
"Axel," panggil Rowena.
"Ya?" jawab singkat Axel.
"Aku sudah menyiapkan pakaian gantimu untuk besok. Sisanya sudah aku rapikan dan aku masukan ke dalam koper. Apakah masih ada yang harus aku kemas?" tanya Rowena.
"Tidak," jawab Axel.
Rowena berdiri, ia berjalan menghampiri Axel yang duduk di sofa.
"Bagaimana dengan lukamu? sudah kau obati?" tanya Rowena menatap Axel.
Axel menggeleng, tidak bicara. Melihat itu, Rowena segera mencari obat dan berniat mengobati Axel. Beberapa saat setelah mendapatkan obat, Rowena kembali dan duduk di samping Axel.
"Aku akan obati lukamu," kata Rowena.
"Ayo, buka pakaianmu." lanjutnya, meminta Axel membuka pakaian.
Rowena menunggu Axel membuka pakaian. Namun, tidak ada pergerakan dari Axel. Rowena pun mengambil alih, tangannya dengan sigap menyentuh tubuh Axel hendak membuka pakaian Axel. Axel memegang tangan Rowena, ia menatap Rowena. Rowena pun kaget, menatap balik Axel.
"Ada apa?" tanya Rowena.
"Apa kau percaya padaku?" tanya Axel tiba-tiba.
"Apa maksudmu, Axel?" bingung Rowena.
"Aku bertanya padamu, apa kau percaya padaku? jawablah, ya atau tidak?" kata Axel lagi.
Rowena terdiam sesaat, Axel pun melepaskan tangannya dan memalingkan wajahnya.
"Kembalilah kekamarmu, aku ingin sendiri." kata Axel, memerintah Rowena segera pergi dari kamarnya.
"Aku sangat percaya padamu," kata Rowena tanpa ragu.
Axel melebarkan mata, ia kembali memalingkan wajah menatap Rowena.
"Apa? kau bilang apa?" tanya Axel tidak percaya.
"Aku percaya padamu. Sangat percaya," kata Rowena.
Axel tersenyum masam, "Bagaimana bisa kau percaya padaku. Bukankah di matamu aku hanya pria jahat yang selalu mengambil keuntungan?" kata Axel, masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kau benar. Kau memang pria jahat yang suka mengambil keuntungan. Tidak mau rugi dan mau menang sendiri. Tapi kau sudah menyelamatkanku, itulah kenapa aku katakan jika aku sangat percaya padamu." jelas Rowena tanpa ragu-ragu lagi.
"Apakah kau bisa percaya semua yang aku katakan? meski pada kenyataanya itu adalah hal di luar nalar? maksudku hal-hal yang tidak akan mudah kau percaya," jelas Axel.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" tanya Rowena, "Katakan saja langsung ke intinya. Jangan membuatku penasaran," imbuh Rowena.
"Tidak ada, aku hanya bicara seandainya saja." elak Axel beralasan. Masih enggan untuk bicara.
"Aneh sekali kau ini. Sudah, lupakan saja. Ayo buka pakaianmu agar aku bisa oleskan obat." kata Rowena mengalihkan pemikirannya pada luka Axel.
Axel membuka pakaiannya. Rowena kembali melihat tubuh seksi dan kekar milik Axel. Lagi-lagi Rowena tertegun, pandangannya lekat menatap tubuh Axel. Sekian menit berlalu, Axel merasa Rowena tak kunjung menggerakkan tangannya. Axel memalingkan wajah menatap Rewena dan mendapati Rowena melamun. Axel langsung menarik hidung Rowena dan mengejutkan Rowena.
"Cukup melihat tubuh indahku. Cepat oles," kata Axel menarik pelan hidung Rowena.
"Sshh, sakit!" seru Rowena meraba hidungnya. Ia merasa kesakitan. "Kau ini," keluh Rowena membulatkan mata.
"Apa? kau apa?" jawab Axel.
"Kau menyebalkan," lanjut Rowena menggerutu.
"Apa yang kau pikirkan sebenarnya? apa kau begitu menyukai tubuhku?" goda Axel.
"Apa-apan kau, siapa juga yang tergoda. Tubuh Kakakku lebih berisi darimu," jawab Rowena.
"Oh, benarkah? aku rasa matamu bermasalah. Jelas-jelas Kakakmu pendek dan," ucapan Axel terputus.
"Dan," sambung Rowena.
"Dan jelek, sepertimu juga." lanjut Axel mengejek Rowena dan juga Ricardo, Kakaknya.
"Aaahh, pelan-pelan, Rowena. Kau ingin membunuhku?" teriak Axel merasakan sakit.
"Rasakan, siapa suruh mengejekku. Aku akan buat kau menderita," gumam Rowena. Ia sengaja mengoles kasar krim obat pada luka Axel. Membuat Axel merintih kesakitan.
***
[Keesokan harinya]
Setelah menempuh perlajanan panjang. Akhirnya Axel dan Rowena kembali ke rumah Axel. Sesampainya di rumah, Rowena langsung berganti pakaian dan melakukan tugasnya membersihkan rumah.
"Aku lelah, ingin tidur. Jangan bangunkan aku jika tidak ada hal penting," kata Axel.
"Ya, tidurlah. Mandi dulu sebelum tidur," kata Rowena mengingatkan Axel.
"Iya," jawab Axel yang langsung pergi meninggalkan Rowena menuju kamarnya.
Baru saja terdengar suara pintu kamar ditutup, Axel kembali membuka pintu dan berteriak memanggil Rowena.
"Rowena," panggil Axel.
Rowena meletakan kain lap yang ia gunakan mengelap meja dan berlari menghampiri Axel.
"Ya, tunggu." kata Rowena berlari kecil menghampiri Axel.
Rowena sampai di depan pintu kamar Axel, "Ada apa? kenapa berteriak?" tanya Rowena.
"Sudah ganti alas tempat tidurku? jika belum gantilah, aku akan mandi." kata Axel bertanya, menatap Rowena.
Rowena menggeleng, "Aku belum ganti. Aku akan menggantinya sekarang," kata Rowena.
Rowena masuk dan menutup pintu kamar, Axel meninggalkan Rowena dan masuk ke dalam kamar mandi. Dengan segera ia mengganti selimut dan alas tempat tidur Axel. Rowena melakukannya dengan cepat, ia ingin sebelum Axel selesai mandi, ia sudah menyelesaikan pekerjaannya itu.
Butuh waktu bermenit-menit untuk mengganti semuanya. Axel pun juga sudah selesai mandi mandi dan keluar dari kamar mandi. Rowena menghela napas, ia telah menyelesaikan semuanya. Mengganti pembungkus bantal, alas kasur juga memasang selimut yang baru.
Rowena memalingkan wajah, ia kaget melihat Axel yang sudah berdiri di belakangnya dengan bertelanjang dada.
"Aaaaa," teriak Rowena karena terkejut.
Rowena memukul dada Axel, "Kau ini, kenapa bisa tidak bersuara? jangan mengagetkanku seperti hantu," ucap Rowena sedikit kesal karena terkejut.
"Kau ini kenapa?" tanya Axel.
"Masih bertanya kenapa. Kau itu yang kenapa, kenapa berdiri di belakangku seperti penguntit?" tanya Rowena.
"Memang kenapa? ini kan kamarku, kau saja yang terlalu fokus pada pekerjaanmu sampai tidak sadar aku di sini." jawab Axel.
"Lupakan saja, kau tidak akan pernah bisa diajak bicara. Mengesalkan sekali," keluh Rowena.
"Mengesalkan? siapa? aku?" jawab Axel bertanya pada Rowena
"Iya, kau. Majikan terhormatku, Tuan Axel Williams." jawab Rowena.
Axel tersenyum, menyodorkan handuknya pada Rowena. "Tugasmu selanjutnya, keringkan rambutku segera, karena aku ingin segera tidur." perintah Axel.
"Duduklah, aku akan keringkan. Kau terlalu tinggi untukku," kata Rowena.
Axel menurut, ia duduk di tepi tempat tidur. Rowena dengan segera mengeringkan rambut Axel dengan gerakan lembut dan perlahan.
"Kau tidak ingin makan dulu? di jalan tadi kau hanya makan sedikit," tanya Rowena.
"Aku sangat lelah, tidak selera makan." jawab Axel merasakan tubuhnya sangat lelah dan lemas.
"Tunggu sebentar," sela Rowena. Rowena menyentuh dahi Axel dengan telapak tangannya dan merasakan suhu tubuh Axel. "Kau demam? kenapa kau mandi jika demam, apakah kau bodoh?" kesal Rowena pada Axel.
"Aku baik-baik saja. Cepat keringkan," pinta Axel. Ia tidak menanggapi kekhawatiran Rowena.
"Tunggu sebentar, harus sampai kering. Jika tidak kau akan sakit kepala dan flu," kata Rowena.