Axel Williams

Axel Williams
Bab 53.



Sekitar lima menit Rowena akhirnya kembali masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi teko air dan gelas. Ia meletakan nampan di atas nakas, lalu kembali naik ke atas tempat tidur. Ia masuk ke dalam selimut dan berbaring di tempat semula. Ia mengubah posisi tidurnya menghadap Axel. Dilihatnya, Axel terlelap tidur.


"Tampan sekali," batin Rowena tersenyum. Tanpa sadar, jemari Rowena mengusap-usap rambut Axel dan membangunkan Axel.


"Hmm ... " gumam Axel mengernyitkan dahinya.


"Rowena," panggil Axel dengan suara serak.


Rowena kaget, "Ma, maafkan aku membangunkanmu. Tidurlah lagi," kata Rowena dengan suara lembut.


Axel membuka mata perlahan menatap Rowena. "Aku suka kau mengusap kepalaku seperti tadi. Lakukan lagi," pinta Axel dengan manja.


"Tidurlah, jangan manja." jawab Rowena.


"Kau tidak mau melakukannya lagi?" tanya Axel sedikit kecewa.


Rowena menggeleng, "Tidak mau. Tidurlah," pinta Rowena terus menerus meminta Axel untuk tidur.


"Kau sudah membangunkan aku. Jadi kau harus bertanggung jawab sekarang." kata Axel menggerutu.


"Hah ... " hela napas Rowena. Ia pun menatap Axel dengan tersenyum kaku. "Apa yang harus hamba lakukan, Yang Mulia Pangeran?" ucap Rowena begitu lembut.


Axel terdiam sejenak lalu bicara, "Cium aku." jawab Axel yang langsung mengejutkan Rowena.


"Apa?" kaget Rowena. Ia tidak menyangka Axel akan meminta dicium olehnya. "Apa kau gila? kita sudah puas berciuman. Jangan membuatku gila." jawab Rowena bersungut. Rowena dengan cepat berbalik, posisinya membelakangi Axel.


Axel tersenyum penuh maksud. Ia langsung merengkuh tubuh Rowena yang ada di depannya. Tangan kekarnya melingkar di perut Rowena. Axel mengendus dan menciumi tengkuk dan leher Rowena dengan lembut. Membuat Rowena kelabakan.


"Ax, Axel ... " panggil Rowena.


Axel tidak berhenti sampai di situ saja. Ia menjilati daun telinga Rowena dan sesekali mengigitnya. Merasa tidak kuat lagi menahan, akhirnya Rowena berbalik. Posisi mereka sekarang sedang berhadapan. Keduanya saling bertatapan mata dalam.


Tanpa banyak menunda, Axel langsung mencium bibir Rowena. Rowena tidak menolak perlakuan Axel. Ia mengalungkan tangan dan membalas ciuman Axel. Mereka berciuman panas.


***


Dalam kesadaran penuh mereka bercumbu. Ciuman mereka kian memanas hingga membuat Rowena ingin lebih dari sekedar berciuman. Rowena mulai hanyut dan tergoda, ia ingin menikmati Axel.


Merasa sudah mencapai batasnya, sama seperti di malam sebelumnya, Axel menghentikan cumbuannya. Meski mereka sudah menanggalkan pakaian masing-masing, Axel masih tidak ingin melangkah lebih jauh lagi. Axel masih enggan untuk melewati batasan.


"Pakai pakaianmu, Rowena," perintah Axel.


Rowena menatap Axel, "Kau tidak tergoda padaku? atau aku bukan tipe wanitamu?" tanya Rowena memancing. Ia sengaja membuat Axel tersudut.


Axel mengambil pakaian Rowena dan memakaian pakaian Rowena. Axel hanya diam tidak menjawab. Melihat Axel yang hanya diam, Rowena meraba wajah Axel dan kembali mencium bibir Axel kilas.


"Jawab," lirih Rowena.


Axel mengancingkan kancing piama Rowena. Ia memegang kedua tangan Rowena lalu mencium kedua punggung tangan Rowena bergantian.


"Aku hanya berusaha menjagamu," jawab Axel.


Axel mengusap rambut Rowena, ia mencium kening Rowena lalu memeluk Rowena. Rowena terkejut dengan jawaban Axel, dengan perlakuan Axel. Semua sudah di depan matanya, siap untuk dinikmati namun Axel lebih memilih untuk melindunginya.


Rowena tersenyum, "Terima kasih," kata Rowena.


Axel kembali mencium puncak kepala Rowena, "Jangan bertanya lagi kau adalah tipeku atau bukan. Aku menyayangimu dan aku tak ingin melukaimu. Kita hanya boleh bermain sampai batas," jelas Axel.


Rowena mengangguk, "Ya, aku mengerti. Aku percaya padamu," jawab Rowena.


Penasaran dengan sesuatu, Rowena akhinya memberanikan diri bertanya. Ia melepas pelukannya dan menatap Axel yang ada di hadapannya.


"Kau pernah menyentuh wanita sebelumnya?" tanya Rowena.


Axel diam seaaat lalu mengangguk, "Ya, tentu pernah." jawab Axel.


Rowena mengernyitkan dahi, "Sejauh apa kalian?" tanya Rowena lagi semakin penasaran.


Axel mengernyitkan dahi, "Apa maksudnya sejauh apa? tunggu, wanita ini tidak berpikir jauh ke sana kan?" batin Axel.


"Kau ini jangan berlebihan. Aku pernah menyentuh wanita, mereka adalah Mama dan Adikku. Kau pikir siapa, huh?" jawab Axel.


"Oh, aku kira wanita lain. Kau kan tidak bilang siapa." sungut Rowena.


"Kau juga tidak bertanya siapa, kan? Kau hanya bertanya sejauh apa." jawab Axel membalikkan kata-kata Rowena.


Rowena terlihat murung, ia merasa malu juga sedikit kesal dikerjai oleh Axel. Melihat Rowena yang murung Axel menjadi tidak tega.


"Hei, kau kesal?" tanya Axel menadahkan wajah Rowena sehingga mata keduanya saling bertatapan.


Rowena menggelang, "Tidak apa, aku akan kembali ke kamarku," jawab Rowena yang hendak pergi beranjak dari tempat tidur.


Axel memeluk Rowena dari belakang, berhasil menghentikan pergerakan Rowena untuk pergi meninggalkan tempat tidurnya.


"Maaf," bisik Axel. Axel mengeratkan pelukan, "Maafkan aku," kata Axel lagi.


Mata Rowena melebar, "Untuk apa minta maaf?" tanya Rowena tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Maaf membuatmu kesal, dan tolong jangan pergi." ucap Axel.


Rowena melapaskan tangan Axel, ia berbalik dan menatap dalam mata Axel. Rowena meraba wajah Axel dan tersenyum.


"Pergi ke mana? aku hanya akan ke kamarku dan kembali tidur. Ini masih pukul dua pagi," kata Rowena.


"Kau bisa tidur di sini, bersamaku." kata Axel memberi isyarat.


"Tidak mau, kau pasti akan menggodaku lagi nanti." tolak Rowena.


"Tidak akan. Percaya padaku," bujuk Axel.


Rowena berpikir sejenak, ia melihat tempat tidur Axel lalu melihat Axel. Pria di hadapannya begitu keren dan tampan, bentuk tubuh yang sempurna terlihat jelas karena memang Axel masih belum mengenakan pakaiannya.


"Pakai pakaianmu," kata Rowena.


"Kenapa? aku ingin tidur tanpa pakaian," jawab Axel.


"Menyebalkan," gerutu Rowena.


"Siapa? aku?" sahut Axel.


"Siapa lagi," jawab Rowena.


Rowena langsung diam tidak bicara apa-apa lagi. Segera ia kembali berbaring di atas tempat tidur dan langsung masuk dalam selimut.


Sebenarnya, Rowena merasa malu. Ia menutupi wajahnya yang merona dengan selimut. Axel menyusul Rowena, masuk dalam selimut dan berbaring di samping Rowena. Mereka pada akhirnya tidur dengan mengenakan selimut yang sama.


***


Mentari bersinar, hari sudah kembali pagi. Rowena terbangun, ia membuka matanya perlahan dan mendapati sosok Axel di sampingnya yang masih terlelap tidur.


Senyuman manis mekar dari bibir Rowena. Rowena menyelisikan tangannya mengikuti bentuk paras tampan Axel. Alis hitam tebal, hidung yang mancung, bulu mata yang lentik, juga rahang kokoh membuat Axel terlihat sebagai sosok pria yang sempurna di mata Rowena.


Perlahan Rowena mendekat, ia mencium kilas bibir Axel dan berbisik membangunkan Axel.


"Selamat pagi," bisik Rowena,


"Ayo bangun, kau harus bekerja hari ini," bisik Rowena lagi.


Axel bergerak, ia membuka matanya dengan perlahan. Dilihatnya Rowena yang ada di hadapannya tersenyum cantik dan sudah terbangun dari tidur.


"Kau sudah bangun," sapa Rowena tesenyum.


"Pagi," sapa Axel membalas senyuman Rowena.


Rowena tertegun, ini pertama kalinya Axel tersenyum hangat seperti ini padanya. "Selamat pagi," sapa balik Rowena.