
Hei," panggil Alica pada Axel, namun lagi-lagi Axel mengabaikan Alica.
"Axel," panggil Alica lagi.
"Hm," jawab Axel.
"Aku dari tadi memanggilmu," gerutu Alica.
"Aku bukan 'Sshh' juga bukan 'Hei', kau tau kan aku punya nama. Ada apa kau memanggilku?" tanya Axel tanpa menatap Alica.
"Memang benar, sekali menyebalkan, akan terus menyebalkan. Kau menyebalkan," kata Alica.
Axel mengabaikan Alica, Axel memanggil seorang pelayan. Telinganya tidak mau lagi mendengar ocehan Alica yang akan membuatnya sakit kepala.
Seorang pelayan datang menghampiri Alica dan Axel. Pelayan itu dengan ramah menyambut dan melayani Axel juga Alica.
"Selamat siang, Nona dan Tuan. Selamat datang di restorant kami. Silakan pilih beberapa menu andalan kami dalam daftar menu," kata pelayan yang langsung memberikan buku menu dan menunjukan menu andalan restorant itu.
Axel membuka menu dan melihat-lihat isi menu. Ia pun segera memesan makanan dan minumannya pada pelayan.
"Pasta dan air lemon," kata Axel.
"Baik, Tuan. Bagaimana dengan Anda, Nona?" tanya pelayan.
"Hm, aku mau sup jamur dan salad sayur, untuk minum aku ingin jus strawberry." kata Alica tersenyum cantik pada pelayan.
"Baik, Nona. Terima kasih, silakan menunggu." kata pelayan.
Pelayan selesai mencatat, ia segera mengumpulkan buku menu dan pergi meninggalakan meja Alica dan Axel.
Ponsel Axel bergertar di atas meja, ia langsung menyambar ponselnya dan melihat nama Joe di layar ponselnya.
Perbincangan di telepon)
"Ya, Joe?" sapa Axel.
"Tuan, apakah Anda berada di luar kantor?" tanya Joe terlihat panik.
"Hm, ada apa? kenapa kau panik?" tanya Axel penasaran.
"Jika urusan Tuan di luar selesai, mohon kembali ke kantor segera. Kami mendapatkan laporan dari perusahaan cabang di Inggris, jika ada kekacauan di sana." kata Joe.
"Kekacauan?" batin Axel mengernyitkan dahi.
"Baiklah, Joe. Aku akan langsung ke kantor nanti," jawab Axel.
"Ya, Tuan. Saya tutup dulu teleponnya." kata Joe.
"Hm," gumam Axel.
Joe mengakhiri panggilan, Axel pun meletakan ponselnya di meja. Axel menghela napas panjang, melihat itu Alica pun menjadi penasaran.
"Ada apa? apa sesuatu terjadi?" tanya Alica menatap Axel penuh kecemasan.
"Hm, ada sesuatu hal." jawab Axel.
"Hal apa?" tanya Alica lagi.
"Berhubungan dengan kantor cabang di Inggris," jawab Axel.
Alica memutar bola mata, "Cabang di Inggris ya? hm, perusahaan yang sering Papa kunjungi itu rupanya," gumam Alica.
Axel menatap Alica, melihat Alica yang memutar bola mata dan bergumam membuat Axel tersenyum tanpa diduga. Alica kembali menatap Axel, ia memergoki Kakaknya itu sedang tersenyum.
Kepergok tersenyum, Axel langsung mengubah ekspresi wajahnya dan mengalihkan pandangan ke ponselnya.
Dahi Alica berkerut, "Wow, aku melihat Axel tersenyum? seperti mimpi," batin Alica.
"Ahh, apa yang aku lakukan? kenapa juga aku tersenyum?" batin Axel.
Alica dan Axel saling diam. Suasana kembali canggung, seperti saat mereka dalam perjalanan dari panti asuhan menuju restorant.
Sepuluh menit kemudian, hidangan mereka tersaji di meja. Selesai menyajikan semua pesanan, pelayan pun pergi.
"Uh, makan..." ucap Alica menatap sup jamur di hadapannya. Alica langsung menikmati kelezatan dari sup jamur yang dipesannya.
Axel hanya diam, ia mengaduk-aduk pasta di piringnya dan menikmati makan sianganya.
***
Sesampainya di rumah. Axel menghentikan mobilnya di depan teras rumah. Alica membuka pintu mobil, namun sesaat sebelum itu Alica menatap Axel dan memanggil Axel.
"Hei, ahh... maksudku Kakak," panggil Alica.
Axel melihat ponsel, "Hm," gumam Axel yang tidak sadar jika Alica memanggilnya Kakak.
Seketika Axel menghentikan jarinya mengetik pesan, ia melebarkan mata dan mengernyitkan dahi, lalu ia memalingkan wajah manatap Alica.
"Hei, pendek. Kau bicara apa tadi?" tanya Axel.
"Ayo turun, aku harus kembali ke kantor." Perintah Axel.
"Uh, si iblis menyebalkan. Aku tidak menyukaimu," gerutu Alica.
"Ya, itu lebih baik. Jangan pernah menyukaiku," kata Axel.
Alica membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil, dengan kasar ia menutup pintu mobil Axel. Sesaat kemudian, Axel dan mobilnya langsung pergi melesat. Alica hanya menatapi kepergian Axel, lalu melangkah masuk dalam rumah.
Baru beberapa langkah, seseorang berhenti dan memanggil Alica.
"Hallo, Nona. Apakah benar ini kediaman Nona Williams?" Sapanya.
Alica memalingkan wajah, "Iya benar," jawab Alica, matanya melebar saat melihat sada seorang kurir membawa buket bunga mawar merah di tangannya.
"Ada kiriman bunga untuk Nona Alica Willimas," kata kurir itu.
"Itu saya," jawab Alica.
Kurir menyerahkan sebuah tanda bukti untuk ditanda tangani Alica. Alica selesai memberikan tanda tangan dan menerima buket bunga yang berukuran besar, Alica bingung siapa yang mengirim bunga padanya.
"Saya permisi, Nona." pamit kurir.
"Ya, terima kasih." jawab Alica.
"Siapa yang kirim?" batin Alica.
Alica melihat ada kartu ucapan, ia segera mengambil kartu itu karena penasaran dengan siapa yang mengirimnya bunga. Di dalam kartu ucapan itu tertulis sesuatu yang mengejutkan Alica.
Untuk: Si Pendek
Dari: Si Iblis (Axel)
"Buang jelek ini untumu, pendek. Buang saja jika tidak suka."
Alica terkejut, ia langsung tersenyum dan berlari masuk dalam rumah. Alica mencari Mamanya, ingin memberitahukan kejutan dari Axel untuknya.
***
Axel sedang memeriksa sebuah berkas yang diberikan Joe. Axel membaca dengan seksama, dahinya berkerut dan terlihat kesal.
"Sial! bagaimana bisa seperti ini?" kesal Axel.
"Apa rencana kita, Tuan?" tanya Joe yang juga panik.
"Pesan tiket ke Inggris untuk besok. Aku akan ke Inggris, Joe. Katakan pada Adele, jika dia juga harus bersiap. Kau dan bisa menyusul jika besok tidak bisa pergi bersamaku." perintah Axel.
"Ba, baik, Tuan. Saya akan segera mengurus semuanya," kata Joe yang langsung pergi.
Brakkkk....
Axel memukul meja kerjanya, ia terlihat begitu kesal.
"Siapa yang berani mengusik pekerjaanku. Lihat saja, akan kutemukan dan kuhancurkan!" gumam Axel jengkel.
Axel langsung mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Dengan cepat, ia langsung menghubungi Reynold. Panggilannya tersambung, namun belum diterima oleh Reynold.
(Percakapan di telepon)
"Hallo," jawab Reynold.
"Paman," sapa Axel.
"Ya. Ada apa, Axel?" tanya Reynold.
"Aku akan ke Inggris besok. Entah kapan baru bisa kembali, ada masalah dengan perusahaan." kata Axel memberitahu Reynold.
"Apakah masalah serius?" tanya Reynold lagi.
"Cukup serius, jika tidak dibereskan aku khawatir perusahaan akan terancam." jawab Axel.
"Pergilah. Selesaikan masalah itu dan kembalilah dengan kemenangan. Aku percaya kau pasti bisa selesaikan masalah apapun itu," kata Reynold mendukung Axel.
"Terima kasih, Paman. Aku sebenarnya ingin menemui Paman, namun aku takut tidak punya banyak waktu. Karena besok aku harus ke Inggris." kata Axel lagi.
"Tidak perlu datang, aku baik-baik saja. Kau perhatikan kesehatanmu dan pergilah, doaku selalu menyertaimu, Nak." sahut Reynold bersuara lembut.
"Aku akan kirim sesuatu padamu, Paman. Sesuatu hadiah yang ingin sekali kuberikan pada Paman," kata Axel.
"Apa?" tanya Reynold ingin tahu.
"Hm, Paman bisa lihat sendiri nanti. Jaga diri Paman, sampai jumpa." ucap Axel.
"Ya, kau juga. Sampai jumpa anakku," jawab Reynold.
Axel mengakhiri panggilan, Axel mengeluarkan sesuatu dari dalam laci kerjanya. Sesuatu itu adalah barang yang akan diberikan oleh Axel pada Reynold.
"Aku akan kirimkan ini," gumam Axel.