
"Kau ... apa?" kata Axel.
Rowena menghela napas panjang, "Tidak apa. Kembali ke topik pembicaraan kita saja. Jadi kau ingin aku tinggal di rumahmu? baiklah aku akan tinggal, aku akan tinggal selama tujuh bulan sesuai kontrak kerjasama kita. Aku tetap ingin kau penuhi semua keinginanku," kata Rowena.
"Jika begitu kita tulis saja perjanjian kerjasama kita, sesuai kesepakatan kita. Bagaimana menurutmu?" tawar Axel.
Rowena menganggukkan kepala, "Aku setuju. Dengan begitu kita sama-sama saling menguntungkan. Dan tidak ada yang akan rugi," jawab Rowena.
"Baiklah, mari kita selesaikan ini sebelum jam kerjaku berakhir, Nona Haeyse." kata Axel.
Axel dan Rowena akhirnya membuat isi kontrak berdasarkan kesepakatan keduanya. Sempat beberapa kali mereka berselisih dan berdebat, namun pada akhirnya Rowena mengalah pada Axel karena tahu posisinya. Axel juga tidak ingin memberatkan Rowena, melihat Rowena yang murung dan cemberut, membuat Axel teringat akan Alica yang selalu menggerutu saat digodanya.
[Satu jam kemudian]
"Akhirnya," keluh Rowena, usai tanda tangan di selembar kertas.
"Selamat bekerja, kau bisa mulai bekerja besok." kata Axel.
"Ya, terima kasih karena kau sudah mau berubah pikiran. Dengan begini aku lega," ungkap Rowena.
"Itu karena kau mengingatkanku akan seseorang. Aku bukan orang yang tidak manusiawi," jawab Axel.
"Seseorang? siapa?" tanya Rowena penasaran.
"Poin pertama, tidak boleh mencampuri urusan pribadi kedua belah pihak. Kau tidak boleh banyak bertanya," jawab Axel.
Rowena mengernyitkan dahi, "ah, baiklah. Aku tak akan mencampuri urusanmu," jawab Rowena.
"Hm," jawab Axel.
"Aku akan datang besok pagi ke rumahmu, dan mulai bekerja. Sampai jumpa, Tuan Williams." pamit Rowena.
"Silakan," jawab Axel.
Rowena berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Axel. Axel mentap surat kontrak kerjasama dan menghela napas panjang.
"Lagi-lagi aku seperti ini. Setelah kejadian bersama Alica, aku menjadi bersikap lembut pada wanita. Apa aku baik-baik saja? bagaimana bisa dengan hanya merasa kasihan dan teringat akan Mama juga Alica aku jadi mempertaruhkan banyak uang dan mungkin saja akan merugi. Aku sudah gila sepertinya," gumam Axel tersenyum masam.
"Ahhh, lupakan saja. Aku anggap saja ini adalah sebuah permainan. Wanita sepertinya, aku tidak yakin dia bisa melakukan pekerjaan rumah. Lebih baik aku pulang sekarang," kata Axel yang langsung berdiri dari duduknya dan membawa kertas kontrak bersamanya.
***
Rowena dan Ricardo bertengkar. Ricardo tidak mengizinkan Rowena pergi dan tinggal bersama Axel. Namun Rowena menolak, Rowena mengatakan jika ia dan Axel sudah melakukan kesepakatan dan menandatangani kontrak.
"Hanya tujuh bulan," kata Rowena mencoba menenangkan Ricardo.
"Tidak Rowena, jangan pertaruhkam hidupmu demi perusahaan. Biarlah dia melakukan apa yang dia inginkan, aku tidak izinkan kau melakukannya. Tidak," tolak Ricardo bersikeras.
Rowena mendekat dan menatap Ricardo, "Kak, dengarkan aku. Ini adalah kesempatanmu membalas Merry. Dalam waktu tujuh bulan, kau harus bisa membuat Merry tahu jika kau bisa tanpanya. Tunjukan jika Kakak masih bisa berdiri dan bisa hidup dengan baik. Aku hanya melakukan pekerjaan ringan, Kak. Menyiapkan sarapan dan makan malam. Aku juga bisa menilai jika Axel adalah pria yang tidak akan mudah terpikat oleh wanita, dia tidak akan macam-macam padaku. Denganku saja tadi selalu baradu mulut," jelas Rowena panjang lebar.
Ricardo diam sesaat, ia mempertimbangkan ucapan Rowena. Ricardo menatap Rowena dan memeluk Rowena. Masih tidak rela jika adiknya akan pergi meninggalkannya.
"Maafkan Kakakmu ini, sayang." ucap Riacardo terlihat sedih.
Rowena menganggukkan kepala perlahan, "Jaga dirimu baik-baik, Kak. Aku pasti akan sering menemuimu," jawab Rowena.
Ricardo melepas pelukan, "Hubungi aku jika kau dalam kesulitan. Oke?" kata Ricardo.
"Iya, Kak. Pasti," jawab Rowena.
***
Rowena selesai berkemas dan menyiapkan semua yang diperlukannya untuk pindah ke rumah Axel. Dengan langkah lemas ia mendekati tempat tidurnya dan berbaring. Matanya menatap lekat langit-langit kamarnya.
"Apakah semua akan baik-baik saja? apakah semua seperti yang aku harapkan?" gumam Rowena.
Ponsel Rowena bergertar, pesan masuk dari Axel.
Axel Williams,
"Kau sudah tidur? aku ingin bertanya, ada hal penting apa sampai-sampai Kakakmu menghubungiku? aku baru saja dari luar, saat aku hubungi kembali. Kakakmu tidak menjawab panggilanku."
"Kakak menghubungi Axel? untuk apa?" batin Rowena.
Rowena pun membalas pesaan Axel,
"Entahlah. Aku tidak tahu. Mungkin ingin menyampaikan sesuatu. Aku akan tidur, jika aku bangun kesiangan. Aku tidak jamin akan tepat waktu bekerja besok."
Pesan telah dikirim, beberapa saat kemudian Axel membalas pesan Rowena.
Axel Williams,
"Jika kau terlambat, aku anggap kau berhutang. Ingat, jika kau terus berhutang. Aku bisa menambah masa kerjamu."
Rowena membaca dengan mendengus kesal. Ia mengomel dan memaki Axel dalam hatinya. Rasanya sungguh sangat kesal. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerima perlakuan gila dari Axel.
"Sombong sekali. Awas saja kau, aku akan diam-diam menaruh racun dalam makananmu jika kau terus-menerus membuatku kesal. Kau pikir kau siapa, hanya karena kau banyak uang. Huh, pria aneh!" oceh Rowena menggerutu.
Rowena tidak membalas pesan Axel lagi. Ponselnya diletakannya di nakas. Rowena pun pergi tidur dan melupakan sejenak kejadian panjang hari itu. Ia ingin menikmati malam yang panjang dan mimpi yang indah di hari terakhirnya berbaring di atas ranjang tidurnya.
*****
Pagi harinya. Setelah berpamitan pada Ricardo, Rowena pergi ke rumah Axel. Sesampainya di rumah Axel, Rowena disuguhi pemandangan indah. Rowena mengira jika rumah majikannya akan megah dan mewah. Nyatanya rumah Axel dua kali lebih kecil dan sederhana dari rumah tempatnya tinggal.
"Apa dia bergurau? rumah ini sungguh rumahnya?" gumam Rowena saat memasuki halaman rumah Axel.
Dari jauh ia melihat seseorang sedang berolah raga pagi. Menggenakan celana olah raga, kaus tanpa lengan lengkap dengan sepatu. Seseorang itu terlihat sedang melakukan gerakan-gerakan ringan untuk merilekskan tubuhnya.
"Ehemm," dehem Rowena.
Seseorang yang tidak lain adalah Axel memalingkan wajah ke arah suara. Axel menatap Rowena yang berdiri membawa koper dan tasnya.
"Kau sudah datang, cepat masuk dan memasak!" perintah Axel yang kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Tidak ada sambutan? baru datang sudah diperintah," gerutu Rowena membawa kopernya masuk ke dalam rumah.
"Poin ke dua, pihak kedua dilarang memprotes perintah pihak pertama. Kau lupa jika kita adalah majikan dan pelayan, huh?" sahut Axel yang mendengar gerutuan Rowena.
Rowena tersenyum sinis dan memutar bola matanya, "Baik, Tuanku. Pelayanmu siap melayani dengan segenap hati dan jantung," kata Rowena seakan mengejek.
Axel diam tanpa bicara.
Rowena menarik kopernya masuk melalui pintu utama rumah itu. Rowena melihat sekeliling, ia kagum akan keindahan isi rumah tersebut.
"Wah, semua barang-barang ini sederhana. Namun terlihat bagus dan elegan, seleranya lumayan juga. Rumah yang unik, baru kali ini aku menjumpai Boss besar yang tinggal dengan sederhana seperti ini. Sungguh di luar dugaanku," batin Rowena.