
Udara di luar begitu dingin. Namun, ada kehangatan di dalam kamar Axel. Ia dan Rowena sedang asik bercumbu mesra. Axel sibuk membuat jejak di punggung sampai pinggang Rowena. Jejak kecil merah sempurna sukses menghiasi tubuh belakang wanita cantik tersebut. Tak mau kalah, Rowena juga melakukan hal yang sama. Dengan gemas ia membuat jejak-jejak seperti yang ia miliki di punggung sampai pinggang Axel.
"Selesai," ucap Rowena tersenyum.
"Curang sekali, kau menggigitku. Kau kira aku steak?" gerutu Axel.
"Haha, maaf. Aku terlalu gemas padamu," jawab Rowena.
Rowena dan Axel saling memandang dalam. Axel membelai rambut lalu membelai wajah Rowena. Mereka pun kembali berciuman. Keduanya masih enggan melepas ciuman mansing-masing.
Ciuman semakin dalam, tangannya yang nakal sudah menanggalakan pakaian keduanya. Axel sudah bertelanjang dada, sedangkan Rowena masih mengenakan pakaian dalamnya.Tidak beberapa lama kemudian, Axel dan Rowena melepas ciuman.
Napas Rowena naik turun, begitu juga Axel. Axel menatap Rowena. Rowena tersenyum membalas tatapan mata Axel, tangannya perlahan membelai wajah Axel. Lantas merangkul dan memeluk Axel.
"Aku menyukaimu," bisik Rowena menciumi leher Axel.
Rowena melapas pelukan dan kembali menatap Axel, "Seliar apa aku saat mabuk?" tanya Rowena.
"Kenapa? kau ingin lebih liar dari kemarin?" tanya Axel balik.
Rowena mendorong dan langsung menindih Axel, Rowena memulai serangannya, diciuminya leher dan dada Axel. Ditinggalkannya jejak-jejak indah berwarna merah.
"Nakal sekali," ucap Axel tersenyum.
Rowena menatap Axel, "Kau tergoda?" tanya Rowena.
Rowena mengusap-usap dada bidang Axel. Berusaha membangkitkan gairah Axel.
Axel hanya diam, Rowena kembali mencium dan membuat jejak, bahkan sampai ke perut Axel. Rowena tersenyum puas melihat hasil karyanya.
"Lihatlah, karyaku sungguh indah." kata Rowena.
"Terus saja memancingku. Aku akan membalasmu," jawab Axel.
"Ayo, balas saja. Aku menantikannya," sahut Rowena.
"Sesuai keinginanmu," kata Axel berbalik menyerang.
Axel mengubah posisinya menindih Rowena. Tanpa membuang waktu, Axel langsung menciumi leher Rowena. Ciuman turun ke perut.
Sebelumnya, Axel sudah banyak membuat jejak di punggung sampai pinggang Rowena. Kini ia membuat jejak di perut Rowena. Perlakuan Axel begitu lembut, membuat Rowena tak berhenti bersuara sexy. Tangan Axel perlahan merayap ke punggung Rowena, ia membuka pengait pakaian dalam milik Rowena. Ditariknya perlahan pakaian dalam bagian atas milik Rewena sehingga bagian dada Rowena terekspos.
Axel tertergun sejenak, ini pertama kalinya ia melihat milik wanita. Sebelumnya ia tidak menyentuh wanita manapun. Axel melirik arah Rowena, Rowena menatap Axel, mengusap rambut Axel.
"Kenapa?" kata Rowena.
Axel menggeleng, ia langsung memeluk Rowena. Ia mencium kening dan Pipi Rowena, dan menutupi tubuhnya dan tubuh Rowena dengan selimut.
"Aku tidak bisa lebih jauh lagi. Jangan paksa aku," lirih Rowena.
Rowena kaget, "Kau tak ingin melakukannya?" tanya Rowena serius.
"Tentu saja ingin. Akan aku lakukan jika sudah tiba waktunya. Tidak untuk saat ini, cukup sampai di sini kegilaan kita." kata Axel menyakinkan diri.
"Pria ini, dia bahkan hanya membukanya tanpa menyentuhnya. Ia hanya memberikan jejaknya di punggungku juga perutku. Jika pria lain mungkin aku akan habis dimakan," batin Rowena.
Rowena tersenyum, ia mencium pipi Axel dan berbisik. "Terima kasih. Aku semakin menyukaimu," bisik Rowena memeluk Axel.
Axel kembali mencium puncak kepala Rowena, "Tidurlah," kata Axel.
Rowena menutup matanya dan terlelap tidur dalam pelukan Axel. Begitu juga Axel yang juga terlalap tidur.
***
Keesokan harinya. Rowena bangun awal, ia melihat Axel masih terlelap tidur. Diciumnya kilas lembut bibir Axel. Ia pun segera bangun untuk menyiapkan sarapan untuknya juga untuk Axel. Rowena berjalan memungut pakaiannya juga pakaian Axel yang ada di lantai. Ia segera berjalan ke luar kamar.
***
Di dalam kamar mandi, Rowena berdiri di depan cermin. Ia melihat jejak-jejak merah yang dibuat oleh Axel, ia berbalik dan melihat punggungnya. Di punggung sampai pinggang juga ada jejak yang sama.
Rowena tersenyum, "Dia tidak seburuk yang aku pikirkan," gumam Rowena tersenyum.
Rowena segera mencuci muka dan menggosok gignya. Setelah selesai ia segera berganti pakaian dan bergegas ke dapur untuk membuat sarapan.
Di dapur, Rowena mulai sibuk. Ia mengenakan apron dan mengikat rambutnya ekor kuda. Sarapan yang lezat akan disiapan spesial oleh Rowena untuk Axel.
Saat memanggang roti, Rowena di kejutkan oleh Axel yang memeluknya dari belakang. Axel mencium tengkuk leher Rowena dan mencium pipi Rowena.
"Aku mencarimu," bisik Axel.
"Kenapa mencariku? kau butuh sesuatu?" jawab Rowena berbalik menghadap Axel.
Rowena melihat Axel masih bertelanjang dada. Leher, dada dan perut Axel penuh tanda darinya. Melihat itu Rowena menjadi tersipu, ia merasa jika dirinya sungguh sangat liar dan gila semalam.
"Sungguh gila, aku membuatnya seperti ini. Tidak hanya leher, dada dan perut, aku bahkan membuat banyak jejak di punggung sampai pinggangnya juga. Memalukan," batin Rowena.
Axel melihat Rowena melamun, "Hei," panggil Axel membubarkan lamunan Rowena. "Apa yang kau pikirkan, sayang?" tanya Axel mesra.
Rowena menggeleng, "Tidak ada apa-apa," jawab Rowena.
"Ada apa?" tanya Axel lagi.
"Kenapa tidak pakai pakaianmu?" tanya Rowena.
"Kenapa? kau malu melihat karyamu sendiri? luar biasa, bukan? tidak hanya satu, dua jejak. Aku bahkan tidak bisa menghitung keseluruhannya," jawab Axel.
"Bukan aku," elak Rowena, kembali berbalik membelakangi Axel.
"Jika bukan kau, lalu siapa? apa ada Rowena lain selain dirimu yang tidur di tempat tidur yang sama denganku?" kata Axel.
Axel melihat beberapa jejaknya di punggung Rowena. Ia pun menggoda Rowena. "Karyaku boleh juga, jejak yang kecil merah sempurna," bisik Axel.
"Pergilah, jangan ganggu aku!" kesal Rowena.
Rowena merasa malu, juga kesal. Ia tidak senang digodai Axel, dan meminta Axel untuk pergi dari dapur.
Axel membuka lemari pendingin, ia mengeluarkan susu dalam botol. Axel menyiapkan panci di atas kompor, ia menyalakan pemantik kompor lalu menuang susu dari botol ke panci untuk dihangatkan.
"Biar aku saja," kata Rowena saat melihat Axel menuang susu dari botol ke panci.
"Tidak apa, aku ingin melakukannya. Oh, apa kau tidak kembali pulang? aku tidak akan menambah masa liburmu," kata Axel.
"Aku tahu. Kau sangat perhitungan dan tidak mau merugi. Nanti aku kembali untuk berpamitan pada Kakak," jawab Rowena.
"Berpamitan?" gumam Axel mengernyitkan dahi.
"Aku tidak ingin libur. Aku ingin di sini," kata Rowena tersenyum.
"Hah? apa kau yakin? jangan bilang aku jahat ya, tidak memberimu libur. Kau sendiri yang tidak mau pulang," kata Axel.