan sampai jatuh dan terluka."
Reynold memukul pelan bahu Axel, "Bocah nakal," ucap Reynold.
"Jangan marah-marah, Paman akan bertambah keriput dan jelek nanti. Hahaha..." kata Axel tertawa. Alex menggodai Reynold.
"Hahaha, kau memang nakal. Ayo duduk," ajak Reynold di bangku kosong tidak jauh dari mereka berdiri.
Reynold dan Axel duduk, Reynold menatap sekitar halaman belakang rumahnya.
"Kau lelah?" tanya Reynold.
"Hm, tentu saja. Sepertinya aku harus memanggil orang untuk membantu mengurus rumah ini. Jika tidak, Paman akan terus menyuruhku bersih-bersih," kata Axel.
"Lakukan saja apa yang kau ingin lakukan, selagi kita masih ada waktu. Jangan sia-siakan hidupmu, Axel." kata Reynold.
"Ada apa, Paman?" tanya Axel.
"Jika kau tidak ingin kembali pada keluargamu, tinggallah bersamaku. Kita bisa bersama seperti dulu," kata Reynold.
"Ya, Paman. Ke mana lagi kakiku terhenti selain di rumahmu? saat aku dalam keadaan terpuruk, banyak tekanan juga banyak masalah, bukankah aku akan selalu datang padamu?" ucap Axel.
"Datanglah, pintu rumah selalu terbuka untukmu, anakku." kata Reynold, menatap hangat mata Axel.
Axel tersenyum menatap Reynold. Melihat Axel tersenyum padanya, Reynold juga membalas senyuman Axel.
***
Satu Minggu kemudian. Axel akhirnya memutuskan pulang dan kembali melanjutkan rutinitasnya seperti biasa. Andrew hanya diam saat Axel kembali, Andrew mencerna ucapan Alex, kali ini ia mencoba untuk tidak menekan Axel dan membiarkan Axel melakukan apa saja yang disukainya.
Pagi-pagi sekali Lovely sudah bangun dan memasak untuk sarapan. Melihat satu putranya yang tadinya pergi, sudah datang kembali, Lovely begitu bersemangat untuk memasak. Ibu manakah yang tidak senang saat melihat putranya kembali pulang? yah, semua Ibu pasti akan bahagia, pasti akan senang juga.
Tidak disangka, pagi itu juga Axel bangun lebih awal dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Di dapur, Axel bertemu Lovely yang sedang memasak. Lovely mendengar langkah kaki, ia memalingkan wajah melihat seseorang di meja makan.
"Axel," sapa Lovely.
Axel meneguk habis minuman dalam gelas, sesaat kemudian ia memalingkan wajah dan menatap Lovely.
"Ya, Ma?" jawab Axel.
"Apa ada sesuatu? kau bangun awal?" tanya Lovely.
"Ya, aku terjaga saat tidur. Karena tidak bisa lagi tidur, aku akhirnya bangun." jawab Axel.
"Oh, kau sibuk? mau bantu Mama tidak?" tawar Lovely, berharap putranya itu mengiyakan tawarannya.
Axel diam sejenak, tanpa menjawab tawaran Lovely, ia berjalan mendekati Lovely yang berada tidak jauh darinya di dapur.
"Mama ingin aku bantu apa?" tanya Axel yang langsung mengambil apron dan mengenakan apron.
"Mama sedang membuat roti isi dan kentang panggang, bantu Mama ya," pinta Lovely.
Axel menganggukkan kepala, "Ya," jawab singkat Axel.
Lovely tersenyum, ia senang putranya mau membantunya. Ini momen yang langka bagi Lovely, dapat menikmati waktu memasak bersama Axel.