
(Percakapan di telepon)
"Hallo," jawab Rowena.
"No-nona..." sapa Asisten Ricardo.
"Ada apa ini, David? bagaimana bisa?" tanya Rowena.
"Di mana Tuan, Nona?" tanya David.
"Bicaralah padaku, aku juga ingin tahu apa yang sedang terjadi di perusahaan." jawab Rowena. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Perusahaan akan diakuisisi," kata David.
"Bagaimana caranya agar itu tidak terjadi?" tanya Rowena.
"Sepertinya mustahil, mereka perusahaan besar dan punya segalanya. Jika ingin lolos, kita harus membayar ganti rugi. Namun, Tuan tidak bisa melakukan itu karena tidak memiliki cukup uang. Tuan sudah meminta waktu, namun permohonan Tuan Ricardo ditolak mentah-mentah." jelas David.
Mendengar cerita dari David, Rowena menjadi sedih. Tidak terasa air matanya jatuh, sekilas ia melihat Kakaknya Ricardo yang hanya duduk tidak berdaya.
"Kirim alamat perusahaan itu kepadaku. Biarkan aku yang mencoba bicara langsung pada Direktur perusahaan itu," kata Rowena penuh keyakinan.
"Nona yakin? ta-tapi..." jawab David. Ia meragukan apa yang ingin Rowena lakukan.
"Aku tidak mau dengar kata tapi, aku juga tidak mau menunggu lama. Berikan padaku sekarang dan aku akan pergi segera," kata Rowena lagi yang langsung menutup panggilan dari David.
Rowena meletakan ponsel Ricardo di meja, "Aku akan mencoba menemuinya, Kak. Kita tidak boleh menyerah." kata Rowena.
"Tidak akan ada hasil, Rowena. Dia bukan orang yang mudah dibujuk seperti yang kau pikirkan. Aku sudah pernah bertemu langsung dengannya," kata Ricardo memberi saran pada Rowena.
"Kita tidak akan tahu jika belum mencoba. Selagi aku masih belum mencoba aku tidak akan menyerah." jawab Rowena tanpa ragu-ragu lagi.
Ricardo mengusap wajahnya, "Pikirkan baik-baik dulu, aku tidak ingin kau kecewa." kata Ricardo merasa tidak yakin dengan tindakan Rowena, adiknya.
"Tidak perlu dipikirkan, apapun yang akan terjadi meski gagal aku tidak akan terlalu kecewa karena aku sudah berusaha." jawab Rowena mencoba mempertahankan keinginannya.
Ponsel Rowena bergetar, ia segera mengambil ponselnya di tas dan melihat layar ponsel. Pesan masuk dari David, Rowena segera membuka dan membaca isi pesan dari David.
Rowena menatap Ricardo, "Kak, aku pergi dulu. Jangan mengacaukan isi rumah lagi," kata Rowena yang langsung pergi.
Dengan langkah cepat, Rowena pergi meninggalkan rumahnya menuju alamat yang diberikan David.
***
Rowena mendatangi sebuah perusahaan sesuai alamat yang diberikan David. Rowena menemui bagaian resepsionis untuk melapor. Adele kebetulan melihat dan menegur Rowena saat mendengar Rowena hendak bertemu Axel Williams.
"Maaf, Nona. Apakah Anda sudah ada janji temu dengan Tuan Williams?" tanya Adele.
Rowena menatap Adele, " Maaf, Nona. Saya ada keperluan mendesak. Ini menyangkut perusahaan kami. Saya mohon," kata Rowena memelas.
"Perusahaan?" Adele terlihat bingung.
Rowena pun bercerita, jika ia datang mewakili Kakaknya untuk berbicara langsung dengan Axel Williams. Rowena juga mengatakan alasan kedatangannya.
"Mmm, begini saja. Jika Anda sungguh-sungguh ingin bertemu Tuan, silakan Anda ikut saya dan menunggu. Tuan masih ada kesibukan," kata Adele.
"Benarkah saya boleh menemui Direktur Williams?" ucap Rowena senang.
"Ya, tentu saja. Saya akan mencoba bicara pada beliau nanti." jawab Adele, yang merasa kasihan pada Rowena.
Rowena tersenyum manakala mendapat bantuan dari Adele. Wajahnya terlihat ceria dan hatinya sedikit tenang.
"Terima kasih, Nona. Anda sangat baik," kata Rowena memuji Adele.
Adele berbicara pada resepsionis dan mengajak Rowena bersamanya. Rowena dengan senang hati menerima ajakan Adele. Ia dan Rowena berjalan bersama sampai di sebuah ruangan. Adele meminta Rowena menunggu di ruangan itu.
"Silakan menunggu, Nona. Saya akan melapor pada Asisten Direktur," kata Adele tersenyum, membuka pintu sebuah ruangan dan mempersilakan Rowena masuk.
"Iya, terima kasih sekali lagi, Nona." jawab Rowena membalas senyuman Adele.
"Iya, Nona." jawab Adele ramah.
Adele menutup pintu dan pergi. Rowena masih melihat-lihat sekeliling ruang tunggu itu.
***
"Ada apa?" tanya Axel melihat Joe yang sibuk mengamati ponsel.
"Adele mengatakan jika ada seseorang yang ingin bertemu Anda, Tuan." jawab Joe.
"Siapa?" tanya Axel lagi.
"Tidak tahu, Adele tidak memberikan informasi itu. Apakah Tuan akan menemuinya?" tanya Joe.
"Siapa yang ingin menemuiku. Aku tidak merasa ada janji temu sore ini," batin Axel.
"Tuan," panggil Joe melihat Axel yang terdiam.
"Ayo, Joe. Kita coba temui," ajak Axel.
Axel penasaran, siapa yang ingin bertemu dengannya. Joe mengangguk, ia segera berjalan dan membukakan pintu untuk Axel keluar dari ruangan. Pintu terbuka, Axel pun melangkah keluar ruang rapat dan pergi menuju ruang tunggu diikuti Joe di belakangnya.
Dari kejauhan, Adele melihat Axel dan Joe. Adele yang duduk langsung berdiri dan melangkah maju mendekati Axel juga Joe. Ia menyapa keduanya.
"Tuan," sapa Adele.
"Siapa yang menungguku?" tanya Axel pada Adele.
"Itu, dia adalah Nona Haeyse. Adik dari Direktur Haeyse," jawab Adele.
Axel mengernyitkan dahi, "Oh," jawab Axel ber-oh ria.
Axel melangkahkan kaki menuju ruangannya, "Minta dia menemuiku di ruanganku, Joe." kata Axel.
"Baik, Tuan." jawab Joe.
Axel membuka pintu dan masuk dalam ruangannya. Adele dan Joe saling bertatapan dan terlihat kebingungan.
"Untuk apa dia datang?" tanya Joe dengan nada suara setengah berbisik.
"Dia ingin meminta waktu untuk sesuatu hal penting, katanya begitu tadi." jawab Adele.
"Minta waktu? mungkin dia mengira Direktur kita mudah ditangani. Sudahlah, kau panggil saja dia untuk menemui Tuan. Aku masih harus mengurus sesuatu," kata Joe yang langsung pergi meninggalakan Adele.
"Ya,"jawab Adele yang langsung pergi ke ruang tunggu untuk memanggil Rowena.
***
Pintu ruangan diketuk dari luar, tidak lama pintu terbuka. Terlihat seseorang yang tidak lain adalah Rowena masuk ke dalam ruangan. Dengan langkah hati-hati dan canggung, Rowena berjalan mendekat ke arah Axel. Axel terlihat berdiri menatap luar jendela ruangannya.
"Tuan Williams," sapa Rowena yang berdiri tidak jauh dari Axel. Posisi Axel membelakangi Rowena.
"Untuk apa Anda menemui saya? bukankah ini sia-sia?" kata Axel tanpa berpaling.
"Beri kami waktu, Tuan. Kami pasti akan membayar," jawab Rowena.
"Waktu? berapa lama lagi? sudah banyak waktu yang diberikan untuk Tuan Haeyse." jawab Axel.
Rowena melebarkan mata, "Tuan, saya mohon. Berikanlah kesempatan," kata Rowena memohon lagi.
"Tidak ada kesempatan ke dua. Pergilah, Nona. Jangan membuang waktu," jawab Axel.
Brukkk....
Rowena berlutut, ia menunduk dan terlihat sedang menangis. Rowena tidak punya pilihan lain selain memohon pada Axel. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk membujuk Axel.
"Jangan ambil perusahaan kami. Perusahaan itu sudah seperti nyawa Kakakku. Jika perusahaan hancur, maka Kakakku pun akan hancur. Aku mohon, Tuan. Beri kami kesempatan lagi," kata Rowena yang pada akhirnya menangis untuk memohon pada Axel.
Axel berbalik, "Apa yang bisa kau janjikan padaku, Nona?" tanya Axel menatap Rowena yang berlutut.
"Aku, aku, a..." kata Rowena yang langsung terdiam sesaat.
"Aku tidak akan berikan kesempatan meski kau memohon," kata Axel terlihat kesal.