Axel Williams

Axel Williams
Bab 40.



Seperti biasa, kebiasaan Axel setiap pagi adalah berolah raga. Selesai berolah raga, Axel masuk dalam rumah dan bertemu dengan Rowena yang ingin ke dapur.


"Selamat pagi," sapa Rowena tersenyum.


Axel terdiam, ia tidak menjawab sapaan Rowena. Axel masih terbayang kejadian semalam, kejadian bodoh yang ia lakukan tanpa sadar. Rowena menghampiri Axel dan memberikan gelas berisi air putih.


"Minumlah," kata Rowena.


Axel menatap gelas berisi air putih yang dipegang Rowena. Tanpa menjawab Rowena, Axel mengambil gelas dari tangan Rowena.


Axel meneguk perlahan air minum dalam gelas. Rowena menatap Axel, keningnya langsung berkerut saat ia melihat sesuatu yang aneh di leher Axel.


"Itu," kata Rowena menunjuk leher Axel.


Axel menatap Rowena lalu menatap dirinya sendiri, "Itu?" ulang Axel bingung.


"Iya itu. Apa itu?" tanya Rowena lagi.


Axel mengernyitkan dahi, "Apa?" tanya Axel balik.


Rowena mendekat dan menunjuk leher Axel, "Tanda merah apa ini?" kata Rowena melihat semakin dekat ke leher Axel, "Ini bukankah jejak ciuman?" kaget Rowena.


Axel melebarkan mata, ia langsung memberikan gelas kosong pada Rowena dan menutupi lehernya dengan tangan.


"Kau salah lihat," jawab Axel merasa malu.


Rowena melirik ke arah Axel, "Oho, kau bermain-main dengan wanita ya? siapa dia?" goda Rowena.


Rowena tidak sadar, jika itu adalah hasil karyanya sendiri. Sedangkan Axel merasa sangat malu, ia lupa jika semalam Rowena lah yang memulai kegilaannya.


"Jujurlah, siapa dia? siapa tau aku bisa memberikan penilaianku," kata Rowena.


"Jangan banyak bertanya dan bicara lagi. Masaklah sarapan," perintah Axel.


"Kau ini, aku kan ingin tau. Kau asik bersama siapa? wah, aku tidak menyangka pria dingin sepertimu bisa seperti ini," kata Rowena menggodai Axel.


"Wanita ini! andai saja dia tau jika ini adalah kelakuannya," batin Axel kesal.


"Kau bicara lagi, perjanjian kita akan aku tambah satu bulan lagi. Kau ingin seperti itu?" anacam Axel.


"Ja-jangan, jangan. Oke, aku tidak akan diam dan tidak akan banyak bicara lagi." kata Rowena.


Axel segera pergi, jika tidak ia tidak akan tahan lagi. Axel pergi ke ruang kerjanya, Rowena pergi ke dapur untuk membuat sarapan.


***


Rowena memikirkan sesuatu, ia tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaannya. Rasa penasarannya sangat tinggi, membuat Rowena tidak fokus memasak pagi itu.


"Siapa ya? bagaimana bisa aku melewatkan sesuatu seperti itu semalam. Ah, bodohnya aku. Bertanya pun tidak akan dijawab olehnya," batin Rowena.


Jauh di dekat meja makan, Axel sudah berganti pakaian santai dan hendak duduk. Namun Axel mengurungkan niatannya dan memilih mengintip apa yang dikerjakan Rowena. Axel mengendap-endap perlahan agar tidak disadari oleh Axel.


Karena tidak fokus memasak dan terus-menerus memikirkan hal yang sama. Akhirnya jari telunjuk tangan kanan Rowena teriris pisau saat memotong tomat. Seketika Rowena menjerit kecil karena merasakan jarinya perih.


"Ouch," rintih Rowena meletakan pisau dari tangan kirinya dan menatap jari tangan kanannya.


Melihat kecelakaan kecil itu, Axel langsung berlari mendekati Rowena dan melihat keadaan Rowena. Melihat darah yang mengalir, Axel lansung meraih tangan Rowena, memasukan jari telunjuk Rowena ke mulutnya untuk dihisap darahnya. Rowena yang terkejut dengan kedatangan Axel yang tiba-tiba menatapi Axel tanpa berkedip. Karena panik, tanpa sadar Axel juga melakukan itu. Semua di luar kesadarannya, apa yang terjadi, berlangsung begitu saja.


Beberapa detik kemudian, Axel selesai meghisap jari Rowena yang terluka. Axel lalu mencuci tangan Rowena dengan air yang mengalir dan bergegas mencari plaster dengan segera. Plaster yang dicari ditemukan, Axel mengeringkan luka yang basah, memberikan obat merah pada luka dan menutup luka sayatan dengan plaster. Tidak lupa ia juga meniup-niup agar tidak terasa begitu perih untuk Rowena.


"Kau duduk saja, aku yang memasak." pinta Axel bersuara lembut.


"Jarimu teriris, jangan sampai terpotong baru kau jera. Duduk dan biarkan aku yang memasak," kata Axel dingin.


"Mana mungkin bisa sampai terpotong. Aku hanya memegang pisau kecil. Kau duduklah, tidak lama juga selesai," kata Rowena enggan untuk patuh pada ucapan Axel.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Axel penasaran bercampur kesal.


"Apa?" jawab Rowena bingung.


"Bagaimana bisa kau begitu ceroboh sampai jarimu terluka? apa yang kau pikirkan?" desak Axel.


"Bukan apa-apa. Aku hanya penasaran dengan sesuatu saja," jawab Rowena.


"Apa? sesuatu apa?" tanya Axel lagi.


"Bukan apa-apa. Bukan hal penting juga," jawab Rowena takut.


Rowena takut jika Axel akan menambahkan masa kerjanya di dalam kontrak kerja perjanjiannya. Ia memilih diam dan mengelak pertanyaan Axel.


Axel mendekat dan menatap Rowena, "Bicara atau aku paksa," ancam Axel.


"Hei, jangan mendekat. Berapa kali aku katakan, pria dan wanita dewasa tidak boleh dekat-dekat," ucap Rowena melangkah mundur.


"Jika seperti itu jawablah. Kenapa kau sampai terluka?" desak Axel lagi, dengan terus melangkah maju.


Jarak keduanya semakin dekat, begitu dekat karena Rowena sudah terhadang lemari di belakangnya. Rowena pun akhinya mengakui apa yang menjadi beban pikirannya hingga membuatnya terluka.


"Oke, aku akan katakan. Jangan menakutiku lagi," kata Rowena.


Axel diam menunggu jawaban Rowena. Rowena pun bicara jika ia memikirkan wanita mana yang menandai leher Axel.


"Aku hanya penasaran dengan tanda merahmu. Aku ingin tahu siapa wanita itu," kata Rowena menunduk, Rowena takut untuk menatap langsung wajah Axel.


Axel terkejut mendengar pernyataan Rowena. Axel tidak menyangka Rowena begitu penasaran dengan siapa ia menggila semalam.


Axel menarik napas lalu mengembuskan napas perlahan, "Kau ingin tahu?" tanya Axel.


Rowena mengangguk tanpa menjawab. Axel pun menadahkan wajah Rowena sehingga mata keduanya saling bertatapan.


Rowena menatap Axel, "Kau jangan marah, aku hanya bertanya saja. Aku penasaran," lirih Rowena.


Axel mendekatkan wajahnya ke wajah Rowena, "Kau lah orangnya," jawab Axel.


Rowena kaget, "Hah? aku?" Kata Rowena.


"Terkejut? kau sungguh tidak ingat apa-apa?" Tanya Axel.


Rowena menggelengkan kepala, tanda ia tidak ingat apa-apa. Axel pun pada akhirnya menjelaskan apa yang terjadi semalam.


"Kau lah yang melakukannya. Kau menarik tanganku, lalu memelukku sehingga aku jatuh menindihmu. Kau mencium leher dan menghasilkan karya seperti ini," kata Axel dengan menunjuk lehernya sendiri.


"Mana mungkin, itu aku," elak Rowena.


"Kau masih mengelak? jangan-jangan kau juga melupakan kegilaan kita semalam?" goda Axel dengan sengaja.


"Kegilaan?" ulang Rowena melebarkan mata, "Kegilaan apa? aku masih kenakan pakaianku, itu berarti tidak ada apa-apa diantara kita, kan?" imbuh Rowena.


"Kalau begitu, biar aku buat kau mengingatnya kembali," jawab Axel.